Menceritakan semua tentang cita, cinta dan petualangan hidup.

Minggu, 17 Juni 2012

Sebuah Pengakuan

Ceritanya, once upon a time...

Bukan once upon a time sih, biar keren aja ada bahasa Inggrisnya di depan
yaudah, cerita deh yang sebenernya.  Gini nih, mau curhat hari kemaren sampai sekarang kok ngga bener ya?

Hari Kemarin, tepatnya Sabtu16 Juni 2012, setelah menjatuhkan tumpukan sepatu di suatu mall  dan saya kabur begitu saja *eh dan satu lagi (satu atau berapa ya, lupa) lagi-lagingejatuhin beberapa jaket masih di lokasi yang sama. Apa yang saya lakukan? YA! Kabur lagi -_____-

mungkin ini akibat dari yang ijinnya mau berangkat keperpustakaan, malah main ke mall. huaa maap, ini makanya aku share. #sebuahpengakuan

Udah ah, pengakuan singkat aja. Banyak kejadian yang lebih parah lagi dan aku gamau cerita. Cukup!

***

ada satu lirik lagu lama yang lumayan asik, bikin semangat musiknya, tapi engga dengan liriknya *eh
check it out! (lagi-lagi berasa keren bisa pake bahasa Inggris)



Jalanmu Bukan Jalanku
Andra and Thebackbone

Tak bisakah kau lihat diriku
Tak cukupkah bahasa tubuhku
Katakan padamu
Bahwa ku t'lah bosan

Tak bisakah kau baca hatiku
Tak bisakah kau baca hatiku
Bahwa diriku tak menginginkanmu lagi
Diriku kini tak menginginkanmu lagi

Katakan padamu
Bahwa ku tak tahan

Kini ku tak mampu lagi
tuk ikuti caramu
Hanya membuatku sakit hati
Kini ku tak mau lagi
Jalanmu bukan jalanku
Dan kau t'lah memilih

Kau t'lah memilih

Tak mudah bagiku untuk
Meninggalkan dirimu
Tapi ku tak tahan lagi
Denganmu oh denganmu

Kini ku tak mampu lagi
ikuti caramu
Hanya membuatku sakit hati
Kini ku tak mau lagi
Dan kau t'lah memilih

Selasa, 12 Juni 2012

kamu bahagia, aku juga


Teruntuk seseorang yang aku tinggalkan demi-Nya

Sayang,
Ketika aku ingat dirimu, sedikit sakit rasanya, tapi tak apa, asalkan kamu bahagia..
Tau kah kamu? Sejak saat itu aku berharap kamu akan menunggu waktunya datang dan membuktikan bahwa kamu tulus mencintaiku karena Allah. Masih ingatkah kamu? Saat-saat aku sedang bimbang bagaimana baiknya ini. Saat itu temanku berkata, “Nah, dari situ kepercayaan satu sama lain diuji. Kalau jodoh ngga akan kemana.” Aku semakin yakin untuk memutuskan, kalau kamu sayang aku tulus, pasti tak akan kemana.

Namun, ketika kamu malah memilihnya disaat jalanku seperti ini. Aku tak ada pilihan lain. Aku hanya bisa memastikan kamu akan jauh lebih bahagia bersama orang itu, karena dia lebih daripada aku. Hal yang terpenting sekarang aku tau kalau ternyata selama ini kamu kurang tulus sayang aku, melainkan dia. Alhamdulillah, Allah ngasih tau aku sebelum kita bener-bener saling berkomitmen lebih jauh lagi :)

Aku tau dia, dia lebih baik untukmu. Karena jelas, dia mencintaimu melebihi aku mencintaimu. Walau jujur, aku juga mencintaimu, tapi aku terlebih mencintai Allah yang ternyata Ia belum mengijinkanku untuk memilikimu sampai suatu saat nanti ada ikatan resmi di antara kita. Saat setiap pertemuan kita telah dihalalkan oleh-Nya. Bukan malah menggerakan argometer dosa ditiap detiknya.


Aku di sini masih menanti, entah siapa yang akan ku nanti. Karena aku belum berani mengambil jodoh yang masih di tangan Tuhan itu. Aku takut, hehe. Takut tak bisa sebaik kamu dan takut tak bisa sepaham kamu dulu. Karena selama ini tak pernah ada konflik. Aku juga heran kenapa ngga ada berantem-berantemnya, hihi. Eh, tapi aku yakin. Pasti ada yang lebih darimu, walau aku tak tahu siapa itu. Seperti katamu saat itu, “wanita baik untuk lelaki yang baik, begitu pula sebaliknya.”

Aku mau baik-baikin diri dulu ya. Aku mohon doanya aja semoga beneran bisa jadi orang baik dan istiqamah dalam menjaga hati sampai saatnya nanti. Sampai saatnya aku dan suamiku yang sekarang namanya masih tercatat di lauhul mahfudz telah diresmikan, kelak :)
biar bisa dapet suami lebih dari kamu, amin :D

Dari aku yang hanya ingin memastikan kamu bahagia.

Kamis, 05 April 2012

Memories of Dieng


Gambar: blog.travelpod.com

Kurang lebih 2 tahun silam lamanya, saya dan beberapa teman (Ayu, Anche, Iqbal, Yoyo, dan Teguh) mengikuti Jambore Nasional Pencinta Alam yang dilaksanakan di Dieng. Masalah tanggal saya sedikit lupa karena kebetulan netbook tempat menyimpan segala macam memori  seperti dokumentasi foto, dll sudah lenyap. Cukup lama acara tersebut berakhir, akan tetapi kenangannya masih terukir dalam di sini, iya, dalam hati ini.
Waktu itu, udara Dieng bisa disebut kurang bersahabat. Disaat kami harus bermalam di hutan yang sudah disediakan, saat itu kami mendapat kapling sedikit di bawah. Well, jika terjadi hujan kami akan terkena air mengalir dari atas. Malam harinya Dieng mulai menunjukan “ketidakbersahabatannya”. Bukan, bukan tidak bersahabat. Namun, Dieng mengingatkan kami agar selalu siap disegala kondisi. Kemudian hujan turun lebat, tenda (dome) yang kami dirikan ternyata bocor. Akhirnya kami harus tidur disambi sedikit “berenang”. Alhasil saya tidur menggigil luar biasa dikarenakan sleeping bag yang saya gunakan tak cukup melawan dinginnya suhu Dieng. Luar biasa, malam yang luar biasa.
Pagi harinya ternyata berkebalikan dengan malam. Udara bersih Dieng sangat memanjakan sistem pernafasan dalam tubuh, ditambah berhemat waktu karena tidak harus mandi :)
Udara Dieng sangat bersahabat, saya senang ketika menghembuskan nafas dan muncul gas-gas itu walaupun hari sudah menjelang siang.
Singkat cerita, anggap saya sudah bercerita selama 2 hari, nah di sini puncak acaranya. Sedih, senang, bahagia, dan kecewa ada di sini. Hari ini hari ke 3 kami berkemah, dihari ini kami mengikuti Lomba Lintas Alam Dieng. Tiba dipuncak acara, kami salah mengambil start, kami mendapat giliran pertama untuk berlari melintasi alam Dieng. Hujan lebat mengikuti langkah kami, kami yang hanya berbalut kaos oblong peserta Jambore ini tentu tidak mampu membentengi hawa dingin dataran tinggi Dieng. Bukit demi bukit, gunung demi gunung kami mencoba berlari demi mendapat juara lintas alam yang kurang lebih berjarak 7km. Namun,
                “Deg...”
Langlahku melemah, kaki ini terperosok salah satu lubang di bukit itu. Seseorang menolong dan dengan keadaan yang sudah lemah ini mencoba bangun, hingga akhirnya...
                “Ay, Che, aku nyerah, ngga kuat lagi,” ujarku dengan nafas yang sudah sangat sesak.
                “Kenapa nyerah? Ayolah nggi, katanya kita mau juara.” Balas Ayu
                “Maaf Ay, aku bener-bener ngga kuat.” Egoismeku keluar, tanpa saya sadari kalau saat itu saya telah mengecewakan teman-teman saya.
                “Ayolah Nggi, bergerak pelan-pelan, ngga menang nggapapa, yang penting sampai.” Jawab Ayu dengan nada bicara sedikit menurun.
                “Iyaa”
Kami pun melanjutkan hingga ke pos terakhir, walau sempat tersesat beberapa menit. Kami tau kami akan kalah, namun tetap meneruskan perjalanan berharap ada keberuntungan.
***

Dari peristiwa tersebut, saya benar-benar menyesal. Kenapa saya menjadi pribadi yang lemah saat itu. Saya berterimakasih banyak kepada sahabat saya, Ayu Retno Ningsih dan Anggun Ratna Asih yang terus meng-support saya, walau kamu tau kalau aku menyecewakan. Maafkan Anggi teman, Anggi amat menyesal. Kemudian setelah kejadian ini, saya merasakan pelajaran yang amat berharga dari arti persahabatan, arti tanggung jawab, dan arti perjuangan. Terimakasih, Sobat.

Puisi Terakhir, Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah, 
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza, 
Tetapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu 
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi 

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang 
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra 
Tapi aku ingin mati disisi mu manisku 


Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya 
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu 
Mari sini sayangngku 
Kalian yang pernah mesra Yang pernah baik dan simpati padaku 
Tegaklah ke langit luas Atau awan yang menang 

Kita tak pernah menanamkan apa-apa 
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa 

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahir 
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda 
Dan yang tersial adalah berumur tua 

Berbahagialah mereka yang mati muda 
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada 
Berbahagialah dalam ketiadaanmu 

(catatan seorang demonstran)

Senin, 12 Desember 2011

Malaysia? Musuh kita? sama sekali BUKAN!

just copy-paste, tapi banyak manfaatnya gan
ambil positifnya :)

"Refleksi" Terima Kasih Malaysia
(Copy dr: BhMordan, Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Timur)

Terima kasih Malaysia telah mengajari kami menghargai budaya bangsa kami sendiri (batik, reog ponorogo, rasa sayange) apabila tanpa pengakuan kalian Negara kami tidak akan pernah menghargai budaya sendiri karena pemudanya disibukkan dengan kebanggan budaya luar.


... Terima kasih Malaysia telah menyediakan ribuan lapangan pekerjaan (TKI) disaat kami tidak bisa menyediakan lapangan kerja yang layak bagi saudara-saudara kami (perlakukan mreka dengan lebih layak yah)


Terima kasih Malaysia telah memberikan tontonan yang mendidik bagi anak-anak kami (upin-ipin) disaat TV kami sibuk memberikan tontonan yang tidak layak. (Sinetron tak jelas)


Terima kasih Malaysia karena telah memberi kami pelajaran arti sebuah sejengkal tanah Negara kesatuan (daerah perbatasan, sipadan ligitan) Mungkin tanpa kalian pemerintah kami tidak akan pernah memperhatikan nasib-nasib daerah perbatasan dan saudara kami di perbatasan.


Terima Kasih Malysia telah memberikan kami pelajaran arti sebuah kegagalan, arti tidak meremehkan lawan, menerima kekalahan dengan sportif, mengakui kemenangan lawan dengan jantan, arti sebenarnya sebuah pertandingan (AFF & seagames)walaupun harus dibayar mahal dengan korban nyawa (turut berbela sungkawa).


Kita terlalu bangga dengan anggapan bahwa Malaysia dulunya belajar dari Indonesia, Tapi jaman sudah berubah Pak Guru yang Cuma tamatan SPG/Sekolah Pendidikan Guru (Indonesia) memiliki murid (Malaysia) 30 puluh tahun yang lalu, sekarang Pak guru masih menjadi Seorang Guru yang mulia tetap dengan pendidikan SPGnya dan sang murid telah meraih gelar Doctornya. Kita seharusnya banyak belajar dari Malaysia



"Tambahan dariku: Terima kasih Malaysia, karena saat semuanya hanya peduli dengan kepentingan masing-masing. Rasa nasionalis kami kembali tinggi saat Indonesia diusik oleh Malaysia