Menceritakan semua tentang cita, cinta dan petualangan hidup.

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

Love Papa

Ini kisah tentang seorang gadis kecil yang kini sedang tumbuh dewasa, sebut saja Aya. Nama yang cantik dan polos pas untuk menggambarkan dirinya. Aya kecil mungkin tak jauh berbeda dengan saat ini. Dia masih suka bercanda polosnya anak-anak, walau umurnya saat ini menginjak 19tahun.

Aya pernah bercerita masa-masa kecilnya bersama beberapa orang yang ia cintai, salah satunya adalah Papa.

Tepatnya 14 tahun silam, dia akui bahwa tahun itu mungkin tahun terakhirnya mengenal sosok seorang Papa. Jadi ingat saat ia memberikanku selembar kertas yang dalamnya berisi pesan untuk Papa.

Dear Papa,

Ingat kah dirimu waktu itu?
Saat kita bermain bersama, saat Aya pertama kali diajak naik motor barumu. Ingat kan, Pah? 
Saat itu betapa bahagianya Aya sebagai seorang gadis kecil yang bisa naik motor. Saat kau pergi sebentar meningalkan Aya yang masih di atas motor ini. Aya penasaran Pah, Aya ingin mencoba melakukan gerakan yang pernah Papa lakukan. Aya coba menggerakan stang dan coba tancap gas. Aya tak tau, ternyata mesin motor itu belum dimatikan. Ingatkah apa yang terjadi setelah itu, Pah?
Iya, Papa mencoba menarik motor yang berlari kencang itu agar berhenti. Tapi sayang, bukan Aya yang Papa selamatkan saat itu. Akhirnya Aya harus terlempar dari motor dan merasakan semua itu, sakit Pah, tapi Aya bingung mau nangis gimana, takut Papa marah. Awalnya Aya sedih kalau inget kejadian itu, tapi Aya sekarang bersyukur karena Aya jadi sempat merasakan yang namanya "terbang", "terjatuh", dan akhirnya...
-cukup Pah, Aya tau Papa pasti punya niat baik.
dan akhirnya Aya ngga takut untuk terluka dan terjatuh lagi :)

Ingatkah dirimu waktu itu?
Saat kau ajarkan aku berenang. Kau sungguh baik, Pah. Kau latih Aya yang masih balita saat itu untuk berenang. Kau tinggalkan Aya di tengah kolam orang dewasa. Awalnya takut, nafas mulai sesak, teriak ngga bisa. Tapi alhamdulillah saat ini Aya bener-bener ngerasain manfaatnya, Pah. 
Aya udah ngga takut lagi kedalaman lagi :)  

Ingatkah dirimu waktu itu?
hehe Aya bingung, terlalu banyak kenangan diantara kita. Walau  waktu kita bersama  ngga sampai 5 tahun, dan kini Papa sudah berada di sisi yang lain. Hati-hati di sana ya Pah, jaga diri baik-baik. Aya kangen, Papa...


Senin, 30 Juli 2012

Ceritaku Diawal Ramadhan


Masih bisa menghembuskan nafas hingga detik itu aku sangat, sangat, dan sangaaaat bersyukur. Karunia Allah memang tak pernah usai. Hari itu H-1 ramadhan, tepatnya Kamis 19 Juli 2012, udah banyak yang melakukan puasa hari ini terutama yang mereka saudara-saudaraku yang menganut mahzab Muhammadiyah tapi aku sendiri baru akan melaksanakan shalat terawih perdana malam ini :)
Rencananya sih, pagi ini kuliah seperti biasa, terus pulang sekitar jam 13.00 WIB lanjut rapat terus jam 15.00 WIB ngajar sampai jam 17.00 WIB abis itu melakukan perjalanan menuju kotaku Kebumen untuk melaksanakan terawih perdana dan biarin bisa sahur perdana juga.
Namun, rencana Allah lain. Aku telat ngajar, jam 15.30 WIB baru mulai ngajar eeeh selesainya pun mundur. Ditambah ini anak ngajakin ngobrol terus dan ibunya juga. Huaa jadi, pukul 17.30 WIB aku baru selesai itu artinya kurang dari 15 menit lagi sudah memasuki maghrib. Nanggung banget kan? Yaudah, aku langsung menunggu maghrib selesai. Habis selesai maghrib, aku tetep pada tekat awal. Walau tak bisa terawih perdana di rumah, aku masih bisa sahur perdana di rumah. Heeey Mom! I’ll back home :D
Dugaanku tepat, akhirnya adzan Isya memanggil, aku parkirkan si biru silver ini di parkiran masjid Al-Amin, Kulonprogo. Aku mampir shalat Isya sekaligus terawih perdana di sini. Iseng-iseng berhadiah, aku kenalan sama ibu-ibu, bukan aku sih yang minta kenalan. Tapi ibunya yang awalnya ngira kalau aku ini tetangga rumahnya yang masih anak SMP. Hah? Anak SMP? Maaf bu, mukaku jauh, jauh lebih tua, hehe.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul sampai ibunya menceritakan seorang anak laki-lakinya yang baru lulus dan kini sudah bekerja tapi belum mendapatkan istri (semoga bukan modus) akhirnya masuk waktu sholat. astaghfirulloh, seharusnya waktu menunggu sholat ngga buat ngobrol ya. Tapi apa daya, musafir seperti saya kalau ngga ngobrol ya krik krik banget di wilayah orang. Eh, tetep ngga boleh ding ya. Astaghfirulloh, maaf^^
Selesai tarawih sekiranya pukul 20.30 WIB, menurutku biasa aja sih. Tapi aku dibujuk buat nginep di rumah ibunya aja, tapi afwan bu, bukannya ngga mau, tapi ngga enak hati buat merepotkan ibu. Tapi aku masih inget kebaikan ibu kok. Terimakasih atas tawaran menginap dan kunjungannya teruntuk Ibu Teguh seorang guru matematika di SMA daerah Kulonprogo, lupa nama SMA-nya apa. Tapi suami beliau juga seorang guru di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Apal banget kan? Yaiyalah apal, itu kan deket tempat bimbel aku ngajar, hehe
Si biru silverku yang aku namai Mr.K emang paling setia. Sudah lebih dari 7 tahun mengabdi padaku. Kemanapun dan kapanpun dia pasti mau aku ajakin kemana-mana. Udah ada feeling sejak pertama aku memilihnya *eaaa.  Heh, iki cerita serius ki. Malem itu juga aku berangkat dari kulonprogo, prediksi nyampe Kebumen sih 2 jam, jadi harusnya aku jam 22.30 WIB udah sampai home sweet home. Dan apa yang terjadi? Malem itu kok berasa rame, aku emang ngga sendirian, aku bersama Mr.K dan ditemani malaikat-malaikat Allah. Eh, tapi serius ki. Malem itu ngga sepi kayak malem-malem sebelumnya. Biasanya kan cuman bis dan truk lewat, malem itu banyak kendaraan pribadi nemenin perjalanan ku loh! Ya ngga sepanjang itu juga sih tapi ya itu dah (cerita opo jane ki)
Ah, udah ah! Pokoknya akhir cerita aku sampai di Kebumen pukul 22.00 WIB, lebih ngebut dari biasanya. Karena jujur aku laper, paginya udah makan sih tapi kan siang sampai sore sampai malem belum. Mau beli makan di jalan tapi ntar ngga bisa isi bensin. Duh, pokoknya malem itu dilema banget. Akhirnya duit yang buat beli makan aku beli buat beli bensin, huaa laper (kenapa curhat -_-“ )
sumber gambar: imagecent.com

Eh, lupakan lupakan. Singkat cerita, akhirnya sesampai di rumah tercinta aku bisa isi perut dan sesuai keinginanku, aku bisa sahur perdana di rumah. Hore.. bahagia banget, sumpah deh :D

Sabtu, 16 Oktober 2010

Harmoni Ramadhan


Sesaat ketika gadis yang kini telah tumbuh dewasa ini mulai jauh dari rasa bersyukur akibat broken home. Ia mulai mencoba mengingat kembali masa dua belas tahun silam, saat gadis yang dulunya kecil ini mulai belajar mengenal ramadhan dan puasa. Namanya, Aya, seperti halnya anak-anak umur lima tahunan wajar saja kalau puasa rasanya masih ganjil.
“Namanya juga anak-anak”, ujar Ibu yang membelaku saat dimarahi Bapak.
Malam harinya, tibalah waktunya Aya untuk mengenal tarawih, dan Mama mengajak Aya menuju Masjid dekat rumahnya yang waktu itu masih berada di komplek perumahan GL.  Dengan menggunakan mukenah baru yang Papa belikan, menambah semangatnya untuk pergi ke Masjid sembari pamer ke teman-teman. Setelah itu pintu rumah dikunci, karena Papa tak pulang.
Setiba di Masjid, Aya menaruh sandal kecilnya di sembarang tempat. Bertumpuk dengan sandal-sandal besar yang lain. Aya pun khawatir dengan keadaan sandal kecilnya itu. Setelah adzan sholat Isya dikumandangkan, dan Aya pun mulai mengikuti setiap gerak gerik yang iman dan orang-orang itu lakukan. Sembari sesekali Ia lihat kebelakang, melihat tumpukan sandal-sandal itu. Akhirnya tarawih pun dimulai, Aya masih aktif mengikuti gerak-gerik iman dan orang sekitarnya. Walaupun sesekali menengok kebelakang karena khawatir dan cemas dengan nasib sandal kecilnya itu. Rokaat, demi rokaat terus berlanjut. Tiba-tiba, Aya melihat seorang anak kecil sebayanya memakai sandal yang mirip sekali dengan miliknya, Aya curiga! Aya merengek, Aya mengadu pada Mama yang sedang sholat. Namun tak direspon, lalu Aya pun menangis tapi tangisannya juga tak direspon. Setelah salam Mama baru merespon, betapa kesalnya dia.
“kenapa nak? Jangan menangis, malu sama yang lain”, respon Mama setelah mendengarku menangis.
“lagian mama daritadi nggak dengerin! Kenapa sih mama diem aja?”, jawabnya dengan emosi sambil menangis tersedu-sedu.
“iya nak, kalau lagi sholat itu harus khusu, jangan menoleh kanan kiri, pusat pikiran mama juga lagi menghadap Alloh, apalagi ini sholat tarawih yang hanya ada pada bulan ramadhan, jadi kesempatannya sangat langka sayang”, jawab Mama sambil tersenyum.
“oh, tapi kan bisa sebentar mah, bantuin Aya ngambil kembali sandalnya Aya itu”, sambungnya dengan kata-kata polos.
“tetap tidak boleh, biarlah dia ambil sandal kamu mungkin belum rezekinya ya sayang, kamu harus berlatih sabar dan sholat yang khusu, biar Alloh tambah sayang sama Aya, okey?” ujar Mama memberi nasihat.
“emmm, okelah mah”, jawabnya menyetujui.
***
Pagi harinya kala mentari belum terbit, mata kecil itu sudah terbuka penuh semangat untuk merasakan yang namanya ‘sahur’. Saat itu di meja makan terdengar beberapa patah kata dari Aya dan Mamanya
“mah, kapan Papa pulang? Aya pengen sahur bareng Papa!”, tanya Aya serentak makan nasi seadanya.
“iya nak, besok bapak pasti pulang kalau kamu bisa puasa genap satu hari”, jawab Mama sembari memberinya semangat.
“benar mah? Oke Aya bakal puasa satu hari penuh!”

Selalu dan selalu penuh puasaku demi bertemu Papa yang selalu Mama janjikan. Tapi hari demi hari belum juga datang, hingga suatu hari…….
“mah, Papa udah ngga sayang lagi ya sama Aya? Kenapa Papa ngga pernah pulang? Padahal Aya liat tiap kali kita mau berangkat tarawih, Papanya Mia juga selalu ikut buka bersama keluarganya. Aya iri, mah!”, ucapnya dengan muka muram.
“hush, Aya nggak boleh bilang gitu, Papa pasti sayang sama Aya, tapi Papa sekarang harus kerja buat beli baju lebaran. Besok Papa pasti pulang kok, tunggu kamu puasa genap satu bulan. Yang sabar ya nak!”, ucap Mama menutup-nutupi ketidak hadiran Papa.
Tiap kali Aya lapar, dia tahan demi bertemu Papa. Terkadang berharap lupa kalau hari ini aku puasa, karena kata Mama hal itu dimaafkan oleh Allah jika benar-benar lupa, sayangnya ia selalu ingat. Merengek, menangis, dan menjerit kelaparan saat hampir buka puasa, tapi tetap saja tak mau jika puasanya berhenti.
***
Sampai tiba malam hari raya, dan ternyata puasanya benar genap satu bulan. Aya menepati perjanjian dengan Mamanya, kini waktunya menanti harapan yang selalu Ia impikan yaitu hari raya bersama keluarga, Papa dan Mama.
Dia tunggu terus menunggu, dan waktu sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Suara gemuruh takbir hari kemenangan sudah dikumandangkan. Namun Papa belum kunjung datang, dan gadis kecil itu mulai cemas. Sudah hampir jatuh air matanya,
Tiba-tiba…
Tok, tok, tok…
“assalamu’laikum”, terdengar suara laki-laki dari luar rumah.
“pasti itu Papa! Aya yang bukain pintu ya, Mah!” teriakan Aya dengan semangat sembari menghapus air mata yang terlanjur mengalir dipipi karena telah lama menanti Papa pulang.
Ketika tangan kecilnya mencoba membuka pintu sembari berdo’a berharap bahwa yang ada dibalik pintu itu benar Papa. Setelah ku bukakan pintu itu….
 Alhamdulillah, Papa benar pulang, dan Mama tak berbohong. Aya senang puasanya tak berakhir sia-sia. Papa dan Mama pun bangga padanya.  Hingga akhirnya hari raya benar-benar bersama keluarga yang sangat jarang Ia temui.
“Alhamdulillh ya Allah, engkau memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, engkau memberikan Aya  hadiah terbaik di hari yang fitri ini. subhanallah”, ucapku dalam hati sambil memeluk Papa dan Mama.
Mengingat hal itu, Ia amat bersyukur dan selalu menanti ramadhan tiba. Walau keharmonisan sudah tak pernah kunjung dikehidupannya, namun ramadhan mengubahnya. Hari terindah dan paling spesial yang Ia miliki, hari berkumpul keluarga yang sangat sangat teramat jarang Ia temui, adalah ramadhan. Terimakasih ya Allah :)


By. Anggia Zainur Rahmah

Sabtu, 13 Juni 2009

Rinjani, dan Arti Sebuah Kehidupan


Ketika aku mulai merenungi kehidupan, merasakan kegelisahan hidup, dan kebimbangan. Sempat berfikir, ”mengapa Tuhan menciptakanku?”. kegelisahan itupun berlarut-larut aku rasakan, menanti datangnya keindahan dan mengerti apa arti kehidupan.
Aku di sela-sela kecil kehidupan, sebagai anak dari kedua orang tuaku yang tak luput dari kesalahan. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Semakin umurku bertambah, semakin aku merasa kehilangan kasih sayang mereka. Hingga suatu hari aku merasakan bahwa kasih sayang mereka benar-benar pudar. Menjadikanku sebagai debu putih yang berterbangan kesana kemari tanpa arah. Disitulah aku mencoba memulai perjalanan hidupku tanpa mereka.
Langkah demi langkah, ku lalui jalanan yang pahit tanpa mereka. Awalnya memang begitu menyakitkan. Namun, setelah aku pikirkan kembali semua itu tak seburuk yang ku bayangkan. Jalan-jalan aspal telah ku lalui dalam kesendirian, hanya berbekal tas berisikan pakaian beserta perlengkapan seadanya yang ku bawa untuk bertahan hidup. Hingga dikemudian hari, di persimpangan jalan aku melihat sesosok misterius berpostur tubuh tinggi ideal, dengan tampang lumayan menuju ke arahku.
”Ya Tuhan, apakah itu malaikat yang akan menjemputku, secepat itukah?” pikiranku menuju hal-hal aneh.
Tiba-tiba sosok misterius tersebut mendekat dan menyapaku. Oh, betapa bahagianya aku, ternyata Tuhan masih memberiku kesempatan hidup. Rhefan, itulah orang yang pertama kali menyapaku dan mempersilahkanku untuk berkunjung ke basecamp-nya. Guncang pikiranku, bimbang perasaanku.
”haduh, ini semua engga bener!” perkataanku dalam hati.
Ternyata sesosok tersebut bertambah menjadi beberapa sosok, tiba-tiba dua sosok pria muncul. Danu dan Hendra, mereka bersama dengan Rhefan, yang kemudian mengajakku berbincang-bincang sekedar obrolan kecil. Sambil melepas lelah, dan beristirahat sejenak, saat itu pula aku mulai menceritakan kejadian yang terjadi dikehidupanku sehingga aku bisa sampai di hadapan mereka.
Setelah mereka mengetahui jalannya kejadian yang aku alami tersebut, ntah karena simpatik mereka, maupun alasan lain, mereka mengajakku untuk bergabung dengan mereka. Terlihat dari bawaan mereka, yaitu sebuah ransel yang cukup besar dan nampaknya cukup berat. Aku sendiri awalnya kurang yakin dan kurang mengerti apa yang akan ku lakukan sesudah itu, namun mereka senantiasa membantu dan memberiku pengarahan tentang apa yang akan mereka lakukan.
”kita akan melakukan expedisi ke Gunung Rinjani, yaitu salah satu tempat yang begitu menakjubkan di Indonesia tercinta ini, tempat tersebut dapat membuat pikiran kita tenang dan tempat yang tepat untuk merenungi kehidupan” Rhefan memberikan informasi sekaligus memberikan motivasi kepada teman-teman beserta aku yang kurang yakin bisa mampu melakukan perjalanan tersebut.
Gunung Rinjani setinggi 3.726 meter di atas permukaan air laut, gunung Rinjani ini merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia dengan status gunung berapi yang cukup terkenal di seluruh dunia. Perjalanan ini begitu menantang bagiku. Secara fisik memang aku hanyalah seorang anak perempuan lemah dengan berbagai kekurangan, dan juga aku akui bahwa secara mental aku pun sedang kacau. Namun, untungnya ada mereka yang terus mendorong aku untuk tetap bisa menghadapi semua ini.
”Betapa beruntungnya aku” pikirku begitu.
Hari ini, merupakan hari pertamaku bersama teman-teman baruku, tepatnya Rabu pagi. Hari ini, ku masih dalam tahap latian bersama teman-teman lain. Awalnya memang terasa berat bahkan sangat berat bagiku, seorang anak perempuan yang mengikuti latihan layaknya seorang laki-laki. Namun, demi petualangan itu, demi penemuan jati diriku, aku selalu berusaha, dan berusaha yang terbaik untukku.
Hari-hari aku lalui dengan berlatih dan berlatih. Aku selalu mengikuti setiap latihan tersebut dengan senang hati dan penuh kesungguhan. Demi petualangan itu, demi perjalananku mencari arti sebuah kehidupan. Bersama teman-temanku yang sudah mulai ku percayai, aku yakin aku dapat mencari apa itu arti kehidupan yang sesungguhnya.
Setelah berminggu-minggu aku latihan fisik, aku mulai merasa yakin bahwa aku dapat menaklukan expedisi tersebut. Bersama ketiga teman–teman cowok yang lain, aku memang terkesan nekat sebagai seorang cewek, namun kenapa tidak? Toh itu juga dapat memberikanku banyak pelajaran dan pengalaman mencari sebuah arti nyata kehidupan.
Malam sebelum expedisi tersebut kami menyiapkan peralatan-peralatan yang akan kami gunakan selama expedisi berlangsung. Kemudian, tiba saat untuk beristirahat sebelum expedisi, saat itu aku melihat Danu dan Hendra sudah tertidur lelap. Namun aku bingung, dalam hatiku pun bertanya ”kemanakah Rhefan?”. Entah mengapa pikiranku tak tenang, mataku pun sulit terpejam, pertanda apakah ini?. Aku mulai berjalan ke teras belakang basecamp, belum sampai teras belakang aku mendengar langkah kaki dan suara tangis yang cukup misterius dengan volume yang kecil dan terdengar merintih. Dengan langkah pelan dan berhati-hati aku mulai mendekati teras belakang basecamp, dan tiba-tiba nampaklah sesosok laki-laki dengan mengenakan jaket hitam tebal beserta tutup kepala sedang meneteskan air mata.
”Siapa di sana?” pertanyaanku dengan nada histeris yang mungkin mengagetkan laki-laki tersebut.
Kemudian Laki-laki tersebut membalikan badan dan ternyata sosok laki-laki tersebut ialah seorang Rhefan yang aku lihat dia itu cowok tegar dan tak terkalahkan dapat meneteskan air mata. Aku terkejut melihatnya, aku juga tak habis pikir mengapa ia menangis seperti itu ya? Hatiku pun tersentuh untuk bertanya kepadanya.
”mengapa kau menangis? Apa ada yang salah?”. Tanyaku membuka tempat curhat gratis.
Kemudian dia menjawab ”aku tak apa, hanyalah sebuah kesalahan yang membuatku berada di sini”.
Aku pun tak mengerti dan bertanya, ”maksudnya apa?”.
”kamu ga tau gimana rasanya menjadi aku, semua ini cuma sebuah kesalahan”. Jawabnya dengan nada agak tinggi.
Karena aku pikir dia marah padaku, aku terdiam di sebelahnya. Namun, ternyata dia tidak seperti yang aku pikirkan, setelah dia terdiam sejenak.
kemudian dia bangun dengan senyum di wajahnya sambil berkata,”Lupakan hal tadi, istirahat yuk, besok pagi kita akan melakukan perjalanan cukup jauh menuju Nusa Tenggara Timur”.
Aku pun mengikuti perintahnya, kembali ke dalam basecamp dan melanjutkan istirahat untuk perjalanan besok.
Pagi harinya, tepatnya pukul 05.00 WIB. Kami masih melakukan yang namanya latihan fisik, walaupun kali ini cukup ringan, namun aku tidak menyepelekannya. Pukul 07.00 WIB, kami melakukan perjalanan dari Kebumen menuju Surabaya menggunakan Bus yang memakan waktu yang cukup lama. Namun, perjalanan yang cukup lama tersebut tidak begitu terasa bagiku, dengan celotehan dan canda tawa bersama mereka, perjalanan ini tidak terasa melelahkan. Kemudian, setelah melalui perjalanan dan beristirahat sejenak, sekiranya pukul 13.00 WITA kami meneruskan perjalanan menuju Nusa Tenggara Timur lebih tepatnya yaitu di Lombok menggunakan kapal Ferry. Dalam perjalanan kali ini, jujur aku tidak terbiasa menggunakan kapal, rasanya agak pusing dan mual. Terkesan ’ndesa’ tapi tak apalah, ”namanya juga pemula” aku berkata sambil tersipu malu. Setelah beberapa jam perjalanan, tiba juga kami di pulau yang berbeda, Lombok merupakan salah satu tempat yang menakjubkan di Indonesia, dengan pemandangan exsotis pantainya beserta hiasan air laut begaikan taburan permata. Oh, luluh mataku memandang semua ini. Namun, karna waktu juga yang memisahkan aku dengan pemandangan Pantai Lombok itu. Aku dan kawan-kawan berjalan menuju basecamp di sana, berhubung bis yang menuju Sembalun sudah tidak ada lagi. Terpaksa kami menginap dan beristirahat terlebih dahulu di basecamp tersebut hingga keesokan harinya.
Kemudian, tepatnya pukul 05.00 WITA kami melanjutkan perjalanan via Sembalun. Perjalanan pendakian dimulai. Kali ini kami mengambil jalan masuk dari pintu gerbang Sembalun. Perjalanan kami dari daerah Mataram menuju Sembalun kali ini menggunakan kendaraan khas Lombok. Pada waktu perjalanan pantai Lombok yang begitu indahnya dann pegunungnan dengan sabana terbentang luas sepanjang perjalanan, serta monyet-monyet yang berkeliaran di antara rumput ilalang dan pepohonan. Subhanallah, mataku benar-benar dimanjakan di tempat ini. Kemudian, sesampainya di Sembalun, kurang lebih pukul 11.00 WIB langsung menuju Rinjani Information Center untuk mengurus izin masuk serta mendapatkan tiket masuk Taman Nasional gunung Rinjani. Setelah itu, kami beristirahat sejenak hingga pukul 12.00 WiB kami pun memulai memulai pendakian. Perjalanan pendakian ini kami mulai melalui jalur Sembalun, yang merupakan jalur yang sering dilalui oleh para pendaki lainnya dan juga mereka-mereka yang gemar tracking.
Perjalanan awal aku masih cukup yakin dengan keadaanku kali ini. Melalui gerbang Sembalun yang nantinya akan melewati pelawangan Sembalun hingga menuju puncak Rinjani. Dalam perjalanan ini, jalur yang kami lewati cukup dramatis dan mengesankan. Diperjalanan nampak luas padang savana dengan punggung gunung yang berliku-liku beserta jurang di kanan dan kiri jalur. Memang cukup jalur ini ekstrim, dengan padang savana yang benar-benar mendramatisir suasana. Hamparan rumput ilalang setinggi satu meter dan buisa dikatakan tanpa pepohonan, merupakan ujian yang cukup berat bagiku sebagai pemula, dan memang terkesan sangat nekat. Beberapa meter sudah kami berjalan. Panasny terik matahari yang langsung menembus mengenai tubuh ini. Hingga akhirnya kejadian itu terulang, dadaku mulai terasa sesak, nafasku mulai kembang kempis, dan akhirnya kambuhlah asmaku. Aku terjatuh dihamparan padang savana. Rhefan melihatku yang terjatuh begitu saja, aku merasakan kepanikannya Rhefan lengsung memanggil Danu dan Hendra untuk P3K, untungnya mereka membawa tabung oxygen. Ranselnya pun ia jatuhkan dan meninggalkan ranselku di padang itu, dia pun mengangkatku hingga pos 1, ntah apa yang akan terjadi jika tidak ada dia, aku sangat berhutang budi padanya. Perjalanan ini begitu mengesankan, menjadikann guru kehidupan bagiku. Sejenak kami beristirahat di pos 1, hingga keadaanku membaik. Sial memang, aku hanya jadi beban mereka, pikirku begitu.
Perjalana kami lanjutkan setelah aku benar-benar merasa lebih baik. Hingga pos II yang masih terdapat sumber air, kami memanfaatkan siituasi tersebut untuk mengambil simpanan air untuk bertahan hidup di alam terbuka ini. Hingga pos III anginnya pun menjadi semakin kencang, suhu udara yang tadinya amat panas kini berubah ekstrim menjadi sangat dingin. Akhirnya pukul 21.00 WITA kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah bukit, kira-kira dua jam perjalanan sebelum sampai di pelawangan. Sebenarnya apabila kami paksakan, kami bisa beristirahat di pelawangan yang dekat dengan sumber air. Namun, kondisiku saat ini sendiri sudah tidak memungkinkan unutuk melanjutkan perjalanan, maka kamipun mendirikan tenda dum. Berdirilah sebuah tenda dum untukku, mereka tidur di luar hanya menggunakan sleaping bag. Akupun semakin merasa menjadi beban bagi mereka, sambil merenung sejenak, meneteslah air mataku yang tak kuasa ku pendam dalam-dalam. Mungkin, karena isak tangisku yang terlalu keras hingga terdengar keluar. Kemudian, Hendra memanggilku keluar. Ku hapuskan air mata itu secepatnya, namun ternyata dia masih bisa membaca mataku yang masih berbekas air mata ini.
Dia bertanya padaku, ”kamu kenapa? Ga’ biasanya deh”.
Akupun menjawab,”tak apalah, hanya masalah kecil tentang memahami teman”.
Diapun menawarkan bantuan untuk tempat curhat, dan untuk meringankan bebanku juga akupun mau bercerita dan memintanya pendapat kepadanya. Setelah semua itu aku ceritakan, dia tertawa keras hingga membangunkan Rhefan dan Danu.
”kenapa tertawa?” tanyaku heran.
Diapun menjawab dengan tersenyum, ”jangan kamu berpikiran seperti itu, kami di sini ikhlas membantumu, kami sudah menganggap kau sebagai keluarga kami sendiri kok, kitakan teman, tenang aja yap”.
Danu dan Rhefan pun heran, kenapa Hendra tertawa seperti itu. Hendra pun menceritakan semua yang aku ceritakan. Mereka pun tertawa mendengar itu, jujur aku senang mendengar jawaban Hendra tadi, dan tersipu malu karena mereka menertawakanku. Malam sudah larut, kami pun melanjutkan istirahat kami, aku pun dapat tidur lebih tenang setelah mendengar jawaban mereka.
Pagi harinya kami meneruskan perjalanan menuju puncak. Bagiku expedisi kami ini bukanlah perlombaan, namun untuk piknik, menikmati, dan mensyukuri keindahan ciptaan-Nya. Setiap langkah perjalanan aku anggap sebagai anugrah, karna semakin banyak makna kehidupan yang terdapat di dalam perjalanan ini. Bagaimana aku dapat mensyukuri segala anugrah yang berlimpah ini, rasa syukurku pun semakin tersirat atas nikmat yang Beliau berikan kepada kami.
Sesampainya di Plawangan, mata ini langsung disambut dengan pemandangan yang amatlah luar biasa. Danau Segara Anak ada di depan mata kami. Jauh di bawah sana dan tertutup oleh kabut, terdapat bunga Edelweis yang tumbuh bersebaran dimana-mana karena memang sedang musim mekar.
”Subhanallah!” kata-kata itu selalu muncul dari bibirku.
Akhirnya kami pun merasakan air pelawangan.
”sumpah! Seger banget” Danu pun berkata demikian.
Benar-benar pendakian yang amatlah bermakna bagiku. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak Rinjani itu, kami menuju tempat camp, aku dan Danu mendirikan tenda, sedangkan Rhefan dan Hendra mengambil air langsung menetes dari tebing itu.
”menakjubkan!” terucap dari perkataan Hendra.
Air yang sangat segar dan begitu enak. Tenda kamipun menghadap ke Danau Segara Anak yang sering tertutup kabut. Kami pun beristirahat di dalam tenda tersebut, sambil masak-masak, dan melakukan banyak aktivitas lain. Kami pun semakin membaur dengan alam. Cuaca semakin dingin, dan anginnya pun sangat kencang. Pendakian ke puncak pun akan kami lanjutkan pada pukul dua dini hari untuk menghindari kabut tebal dan angin badai yang biasa terjadi pada siang hari atau pun waktu selain itu.
Setelah beberapa jam terlarut oleh mimpi, tiba saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Tepatnya pukul dua dini hari, dinginnya suhu di sini mencapai kurang dari 9 C, aku mendaki dengan mengenakan jaket super tebal yang anti angin maupun air. Perjalanan mendaki kali ini benar- benar harus super hati-hati, apabila kurang hati-hati ke kanan sedikit saja maka kami dapat langsung terperosok ke Danau Segara Anak, sedangkan apabila kurang hati-hati di kiri jalur terdapat jurang yang sangat dalam. Aku merasa sangat tertantang, sekali saja aku kurang berhati-hati kanan-kiri maut menjemputku. Beratus-ratus meter ke atas kami sudah mendaki, namun bayangan puncak masih belum cukup jelas. Rasa lelahku semakin bertambah, letih pun merasuk di tubuhku, dahaga mengikat tenggorokanku. Entah mengapa, kakiku mulai goyah, perjalanan di atas batu krikil yang cukup licin dan curam. Tiba-tiba, kejadian membawa maut hampir menyerangku, letih yang ku rasa membuat kaki ini goyah, aku terjatuh dan terperosok ke jurang, untung saja ada sebatang pohon tua yang menahanku dan aku pun memegang erat pohon itu, ranselku terjatuh kedalam jurang yang amatlah dalam tersebut. Apabila ini memang takdirku untuk menyusul ransel itu, maka tolonglah hamba-Mu ini Tuhanku, berikanlah kebahagiaan kepada keluarga beserta teman-temanku yang telah mau menerimaku selama ini. Itulah pesan terakhirku. Tanganku mulai tak kuat memegang pohon tua itu. Tiba-tiba, datanglah Rhefan beserta Danu dan Hendra memberi pertolongan. Namun, tanganku benar-benar tak mampu menahan ini semua. Nyaris saja aku terperosok dalam jurang yang sangat dalam itu, aku sudah membayangkan apa nantinya tubuhku yang terjatuh, dan hancur berkeping-keping tergelincir ke bawah. Mujur sekali nasibku ini, Rhefan berhasil menggapai tanganku yang hampir melepas pohon tua itu. Tertolonglah aku, jantungku berdetak begitu kencang karna ketakutanku. Ku kira aku memang begitu beruntung, mungkin karna Rhefan panik juga, dan terburu-buru dia malah terperosok ke dalam jurang itu.
”Rhefan! Rhefan! Jangan tinggalkan kami”. Aku teriak histeris beserta tangis yang amatlah dalam.
Danu dan Hendra pun tak bisa menolongnya. Pikiranku benar-benar kacau, air mataku tak kunjung berhenti. Aku menyesal, mengapa bukan aku saja yang ter jatuh dan kehilangan nyawaku.
”Ya Tuhan, kenapa bukan aku? Kenapa malah Rhefan? Ini semua salahku” teriakanku disertai tangisan penyesalan.
”sudahlah, mungkin semua itu sudah digariskan oleh Tuhan, semua ini bukan kesalahanmu, tenangkanlah dirimu” jawab Hendra yang kasian melihatku terlarut dalam penyesalan.
Perjalanan kami hampir sampai, tetapi kenapa harus ada kejadin seperti ini? Kenapa harus menghilangkan sebuah nyawa. Setelah pikiranku mulai tenang, kami meneruskan perjalanan hingga puncak. Puncak ini menjadi saksi kejadian perjuangan kami yang mengorbankan nyawa. Di puncak ini, aku merenungi kisah perjalanan kami. Rhefan, laki-laki yang pertama kali ku kenal, yang memberikanku motivasi, memberikanku keyakinan akan keberhasilaan, dan pernah menyelamatkan hidupku. Tapi, Rhefan kini telah tiada, semoga dia tenang di alam sana.
”Rhefan, kami berhasil karnamu, kami tak kan samai sini tampamu” teriakanku di puncak Rinjani.
Setelah itu, kami menancapkan bendera Indonesia beserta batu bertuliskan Rhefan, kami menganggap kau abadi di atas Rinjani ini. Perjalanan pulang begitu berbeda, aku merasa sangat kehilangan, air mataku menetes di setiap jalan yang ku lewati. Setelah merenungi kejadian-kejadian yang aku lalui bersama mereka. Rhefan membuat aku mengerti apa itu arti kehidupan yang sesungguhnya. Arti sebuah kehidupan ialah dimana kita dapat berbagi dan memberikan sebuah kehidupan kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan kehidupan.


NB: nii ntu tugas skul yg kudu slese sbelund pngambilan rapot.... hehew
bahagianya bisa nyelesein tugas nii... butuh waktu 3hari.... hehew...^_^