Menceritakan semua tentang cita, cinta dan petualangan hidup.

Tampilkan postingan dengan label penting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Mei 2017

BAGAIMANA MENYELESAIKAN SKRIPSI DENGAN BAIK

Baca judul ini langsung merinding gitu ya bawaannya. Menyelesaikan “skripsi” dengan “baik’. Boro-boro baik, bisa selesai aja bersyukur ya, hehe. Begitulah sedikit jeritan hati dari para mahasiswa tingkat akhir hingga akut. By the way, pada jaman dahulu, saya bukan mahasiswa rajin yang menyelesaikan segalanya dengan baik dan tepat waktu. Hampir semua dosen di jurusan mengenal saya, tapi bagian kurang enaknya, yup, bolosan. Walau pun dalam mind-map saya tidak ada keinginan untuk membolos satu mata kuliah apapun. Namun, memang godaan di luar sana sangat banyak, guys. Finally, saya membuat matriks untuk menyusun strategi di setiap semester. 30% kesempatan absen harus termanfaatkan dengan baik, pikirku. Sehingga saya susun matriks tersebut dengan susunan: mata kuliah dan berapa jumlah jam yang ada. Jika saya berangkat, maka akan saya centang, jika saya ijin maka saya silang. Sehingga saya paham betul tingkat kehadiran saya dan bagaimana saya bisa memanage pembolosan ini. Hingga hampir setiap konsultasi rencana studi, bapak Mustofa, M.Sc., beliau guru pembimbing akademik saya bertanya, “Anggi semester depan mau bolosan lagi?”. “Tidak bapak, saya bukan membolos, saya hanya ijin untuk agenda tertentu”.

Well... Padahal kita ketahui bersama memang prosentase kehadiran menentukan Indeks Prestasi Kumulatif, sehingga predikat Cumlaude sangat mustahil saya dapatkan dengan bertindak seperti ini. Tapi, sekali lagi ini pilihan saya. Saya bukan orang yang terlalu memikirkan hasil, tapi proses. Ini sudah cukup relevan dengan teori aksi dan reaksi, hasil tidak akan mengkhianati proses. Walau jelas IPK dihitung dari rumus kehadiran juga, hehe. Mengikuti kuliah umum di kampus tetangga selalu jauh menarik, berdiskusi dengan para pakar dan praktisi jauh lebih menggoda, dan beberapa agenda dengan Dinas Koperasi dan UKM, Dewan Perwakilan Rakyat DIY, serta kantor pajak sering mewarnai masa perkuliahan saya. Tidak dipungkiri kenapa saya lebih memilih itu kan? Hehe. Dear, seluruh dosen saya, maafkan mantan mahasiswamu yang nakal ini, nggih.

Ok, back to the topic. Menyelesaikan skripsi. Well, saya mahasiswa angkatan 2011, rekan-rekan saya beberapa sudah lulus tepat waktu, Agustus tahun 2015. Sedangkan saya masih terlalu asik berkecimpung di kampus, 2015 masih bahagia mendapat kesempatan study ke negeri para TKI – Hong Kong, mengikuti Humanitarian Affair yang diadakan oleh University Scholar Leadership Symposium. Skripsi? Belum kepikiran sama sekali. Padahal kewajiban kuliah kelas sudah saya selesaikan awal semester 6 tahun 2014, karena saya termasuk rajin mengikuti semester pendek, jadi sering ikut kelas senior hingga kehabisan SKS, di semester 7 tahun 2015 sudah tidak kuliah lagi, hanya jalan-jalan ke Bali yang kita sebut dengan Kuliah Kerja Longholiday (eh, Lapangan). Kemudian, tahun 2016, Februari akhir, usai sudah amanah di organisasi kampus. Tidak ada alasan lagi untuk menghindari satu bendel yang kita sebut, “SKRIPSI”. Walau sudah di sambi main, naik gunung, piknik dan tralala trilili lainnya.

Kemudian satu pesan yang sangat mengena hingga saat ini, pesan Line dari pak Rektor, Bapak Rochmat Wahab, “Anggia, commited dengan hobby dan keahlian perlu terus dijaga, tapi yang jauh lebih penting adalah skripsinya untuk tunjukkan kepada orang tua.” #jlebbb #pakebanget seakan langit runtuh dan daun berguguran.

Mencoba membulatkan tekat bahwa ini tidak main-main. Finally, dosen pembimbing saya mengirim pesan via whatsapp, “Anggi, sudah selesai ya di Kopma? Jadi kapan proposal bisa diajukan?”. Mengusap keringat sambil menjawab, “Segera, Pak”. Beliau pak Aula Ahmad Hanafi Saiful Fikri, M.Sc. dosen pembimbing yang baik awalnya hingga lama kelamaan badmood juga dengan saya. Beberapa hari kemudian saya serahkan proposal, dan... “Ya, besok seminar. Urus kelengkapannya segera”, begitu yang pak Aula sampaikan. “Pak, tapi... ini belum direvisi?”, “Sudah tidak apa, besok juga direvisi dosen penguji”. Singkat cerita benar, saat seminar saya benar-benar dibantai. Pertanyaan demi pertanyaan, coretan demi coretan. Nekat, asli nekat banget. Tapi alhamdulillah terlampaui juga. Beliau lah pak Supriyanto, M.M., dosen yang terkenal perfeksionis soal skripsi dan tugas kuliah lainnya. Kebetulan sekali skripsi saya tentang analisis keuangan perusahaan, dan sungguh tepat sekali beliau merupakan master manajemen keuangan dari kampus tetangga - UGM. Saya yang dasarnya fokus pada koperasi dan kewirausahaan ini, mencoba skripsi tentang keuangan, benar-benar dari nol dan dihadapkan langsung dengan masternya. So perfect. Tapi saya optimis bahwa ini mudah dan bisa sangat cepat dalam pengerjaannya daripada saya harus meneliti koperasi.

Ok, singkat cerita, yang tadinya dibantai langsung bisa selesai dalam waktu 3 bulan lebih berapa hari. Ini karena disambi main, revisi 1 hari, mainnya sebulan. Astaghfirullah... sempat juga cidera kaki hingga tidak bisa jalan dengan normal beberapa waktu, kecelakaan tunggal di jalan kaliurang KM 5, sungguh, memalukan. Mampir kopma dulu, melihat kaki bocor, baru ke RS Sarjito, nambal dulu. Selang berapa hari belum sembuh bocor alus dikaki, luka masih basah, sudah ditambah cidera engsel kaki lagi karena lompat-lompat kursi kampus, ini jauh memalukan. Akhirnya ke klinik terapi cidera di kampus. Selang beberapa waktu, Bapak pembimbing yang baik hingga badmood ya karena ini, beliau chat lagi, “Bagaimana revisinya?”. Saya jawab, “Segera Pak, saya masih mengerjakan di Bareskrim Depok”. Harus disambi wawancara kasus penggelapan dan penipuan yang dialami para pengusaha persewaan kamera di Jogja saat itu karena ada sindikat penipu yang merupakan tahanan lama yang udah mondar mandir penjara, jadi udah pengalaman banget lah soal pemalsuan identitas. Wis, complicated banget lah, haha. Seru. Namun.... akhirnya selesai juga, saya ujian bulan Juni pertengahan dan benar-benar ngebut revisi hingga terdaftar yudisium bulan Juli juga, karena saya mengejar wisuda Agustus 2016.

Banyak yang dikorbankan, termasuk tiket ke Malaysia yang hangus karena waktunya tidak terkejar saat revisi skripsi. Maaf ya teh Devie, jadi harus berangkat sendirian ke negeri jiran.
Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah saya dalam berjuang menyelesaikan skripsi. Baik? Jelas tidak. Saya mahasiswa agak menyimpang memang, tapi selalu berusaha lurus dan membuat makna.
Waktu adalah Sesuatu yang Sangat Berharga dan Tidak Bisa Berulang, Begitu pun Pengalaman.

Teman-teman yang sedang menyusun skripsi, coba bulatkan lagi tekat kalian. Alasan kenapa kalian harus banget menyelesaikan itu semua. Kadang memang, “AH yang penting lulus tepat pada waktunya”. Big, No. Itu kalimat andalan saya dulu memang, tapi... itu akan menunda waktu kalian untuk welcome to the real world. Yang jauhhh jauhh lebih membutuhkan waktu dan tenaga kalian. Ingat, keluarga di rumah menanti. Dan ingat, sehari menunda skripsi sama dengan sehari menunda pertemuan kalian dengan jodoh #eh #kokbisa


Ok, back to the point. Skripsi yang baik adalah skripsi yang dikerjakan ya guys, malas itu bukan pilihan! :)

Minggu, 21 Juni 2015

Memetik Pelajaran dari Merapi

Weekend kali ini sudah saya prediksikan lebih luang dari biasanya, sehingga perlu dimanfaatkan untuk melakukan perjalanan yang telah lama diinginkan. Saya beserta teman-teman saya dari Kopma, dari temannya teman saya, dan juga ada murid-murid saya sewaktu melakukan PPL di SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Kami janjian dan berjumpa di basecamp Merapi via New Selo.

Kronologinya, hari itu, Sabtu 19 Oktober 2014 seperti biasa saya beraktivitas seperti biasa. Pukul 07.00 WIB di Kopma UNY ada agenda Short Course Kewirausahaan, ada pengisi acara dan materi yang asik untuk disimak. Kemudian, sekitar pukul 11.00 WIB saya berbincang dengan salah satu pembicara, yaitu mas Rafi pemilik Seven Heaven Tour and Travel yang ternyata tunangannya sahabat saya waktu SMA, wah, dunia begitu sempit. Setelah kita berbincang, saya menawarkan kerja sama untuk bersama membangun usaha Bimbingan Belajar yang sedang saya dan tim kembangkan, alhamdulillah respon dari mas Rafi baik. Tak terasa perbincangan berlalu dan menunjukkan waktu shalat Dhuhur telah berlalu dan acara Short Course ini akan segera berakhir. Setelah shalat dhuhur, saya menunggu Andi (ketua Short Course) selesai berbenah dan evaluasi acara, karena dia merupakan salah satu orang yang akan ikut dalam perjalanan ini. Setelah evaluasi, kami berbergegas, saya lupa saya belum packing. Awalnya janjian pukul 15.00 WIB sudah meluncur basecamp, alhasil kami baru bisa merapat sekitar pukul 17.30 WIB, kemudian kami bergegas berangkat dan memutuskan untuk shalat Maghrib di jalan. Dalam rombongan pertama, ada 8 orang yang berangkat yaitu saya, Andi, Sisi, mas Agung, dua anak murid PPL (Dicki dan Fendi), Umar dan satu anak sosiologi yang saya lupa namanya. Beberapa teman saya yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu lagi menyusul kemudian.


Singkat cerita, kalau tidak salah sih, masalahnya kisah ini sudah terlalu lama untuk diceritakan, hehe. Sudah lah, anggap kami tiba di basecamp new Selo pukul 21.00 WIB. Kondisi basecamp padat dan ramai, beruntung kami masih mendapat ruang untuk sekadar berselonjor dan menaruh barang sejenak saat ditinggal shalat. Setelah kami menaruh barang di basecamp, sembari menanti rombongan yang lain, kami berangkat shalat Isya. Tak disangka-sangka, bahwa halaman hampir semua basecamp yang ada sudah padat merayap kendaraan parkir. Saya mulai pusing. Namun, kami lanjutkan untuk mencari air wudhu. Ternyata di basecamp Merapi tak semudah Merbabu dalam persoalan air, disini sangat langka. Kami menanti cukup lama untuk mendapatkan air seadanya untuk berwudhu. Setelah itu, kami shalat. Pasca shalat, hasrat ingin ke kamar mandi cukup besar, tapi apalah daya, air sangat sulit ditemukan. Kami menunggu. Hingga waktu yang cukup lama.


Setelah urusan perairan selesai, kami tak lupa mengisi perut. Ternyata di dekat basecamp kami ada warung kecil yang menyediakan gorengan, makanan dan minuman. Kita santap dahulu. Setelah memenuhi ruang di perut dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 00.30 WIB alias sudah ganti hari yaitu Minggu 20 Oktober 2014 kami melakukan perjalanan naik. Kami sudah dengan tim lengkap kurang lebih 20 orang dari berbagai kalangan. Kami melakukan doa bersama dan mulai berangkat satu persatu.


Singkat cerita, tim kami terpecah hingga tiga bagian. Saat itu, saya harus menemani anak murid saya yang memang masih newbie dalam pendakian gunung. Saat itu, kondisi mereka belum cukup kuat. Namun, karena saya yang membawa kedua murid saya ini, saya harus bertanggung jawab dan tetap menjaganya sampai akhir. Ini anak orang, kalau kenapa-kenapa saya yang bersalah. Apalagi mereka sudah ijin kepada kedua orang tua mereka, tak seperti saya. Akhirnya, walau kami jalan pelan-pelan dan banyak berhenti, sekitar pukul 3.30 WIB, sampailah kami di watu gajah, beberapa meter sebelum pasar bubrah. Karena kondisi anak-anak tidak memungkinkan untuk lanjut, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dulu di sini, di balik bebatuan besar. Ada satu kesalahan yang saya lakukan, yaitu hanya membawa satu tenda yang rencananya memang hanya untuk peserta perempuan, yaitu saya dan Sisi. Namun, karena kondisi anak murid saya yang terlihat belum cukup kuat untuk tidur diluar, akhirnya tenda ini digunakan mereka berdua, ya semoga dapat membantu. Akhirnya, saya, Sisi, Mas Agung, Umar dan anak sosiologi tidur tanpa tenda dan mengenakan sleeping bag kami masing-masing. Udara tak cukup bersahabat, sleeping bag bukan double polar ini tak cukup menghangatkan badan saya, saya pun tak bisa tidur. Hanya bisa glundang-glundung. Hingga dua jam berlalu tanpa bisa tidur, kemudian saya memutuskan untuk masak yang hangat-hangat saja dan shalat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.


Sudahlah, singkat cerita sekitar pukul 6.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke puncak Merapi, karena jika setelah pukul 12.00 WIB konon kondisi gas di puncak akan tidak bersahabat. Puncak tampak begitu terlihat dari pasar bubrah, tetapi setelah dilalui butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai sana. Itu karena saya salah jalur dan harus lompat ke jalur yang benar dan diridhoi oleh-Nya.
Track menuju puncak yang berbatu dan pasir ini cukup menantang. Sesekali ada teriakan, “awas batu”. Sesekali kami bergeser dan mengamankan diri. Pada akhirnya setelah hampir 2 jam perjalanan kami sampai juga di puncak Merapi 29.68 Mdpl. Kami disuguhkan pemandangan yang sangat eksotis di puncak ini. Namun sayang, ramai sekali di atas sini, kami tak bisa banyak bergerak, mau kemana-kemana penuh. Ya sudah, setelah cukup menikmati kekayaan Sang Pencipta, kami mohon undur diri dan kembali turun. Tak sesulit naik, turun dari puncak kami cukup perosotan, tak sampai 1 jam kami sudah sampai pasar bubrah lagi.


Cerita yang cukup simpel, dhuhur kami sudah sampai tempat kami mendirikan tenda.
Namun, sebenarnya tak begitu simpel cerita kami ini. Ketika malam ada teman kami yang menyusul, dia ternyata tak begitu beruntung. Percaya atau tidak dia diikuti oleh sesosok yang menyerupai pendaki, namun menghilang beberapa saat setelah sosok itu diajaknya berjalan bersama. Dan masih ada sosok-sosok yang lain.


Hikmah yang bisa kita petik: jaga diri, jaga hati dan terutama jaga alam yang indah ini.


Salam lestari!

Jumat, 11 Juli 2014

Sebuah Perjalanan: Merbabu Adventure

Sebuah Perjalanan :)

Rabu, 04 Juni 2014

Urgensi Headlamp dan Kompas dalam Manajemen Perjalanan

Headlamp (pinjaman) dan Kompas (milik pribadi)
Dari judul postingan ini saja sudah cukup mengerikan ya? 
Bayangan kalian pasti tentang ilmu yang berat-berat, haha.
Maaf apabila tidak seperti yang dibayangkan. Postingan ini hanya akan menggambarkan tentang pentingnya headlamp atau lampu senter bagaimana pun bentuknya dan juga kompas (bagaimana bentuknya juga) yang keduanya akan harus selalu ada dalam dekapan kalian saat berpergian melalui sebuah kisah.

Jadi, alkisah, pada jaman dahulu kala
Ada seorang gadis cantik jelita, sebut saja pemilik blog ini (jangan muntah, plis)
Ah, sudah lah, bingung ceritanya...

Jadi langsung kembali ke topik kita tentang headlamp, sesuai pengalaman saya dan teman seperjalanan. Pentingnya headlamp atau senter berbagai bentuk dan merk apapun akan sangat terasa saat gelap tiba. Karena apa? ya karena kalau masih terang tanpa ini pun kita masih bisa melihat.

Eh, maksud saya, dalam perjalanan apapun pasti tidak ingin melewati perjalanan tanpa ada kegiatan malam hari seperti camp, api unggun, istirahat di alam bebas dan semacamnya. Jadi tentu lah jangan lupa membawa benda yang satu ini.

Dan yang perlu diingat juga, jangan karena mentang-mentang di jalan ada lampu seperti di Gunung Api Purba Nglanggeran itu, tapi ada banyak jalan yang benar-benar tidak terkena cahaya lampu. Waspadalah!

Dan yang sangat perlu diingat, jangan biasakan diri kita bergantung pada orang lain. Berharap orang lain ada yang membawa senter sih ngga masalah, tapi yang jadi problem ketika orang lain itu bertepuk sebelah tangan. Gimana coba rasanya? Sedih kan. Sedih kalau ternyata dia sudah men-senter-i seseorang yang lain, dan lebih sedih lagi kalau kalian sama-sama berharap dan mengandalkan satu sama lain, alhasil tidak ada yang membawa senter.
Sebenarnya tidak apa tidak bawa senter, kalau saja di mata kalian sudah ada sistem penangkap sinyal infrared #apasih

Kembali ke alkisah, kini kisah tentang pentingnya kompas dalam suatu perjalanan.
Tidak peduli besar atau kecilnya perjalanan tersebut, tetaplah kompas perlu dibawa, kenapa?
Jangan sampai sok-sokan tahu arah, tapi ternyata sholat jadi menghadap timur (berlawanan kiblat)
Jangan sampai lupa jalan pulang, nanti nasibnya sama kayak Butiran Debu.

"....aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi,
aku tenggelam dalam lautan luka dalam.
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang,
aku tanpamu, butiran debu."

Ya kalau tersesat kurang dari 24 jam, lha kalau udah lebih dari dua-tiga hari bahkan seminggu?
Selain kehabisan logistik, bisa-bisa kalian ditemukan Tim SAR tinggal tulang belulang.

So, don't miss your lamp and compass ya guys.
Be smart and be happy :)

Selasa, 11 September 2012

Sisa Dokumentasi Lebaran

my sister: Lia
salma, me, uri, lia

Buka bersama kelas 9A SMP N 3 Kutowinangun

muka jelek abang gue

my little sister: Salma

kesibukanku saat lebaran

panorama Jembangan Wisata Alam, Kebumen dilihat dari arena

Panorama Jembangan Wisata Alam, Kebumen dilihat dari Perahu Naga

lapangan hijau

Pertandingan Sepak Bola Random
Lebaran, 1 Syawal 1433 H
Koleksi foto yang disusun secara random, bisa menjadi sebuah ringkasah kisah detik-detik perayaan Idul Fitri
mohon maaf lahir dan batin :)

Senin, 03 September 2012

Semester 3 Must be Better

KRS Semester 3
Abstrak, kesan pertama setelah melihat KRS tersebut. Mata kuliah yang baunya masih ekonomi dan keguruan (ya iya laah, sadar jurusan dong) hehe yang bikin abstrak sebenernya bukan masalah mata kuliahnya nih, tapi jadwalnya, bisa dikatakan absurd malah. Pada semester ini saya mengambil 20 sks untuk jatah semester 3 dan 4 sks (Etika Profesi Keguruan dan pengembangan Media) untuk jatah semester 5, niat nyolong start semoga bisa lulus 3,5 tahun tanpa banyak ngulang mata kuliah, aamiin ya Rabb :')
Next, numpang doa lagi ya temen-temen, semoga bisa cumlaude lagi. Setelah IP semester 2 kemarin keluar, emang rada shock hehe karena turun cukup drastis ngebuat keadaan tidak aman setelah negara api menyerang dinyatakan tidak cumlaude.  Jangan ditiru ya, plis :(

Sebenernya apa sih cumlaude itu? kenapa harus cumlaude?
  • Adanya isu tentang penerimaan PNS yang hanya menerima lulusan dengan predikat cumlaude (IPK>3,51)
  • Biar pas wisuda orang tua bangga dan nangis haru pas dipanggil kedepan
  • Aman, beasiswa bisa terkendali (insyaAllah)
  • Biar ngga malu sama calon mertua
*nb: yang terakhir plis banget ngga usah dipikirin

But, kuliah ngga semata buat ngejar cumlaude kok, yang penting ilmu. Dan orang yang berilmu itu lulusnya cumlaude *eh mbalik maning ya*
Eh, serius! ngga cuma sebatas cumlaude, percuma aja kita kuliah mahal-mahal kalau ujung-ujungnya cuma berangkat kuliah pulang - berangkat kuliah - pulang. IP itu juga ngga bisa jamin kamu punya banyak relasi, punya banyak pengalaman, dan lain sebagainya yang ngga bisa dinilai dengan IP. Kalau kataku, eman-eman banget lah kalau jadi mahasiswa kupu-kupu, apalagi kupu-kupu malam *eh. AAAAAH tapi itu pilihan, saya hanya menyarankan. DENGAN TEGAS. eh engga..... saya hanya menyarankan, minimal fokus deh ke satu organisasi dan prioritas tetep pada kuliah, syukur-syukur bisa disambi kerja. Asik loh kuliah sambil kerja, bisa shopping-shopping pake duit sendiri *eh astaghfirullah, ngga bener banget ini.
Wah, udah lah, ambil yang positif aja ya. cerita tadi beberapa ada yang lebay dan mengada-ada, harap diambil yang positif aja :)
#SEMESTER3MUSTBEBETTER #1HARI1KARYA

Senin, 30 Juli 2012

Ceritaku Diawal Ramadhan


Masih bisa menghembuskan nafas hingga detik itu aku sangat, sangat, dan sangaaaat bersyukur. Karunia Allah memang tak pernah usai. Hari itu H-1 ramadhan, tepatnya Kamis 19 Juli 2012, udah banyak yang melakukan puasa hari ini terutama yang mereka saudara-saudaraku yang menganut mahzab Muhammadiyah tapi aku sendiri baru akan melaksanakan shalat terawih perdana malam ini :)
Rencananya sih, pagi ini kuliah seperti biasa, terus pulang sekitar jam 13.00 WIB lanjut rapat terus jam 15.00 WIB ngajar sampai jam 17.00 WIB abis itu melakukan perjalanan menuju kotaku Kebumen untuk melaksanakan terawih perdana dan biarin bisa sahur perdana juga.
Namun, rencana Allah lain. Aku telat ngajar, jam 15.30 WIB baru mulai ngajar eeeh selesainya pun mundur. Ditambah ini anak ngajakin ngobrol terus dan ibunya juga. Huaa jadi, pukul 17.30 WIB aku baru selesai itu artinya kurang dari 15 menit lagi sudah memasuki maghrib. Nanggung banget kan? Yaudah, aku langsung menunggu maghrib selesai. Habis selesai maghrib, aku tetep pada tekat awal. Walau tak bisa terawih perdana di rumah, aku masih bisa sahur perdana di rumah. Heeey Mom! I’ll back home :D
Dugaanku tepat, akhirnya adzan Isya memanggil, aku parkirkan si biru silver ini di parkiran masjid Al-Amin, Kulonprogo. Aku mampir shalat Isya sekaligus terawih perdana di sini. Iseng-iseng berhadiah, aku kenalan sama ibu-ibu, bukan aku sih yang minta kenalan. Tapi ibunya yang awalnya ngira kalau aku ini tetangga rumahnya yang masih anak SMP. Hah? Anak SMP? Maaf bu, mukaku jauh, jauh lebih tua, hehe.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul sampai ibunya menceritakan seorang anak laki-lakinya yang baru lulus dan kini sudah bekerja tapi belum mendapatkan istri (semoga bukan modus) akhirnya masuk waktu sholat. astaghfirulloh, seharusnya waktu menunggu sholat ngga buat ngobrol ya. Tapi apa daya, musafir seperti saya kalau ngga ngobrol ya krik krik banget di wilayah orang. Eh, tetep ngga boleh ding ya. Astaghfirulloh, maaf^^
Selesai tarawih sekiranya pukul 20.30 WIB, menurutku biasa aja sih. Tapi aku dibujuk buat nginep di rumah ibunya aja, tapi afwan bu, bukannya ngga mau, tapi ngga enak hati buat merepotkan ibu. Tapi aku masih inget kebaikan ibu kok. Terimakasih atas tawaran menginap dan kunjungannya teruntuk Ibu Teguh seorang guru matematika di SMA daerah Kulonprogo, lupa nama SMA-nya apa. Tapi suami beliau juga seorang guru di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Apal banget kan? Yaiyalah apal, itu kan deket tempat bimbel aku ngajar, hehe
Si biru silverku yang aku namai Mr.K emang paling setia. Sudah lebih dari 7 tahun mengabdi padaku. Kemanapun dan kapanpun dia pasti mau aku ajakin kemana-mana. Udah ada feeling sejak pertama aku memilihnya *eaaa.  Heh, iki cerita serius ki. Malem itu juga aku berangkat dari kulonprogo, prediksi nyampe Kebumen sih 2 jam, jadi harusnya aku jam 22.30 WIB udah sampai home sweet home. Dan apa yang terjadi? Malem itu kok berasa rame, aku emang ngga sendirian, aku bersama Mr.K dan ditemani malaikat-malaikat Allah. Eh, tapi serius ki. Malem itu ngga sepi kayak malem-malem sebelumnya. Biasanya kan cuman bis dan truk lewat, malem itu banyak kendaraan pribadi nemenin perjalanan ku loh! Ya ngga sepanjang itu juga sih tapi ya itu dah (cerita opo jane ki)
Ah, udah ah! Pokoknya akhir cerita aku sampai di Kebumen pukul 22.00 WIB, lebih ngebut dari biasanya. Karena jujur aku laper, paginya udah makan sih tapi kan siang sampai sore sampai malem belum. Mau beli makan di jalan tapi ntar ngga bisa isi bensin. Duh, pokoknya malem itu dilema banget. Akhirnya duit yang buat beli makan aku beli buat beli bensin, huaa laper (kenapa curhat -_-“ )
sumber gambar: imagecent.com

Eh, lupakan lupakan. Singkat cerita, akhirnya sesampai di rumah tercinta aku bisa isi perut dan sesuai keinginanku, aku bisa sahur perdana di rumah. Hore.. bahagia banget, sumpah deh :D

Jumat, 20 Juli 2012

Ramadhan Produktif





Ramadhan Produktif! Tetap belajar, tetap semangat dan tetap cantik ;)



                
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya." (Al-Kahfi: 110)

Marhaban ya Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan, maafin Anggi ya, Sahabat! :)

Minggu, 17 Juni 2012

Resep Manjur


  1. Pantaskah berbicara tentang sayang, berkata tentang cinta | sementara disaat yang sama amalnya selalu ajak maksiat? #UdahPutusinAja
  2. Pantaskah rencanakan masa depan, rancang apa yang dihadapan | sementara saat sekarang saja tak berani bilang nikah? #UdahPutusinAja
  3. Pantaskah panggil memanggil dengan sebutan "ayah" - "bunda" | sementara engkau masih menadahkan tangan untuk biaya? #UdahPutusinAja
  4. Pantaskah kau katakan dirimu menjaganya | padahal justru cumbu rayu harammu merusak akal dan fisiknya? #UdahPutusinAja
  5. Kau kata itu ungkapan sayang, katamu sayang perintah Allah | alasanmu, perintah jelas Allah jgn berkhalwat kau langgar #UdahPutusinAja
  6. Kau berharap hari esok yg baik, sementara hari ini yg membentuk hari esok kau penuhi dengan maksiat? | #UdahPutusinAja
  7. Kau bilang putuskan dia memutus tali silaturahim | pdhl pacar bukan kerabat, ayah-ibumu bera[pa kali kau abaikan? #UdahPutusinAja
  8. Kau kata putuskan dia sulit | egois, pikirkan hanya diri sendiri, tak kau pikirkan dia saat harus diisab krn maksiat? #UdahPutusinAja
  9. #UdahPutusinAja, berhentilah bermaksiat | dengannya Allah akan turunkan cahaya kebaikan yg mengisi relung yang selama ini gelap gulita
  10. #UdahPutusinAja, satu saat nanti, yakinlah engkau akan bersyukur telah mengambil keputusan yang tepat dengan taatmu
  11. #UdahPutusinAja, mungkin selama ini Allah menghijabmu dari mahligai pernikahan yang engkau dambakan karena maksiatmu tetap jalan
  12. #UdahPutusinAja, hatimu akan lebih ringan saat hadapkan wajahmu pada kiblat saat shalat | tiada kebohongan dan nifaq yg engkau pikul
  13. #UdahPutusinAja, ramadhan sebentar lagi menjelang, hendakkah kau kotori bulan suci dengan maksiat? | bisa jadi ini ramadhan terakhir
  14. #UdahPutusinAja, engkau takkan mati tanpanya, karena bukan karenanya engkau hidup | pahami seutuhnya hidup-matimu hanya Allah!
  15. #UdahPutusinAja, bila tidak engkau segerakan, setiap lisan padanya adl dosa, setiap sentuhan adl maksiat, setiap pandangan akan dihisab
  16. #UdahPutusinAja, beri dirimu waktu untuk ketahui bukan hanya apa yg engkau inginkan, tapi apa yang Allah kehendaki bagimu
  17. #UdahPutusinAja, dengannya kau mungkin akan merasakan apa beda cinta ikhlas sejati dengan cinta nafsu yang hanya perlu pelampiasan
  18. #UdahPutusinAja, hormati badanmu sendiri, muliakan dirimu sendiri, sempurnakan keimananmu | agar pantas bagimu atas surga yg kau pinta

Kamis, 03 Desember 2009

Tips menyelamatkan alam

nemu dari sumber,,,,
ada 12 tips penting buat menyelamatkan alam kita ini temand ! x)

1.Pisahkan sampah organik dan sampah anorganik.
Biasakanlah memilah-milah sampah anorganik dan organik di mana saja untuk memudahkan pengelolaan sampah tersebut. :D



2. Kurangi penggunaan bahan anorganik.
Biasakanlah bawa kantong belanja sendiri, kurangi beli barang dalam satuan kecil contohnya sachet sampo, detergen, dan lain-lain.


3. Dukunglah petani lokal
Dengan membeli buah-buahan, sayur-sayuran, daging, dan susu dari petani lokal yang dekat dari rumah kita, maka kita menghemat bahan bakar dari truk yang membawa produk pertanian itu samapai ke rumah kita.




4. Hemat dalam penggunaan kertas.
Biasakanlah menggunakan kertas di kedua sisi.

5. Hemat dalam penggunaan air dan BBM.
Bahan bakar minyak suatu saat akan habis dari bumi ini dan sejauh ini pengembangan sumber energi alternatif masih dalam taraf percobaan.


6. Hemat dalam penggunaan listrik.
Biasakanlah meminimalkan penggunaan listrik dari jam 5 sore sampai 10 malam, karena itu waktu beban penggunaan listrik. Sebagian besar energi listrik di Indonesia diperoleh dari BBM, jadi hemat listrik = hemat BBM


7. Jadilah pelopor lingkungan.
Dunia sedang terancam oleh pemanasan global dan perubahan iklim yang sangat cepat. Untuk mencegahnya, kita tidak perlu menunggu orang lain untuk bergerak, tapi kita bisa mulai dari diri kita.



8. Bergabunglah dengan organisasi lingkungan.
Bargabunglah dalam organisasi lingkungan pasti menyenangkan. Anda bisa menyelamatkan dunia.


9. Jangan memelihara, memburu, atau mengonsumsi hewan langka.
Punahnya satu spesies akan memiliki pengaruh berantai yang akhirnya dapat memutuskan siklus kehidupan dan memberikan dampak serius pada keseluruhan ekosistem. :v


10. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi di selokan dan sungai.
Biasakanlah hidup teratur. Buang sampah di sembarang tempat pada akhirnya akan mengalir ke selokan, selanjutnya ke sungai dan berakhir di laut. Laut bukan tempat buang sampah. Anda sudah mengetahui dampaknya bukan?


11. Jangan memilih kendaraan yang boros dan tidak ramah lingkungan.
Biasakanlah bersepeda atau berjalan kaki jika jarak ke tempat tujuan kurang dari 1 Kilometer.


12. Masing-masing dari kita memelihara setidaknya satu pohon.
Kita bernapas menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, sebaliknya pohon dalam fotosintesis menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Biar impas minimal kita tanam dan rawat satu pohon. :D