Menceritakan semua tentang cita, cinta dan petualangan hidup.

Tampilkan postingan dengan label petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petualangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Mei 2017

Pendakian Gunung Slamet: Slamet mean Safe, Safety First

Waktu itu, bulan Maret 2016. Salah satu tempat pelarian dari revisi skripsi. Sudah daftar jauh-jauh hari memang untuk mengikuti Eat, Sleep, and Hike 7 (ESH7) yang diadakan oleh Cozmeed Indonesia yang berlangsung pada 25 – 27 Maret 2016. Entah angin apa yang membuat saya mendaftar acara tersebut, sendiri. Pendakian gunung Slamet 3428 Mdpl via Baturaden, Purwokerto.

Singkat cerita, saya membuka email, dan mengecek list nama peserta. Fine. Tidak ada teman satu pun yang berangkat dari Jogja. Oke tidak masalah. Saya pesan tiket kereta sendiri waktu itu, dan booking rumah Indah Rahayu di Purwokerto untuk transit.

Cerita dimulai 23 Maret 2016 malam hari, H-1 sebelum keberangkatan. Mendadak ada info sangat urgent dibutuhkan darah O untuk anak penderita Leukimia di Sarjito, entah tidak kepikiran apapun langsung menuju Sarjito untuk donor. Kurang lebih pukul 23.00 WIB, saya selesai donor. Kemudian lanjut istirahat karena besok kereta pagi menuju Purwokerto sudah berjalan. Singkat cerita, 24 Maret 2016, entah badan rasanya enak banget buat tidur. Untung saja tidak bablas ke Cilacap ya. Masih dengan hawa ngantuk dan agak sempoyongan, masih efek donor dan kurang tidur semalam. Kemudian Indah menjemput di Stasiun dan kami memutuskan untuk dopping daging rendang favorit di rumah makan padang. Entah kenapa masih juga mengantuk, akhirnya numpang tidur dulu sebelum Technical Meeting pendakian nanti sore di Cartenz Purwokerto. Sebenarnya persiapan masih sangat amat kurang, mendadak banget, asli. Masih sibuk beli celana lagi karena kurang, beli gas, dan beli-beli lainnya. Singkat cerita, sore hari saya berangkat TM, ternyata TM itu langsung menuju basecamp pendakian Gunung Slamet via Baturaden. Asli, belum siap. Badan rasanya masih kekurangan darah. Tapi semangat, bismillah.

Dari Cartenz Store Purwokerto menuju basecamp kami naik mobil, karena saya terlambat dan tertinggal bus rombongan. Alhamdulillah, mba dan masnya sabar menanti, jadi kita tetap berangkat bersama walau terlambat. Alhamdulillah, yang tadinya berangkat sendiri langsung jadi banyak teman dari Jakarta, Surakarta, Depok, Semarang, Surabaya, dll. Asli, tidak terasa kalau dari Jogja berangkat sendiri.

Pendakian ini ada lebih dari 50 peserta dengan 8 perempuan dan sisanya adalah pria. Memang merupakan pendakian dengan jalur yang tidak biasa. Biasanya kalau ke gunung Slamet kita melalui pos Bambangan, Purbalingga. Oke, singkat cerita lagi, materi demi materi pendakian sudah kami serap. Banyak hal yang saya dapat disini, bukan hanya teman dan kesenangan, tapi materi pembekalan juga di alam bebas. Ya mirip waktu masih di organisasi pecinta alam dulu. Tapi ada uniknya karena ada materi tentang alam dan sosial media yang dibawakan oleh mas Jarwo (ini mas-mas yang lumayan sering saya repotin, sampai nama saya disebut juga kan di blognya, maaf ya mas).

Setelah serangkaian acara pembukaan dimulai waktunya istirahat, kami tidur di pendopo. Esok harinya, 25 Maret 2016, setelah sarapan dan keperluan lainnya kami mulai perjalanan pukul 9.00 WIB. Pemanasan dan lain-lain dulu sebelum jalan jauh. Kemudian naik mobil (jangan dibayangkan, hanya untuk profesional driver, sampai merem-merem naiknya) menuju gerbang pendakian (yang tidak ada wujud gerbangnya sama sekali). Oke, we are ready to start the journey. Hello, Anggi. Lupa ya. Kondisi fisikmu yang sebenarnya bagaimana?

Then, I’ll tell you all something... belum ada satu jam perjalanan, fine. Saya terkena mountain sickness (bisa tanya mbah google ms itu apa). Saya muntah, keringat dingin dan segala macamnya tidak jelas. Warna muka? Jangan tanya, asli pucat sudah. Nah, ini dia masa dimana saya mulai membuat repot mas Jarwo (instagramnya: @xspheriksx), beliau menawarkan untuk membawakan tas carrier saya, jadi beliau membawa dua tas carrier. Asli baik banget mas-mas anggota tim SAR sekaligus fotografer profesional di perusahaan ternama di Jakarta yang satu ini #promote sebagai ucapan maaf, hehe. Padahal dalamnya cukup lengkap beserta tenda dan teman-temannya. Kebayang ya beratnya berapa. Sungguh, rasanya seperti pecundang sih waktu itu, tapi mau bagaimana lagi. Menyadari kelemahan kadang harus. Singkat cerita, mendaki tanpa beban adalah sesuatu yang tidak begitu sulit, hehe. Tapi lihat wajah mas Jarwo malah jadi pucat, alhasil ada mas Tambor yang akhirnya menawarkan untuk bertukar Daypack. Karena beliau tidak membawa tenda jadi daypacknya jauh lebih ringan daripada tas carrier yang saya bawa. Oke, kita lanjut perjalanan dengan bertukar muatan.


Source: Instagram @journeysia saat melewati jalur Baturaden

Singkat cerita, kurang lebih pukul 15.00 wib, melewati POS II, hujan deras. Usut punya usut, mau cuaca cerah atau mendung, di POS ini akan tetap hujan deras. Mulai banyak korban hypotermia pada sesi ini. “Mas, jangan diem aja dong, please!”, itu yang saya teriakan terus, bukan karena ngga suka didiemin, kalau itu udah biasa kok #malahcurhat. Namun, ketika kondisi suhu di lapangan itu tidak bersahabat dan kita diam, kemungkinan terkena hypo sangat tinggi dan resiko kematian juga tinggi. Jadi, pecicilan lah kamu supaya badan tetap terjaga. Saya hanya bisa panik sembari menikmati dingin hujan yang menusuk tulang. Sungguh, jas hujannya tidak begitu ngefek, tetap basah kuyup dengan sepatu yang basah juga. Ditambah dengan banyaknya pacet (red: lintah kecil) yang membuat diri ini semakin grogi. Namun, ada tips supaya tidak terserah pacet. Ini tips langsung dari saya sebaga satu-satunya peserta yang tidak kena pacet. Ternyata menggunakan geitter saja tidak cukup, karena pacet kecil dan bisa menjangkau sampai area terjauh sekalipun. Saya menggunakan trash bag untuk melindungi kaki dari air dan pacet juga tidak bisa masuk.

Hari sudah mulai gelap dan hujan tak kunjung reda. Beruntungnya kami sudah menjamak sholat Ashar tadi dengan Dhuhur sebelum hujan. Dititik ini, agak berlebihan memang, rasanya hampir tidak kuat lagi. Hampir mati. Berjam-jam menggunakan pakaian basah dan hujan tak kunjung berhenti dan kita dituntut untuk jalan terus. “Mas, ngga bisa berhenti dan berteduh disini kah? Sebentar, aku ngga kuat lagi,” itu yang aku ucapkan waktu itu ke mas Nasrul. Pecundang ya aku? Hmm. “Ngga bisa, kita ngga ada tenda, dan kalau berhenti nanti hypo, sebentar lagi kok,” begitu jawabnya. Oke, tetap berjalan dengan nafas kembang kempis. Singkat cerita kami menemukan tempat berteduh sejenak di waktu maghrib, untuk makan mengisi tenaga, POS 3 kurang lebih masih 3 jam lagi. Saya terpisah dengan mas Tambor yang membawa tas carrier saya. Perlengkapan kami tertukar. Akhirnya diberi pinjaman kaos mas Nasrul karena pakaian yang saya gunakan dari tadi sudah sangat basah. Istirahat kurang lebih 30 menit dan kami melanjutkan perjalanan lagi hingga POS 3.

Pukul 21.00 wib, akhirnya di POS 3 tidak hujan, waktunya istirahat. Saya lupa kalau perlengkapan kami tertukar, mas Tambor tidak ada kabarnya sama sekali. Saya meminjam baju, jaket, kaos kaki milik mas dan mba yang ada. Baiknya mereka semua, tapi saya merasa merepotkan. Harus jadi catatan ya, walau berkelompok, yang namanya di alam bebas, harusnya tidak bergantung pada siapapun. Tenda pun akhirnya nebeng, satu tenda kapasitas 2 orang untuk berempat, luar biasa.

Pagi harinya, belum ada kabar sama sekali dari mas Tambor, perlengkapanku semua di sana. Aku ngga mungkin ngga pakai jilbab, stoknya habis, ini yang saya pakai pun cuma buff dengan hoodie jaket supaya tetap menutup aurat. Baju, celana, dll juga ga bisa merepotkan orang lain, mereka juga butuh. Perjalanan hingga puncak dan kembali masih 2 hari lagi. Finally, keputusan yang sangat berat. Akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk turun. Supaya tidak ada korban selanjutnya yang saya repotkan. Saya sadar, fisik dan perlengkapan juga kurang mendukung. Akhirnya saya turun kembali dengan ditemani 1 porter, duh, lupa namanya siapa. Maaf.

Singkat cerita ternyata hujan kemarin cukup keren, kami balik melalui jalur yang sama namun tidak bisa, karena banyak pohon besar yang tumbang. Beruntungnya saya turun dengan mas Porter yang suka bikin jalur, jadi kami mblasak-mblasak di jalur lain. Kemudian, apa yang terjadi setelah turun? Ternyata kami menemukan mas Tambor beserta rombongan lainnya sedang berhenti dan akan turun. Ya Allah, beruntungnya saya memutuskan untuk turun. Jika tidak dan menanti sesuatu yang tidak pasti di atas sana, bisa merepotkan lebih banyak lagi orang. Sudah lah, singkat cerita lagi kami turun bersama rombongan lainnya yang turun juga. Berhubung jalur ini cukup mistis kami harus sampai bawah sebelum gelap, beruntungnya kami bisa lebih ngebut. Hingga maghrib sudah sampai gerbang pendakian dan menanti mobil jemputan. Singkat cerita kami kembali ke rumah mas porter, duh siapa ya. Kami istirahat, bersih diri dan menghirup udara segar dengan kaki ngilu. Disertai oleh-oleh pacet yang masih sempat menyedot darah beberapa orang di rumah.
Source: Facebook. Foto Puncak Slamet

Dari kisah ini, bisa ambil hikmah dari perjalanan saya di Slamet kan ya? Kisah kegagalan yang memiliki makna hidup.
Yup, safety is number one.
Persiapan fisik dan mental.
Perlengkapan juga must ready.
Jangan bergantung pada orang lain.

Salam Lestari!

Minggu, 21 Juni 2015

Memetik Pelajaran dari Merapi

Weekend kali ini sudah saya prediksikan lebih luang dari biasanya, sehingga perlu dimanfaatkan untuk melakukan perjalanan yang telah lama diinginkan. Saya beserta teman-teman saya dari Kopma, dari temannya teman saya, dan juga ada murid-murid saya sewaktu melakukan PPL di SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Kami janjian dan berjumpa di basecamp Merapi via New Selo.

Kronologinya, hari itu, Sabtu 19 Oktober 2014 seperti biasa saya beraktivitas seperti biasa. Pukul 07.00 WIB di Kopma UNY ada agenda Short Course Kewirausahaan, ada pengisi acara dan materi yang asik untuk disimak. Kemudian, sekitar pukul 11.00 WIB saya berbincang dengan salah satu pembicara, yaitu mas Rafi pemilik Seven Heaven Tour and Travel yang ternyata tunangannya sahabat saya waktu SMA, wah, dunia begitu sempit. Setelah kita berbincang, saya menawarkan kerja sama untuk bersama membangun usaha Bimbingan Belajar yang sedang saya dan tim kembangkan, alhamdulillah respon dari mas Rafi baik. Tak terasa perbincangan berlalu dan menunjukkan waktu shalat Dhuhur telah berlalu dan acara Short Course ini akan segera berakhir. Setelah shalat dhuhur, saya menunggu Andi (ketua Short Course) selesai berbenah dan evaluasi acara, karena dia merupakan salah satu orang yang akan ikut dalam perjalanan ini. Setelah evaluasi, kami berbergegas, saya lupa saya belum packing. Awalnya janjian pukul 15.00 WIB sudah meluncur basecamp, alhasil kami baru bisa merapat sekitar pukul 17.30 WIB, kemudian kami bergegas berangkat dan memutuskan untuk shalat Maghrib di jalan. Dalam rombongan pertama, ada 8 orang yang berangkat yaitu saya, Andi, Sisi, mas Agung, dua anak murid PPL (Dicki dan Fendi), Umar dan satu anak sosiologi yang saya lupa namanya. Beberapa teman saya yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu lagi menyusul kemudian.


Singkat cerita, kalau tidak salah sih, masalahnya kisah ini sudah terlalu lama untuk diceritakan, hehe. Sudah lah, anggap kami tiba di basecamp new Selo pukul 21.00 WIB. Kondisi basecamp padat dan ramai, beruntung kami masih mendapat ruang untuk sekadar berselonjor dan menaruh barang sejenak saat ditinggal shalat. Setelah kami menaruh barang di basecamp, sembari menanti rombongan yang lain, kami berangkat shalat Isya. Tak disangka-sangka, bahwa halaman hampir semua basecamp yang ada sudah padat merayap kendaraan parkir. Saya mulai pusing. Namun, kami lanjutkan untuk mencari air wudhu. Ternyata di basecamp Merapi tak semudah Merbabu dalam persoalan air, disini sangat langka. Kami menanti cukup lama untuk mendapatkan air seadanya untuk berwudhu. Setelah itu, kami shalat. Pasca shalat, hasrat ingin ke kamar mandi cukup besar, tapi apalah daya, air sangat sulit ditemukan. Kami menunggu. Hingga waktu yang cukup lama.


Setelah urusan perairan selesai, kami tak lupa mengisi perut. Ternyata di dekat basecamp kami ada warung kecil yang menyediakan gorengan, makanan dan minuman. Kita santap dahulu. Setelah memenuhi ruang di perut dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 00.30 WIB alias sudah ganti hari yaitu Minggu 20 Oktober 2014 kami melakukan perjalanan naik. Kami sudah dengan tim lengkap kurang lebih 20 orang dari berbagai kalangan. Kami melakukan doa bersama dan mulai berangkat satu persatu.


Singkat cerita, tim kami terpecah hingga tiga bagian. Saat itu, saya harus menemani anak murid saya yang memang masih newbie dalam pendakian gunung. Saat itu, kondisi mereka belum cukup kuat. Namun, karena saya yang membawa kedua murid saya ini, saya harus bertanggung jawab dan tetap menjaganya sampai akhir. Ini anak orang, kalau kenapa-kenapa saya yang bersalah. Apalagi mereka sudah ijin kepada kedua orang tua mereka, tak seperti saya. Akhirnya, walau kami jalan pelan-pelan dan banyak berhenti, sekitar pukul 3.30 WIB, sampailah kami di watu gajah, beberapa meter sebelum pasar bubrah. Karena kondisi anak-anak tidak memungkinkan untuk lanjut, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dulu di sini, di balik bebatuan besar. Ada satu kesalahan yang saya lakukan, yaitu hanya membawa satu tenda yang rencananya memang hanya untuk peserta perempuan, yaitu saya dan Sisi. Namun, karena kondisi anak murid saya yang terlihat belum cukup kuat untuk tidur diluar, akhirnya tenda ini digunakan mereka berdua, ya semoga dapat membantu. Akhirnya, saya, Sisi, Mas Agung, Umar dan anak sosiologi tidur tanpa tenda dan mengenakan sleeping bag kami masing-masing. Udara tak cukup bersahabat, sleeping bag bukan double polar ini tak cukup menghangatkan badan saya, saya pun tak bisa tidur. Hanya bisa glundang-glundung. Hingga dua jam berlalu tanpa bisa tidur, kemudian saya memutuskan untuk masak yang hangat-hangat saja dan shalat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.


Sudahlah, singkat cerita sekitar pukul 6.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke puncak Merapi, karena jika setelah pukul 12.00 WIB konon kondisi gas di puncak akan tidak bersahabat. Puncak tampak begitu terlihat dari pasar bubrah, tetapi setelah dilalui butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai sana. Itu karena saya salah jalur dan harus lompat ke jalur yang benar dan diridhoi oleh-Nya.
Track menuju puncak yang berbatu dan pasir ini cukup menantang. Sesekali ada teriakan, “awas batu”. Sesekali kami bergeser dan mengamankan diri. Pada akhirnya setelah hampir 2 jam perjalanan kami sampai juga di puncak Merapi 29.68 Mdpl. Kami disuguhkan pemandangan yang sangat eksotis di puncak ini. Namun sayang, ramai sekali di atas sini, kami tak bisa banyak bergerak, mau kemana-kemana penuh. Ya sudah, setelah cukup menikmati kekayaan Sang Pencipta, kami mohon undur diri dan kembali turun. Tak sesulit naik, turun dari puncak kami cukup perosotan, tak sampai 1 jam kami sudah sampai pasar bubrah lagi.


Cerita yang cukup simpel, dhuhur kami sudah sampai tempat kami mendirikan tenda.
Namun, sebenarnya tak begitu simpel cerita kami ini. Ketika malam ada teman kami yang menyusul, dia ternyata tak begitu beruntung. Percaya atau tidak dia diikuti oleh sesosok yang menyerupai pendaki, namun menghilang beberapa saat setelah sosok itu diajaknya berjalan bersama. Dan masih ada sosok-sosok yang lain.


Hikmah yang bisa kita petik: jaga diri, jaga hati dan terutama jaga alam yang indah ini.


Salam lestari!

Jumat, 11 Juli 2014

Sebuah Perjalanan: Merbabu Adventure

Sebuah Perjalanan :)

Rabu, 02 Juli 2014

Memaknai Setiap Langkah Merbabu

Point View Back of Merbabu
Sabtu 21 Juni 2014 ini begitu cerah, saya awali hari dengan jogging bersama mas Agung dan mas Budi. Biasanya saya hanya sanggup setengah putaran, kali ini bersama mereka dua putaran plus jalan santai satu putaran di Embung Tambak Boyo (Condong Catur, Sleman) saya libas. Tempat ini sangat cocok untuk jogging karena selain track yang panjang, tempat ini juga menyediakan pemandangan yang begitu indahnya. Setelah jogging berlangsung, kami memanjat dinding di sekitar pinggiran Embung yang membatasi wilayah warga dengan wilayah wisata embung ini sendiri. Dari atas, kami dimanjakan lagi dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata. Setelah itu, kami menutup acara pagi ini dengan sarapan di Warung Soto di daerah Klebengan. Hemm, hari yang begitu menyegarkan.

Setelah jogging, saya langsung kembali melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Ya, berangkat ke Kopma UNY tercinta dan melakukan beberapa aktivitas seperti biasanya. Lalu, apa yang berbeda dihari ini? Ya, banyak yang berbeda, terutama setelah dari Kopma, saya mulai ‘packing’ menyiapkan seluruh pembekalan untuk perjalanan hari ini. Setelah dari Kopma saya mampir mini market untuk berbelanja kebutuhan perjalanan. Dengan bermodalkan tas carrier pinjaman beserta matras dan sleeping bag pinjaman juga saya mulai packing. And finally, packing done pukul 16.00 WIB dan saya menanti adek angkatan Ikatan Siswa Pecinta Alam (Iksapala), Lely, agar kami bisa berangkat bersama. Belum ada kabar dari anak itu. Kemudian saya memutuskan untuk menunggunya di Toko Planet Adventure supaya ada teman tunggu, hehe

Tak kunjung muncul, ternyata tiba kabar bahwa dia akan tiba setelah Isya. Kemudian, setelah saya menjemputnya di Pasar Gamping, kami menuju jalan kaliurang menjemput dua laki-laki yang keduanya juga merupakan adek angkatan saya. Baru sadar, mereka semua merupakan angkatan T dan saya sendiri adalah angkatan S. Dalam Iksapala, nama angkatan berurutan berdasar Abjad. Setelah menjemput mereka dan shalat di kontrakan mereka, kami pun bergerak walau hujan membersamai kami. Sekitar pukul 20.00 WIB kami berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang dan pukul 22.00 WIB basecamp Merbabu via Wekas menyambut hangat tubuh kami ini. Perjalanan memang tidak berjalan begitu mulus, motorku yang dua tahun lalu pernah melewati jalanan ini dari gerbang Wekas hingga basecamp membawa seorang cewek kuat tanpa harus menurunkan penumpang, kali ini benar-benar sudah tidak kuat, dengan terpaksa Lely harus berjalan kaki.

Setibanya di basecamp kami meletakkan sejenak carrier-carrier yang penuh dengan perbekalan kami. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami memesan makan yang disediakan di basecamp. Dengan iuran Rp 7.000,- cukup untuk nasi telor sayur dan membuat kami kenyang. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 00.05 WIB dan berganti hari. Ya, saat itu hari berganti Minggu, 22 Juni 2014. Kemudian, kami bergegas agar kita segera bisa istirahat di camping ground atau POS II. FYI jarak basecamp sampai puncak berkisar 5 km. Jadi jelas kami harus berhenti sebelum melanjutkan ke puncak. Singkat cerita, kami sampai di POS II pukul 03.30 WIB, cukup lama memang karena tubuh yang kondisinya sudah cukup lelah dengan aktivitas hari itu dan memang kami adalah pendaki hore. Rencana ingin menyusul adik-adik kami yang sedang melaksanakan Pendidikan Lanjut (Dikjut) angkatan X pun pupus karena faktanya mereka sudah beranjak ke puncak pukul 03.00 WIB. Jelas kami tidak bisa menyusul mereka, setelah mendirikan tenda, sekitar pukul 04.00 WIB kami memutuskan untuk tidur dan melanjutkannya nanti.

Pukul 05.30 WIB kami bangun dan kami sadar kalau kami telat sholat subuh, hehe. Udara merbabu mendekap kami begitu erat hingga susah bangun. Sleeping bag pun rasanya enggan lepas dari tubuh kami. Beruntungnya POS II begitu bersahabat, sumber air yang melimpah membuat kami tidak kebingunan untuk wudhu. Dan pagi ini rasanya wudhu dengan air kulkas, beku

Setelah berwudhu kami, bergegas menyalakan kompor. Beruntung ada seksi konsumsi (baca: Lely) yang langsung menawarkan makanan dan minuman hangat untuk menghangatkan tubuh kami sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak. Lely juga yang bersedia jaga tenda, sedangkan saya, Haris, Candra dan Halim melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Jadi, pukul 07.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke Puncak, masih sekitar 3 – 4 jam perjalanan lagi. Perjalanan kali ini membawa bekal secukupnya. Tas carrier yang besar itu harus ditinggal karena medannya kali ini cukup berat. Membawa air mineral sekitar 2 botol 1,5 liter untuk 4 orang kami rasa cukup, beserta roti secukupnya.

Diperjalanan memang saya akui saya yang paling lambat, saya menikmati setiap perjalanan dengan sesekali menghadap belakang dan menarik nafas. Pemandangan dibelakang sangat cantik, terlihat beberapa jajaran pegunungan yang memanggil meminta didaki. Dalam perjalanan, akhirnya kami bertemu dengan rombongan Iksapala. Kondisinya kami baru naik tapi mereka sudah turun. Tak apalah, yang penting bertemu.

Singkat cerita...
Ternyata dilematika itu muncul, ketika tiba dipersimpangan antara Puncak Sarif dan Kenteng Songo. Posisinya, Puncak Sarif tampak begitu dekat, paling sekitar 15 menit dan Kenteng Songo masih jauh berliku, sekitar 45 menit bahkan satu jam dengan medan yang spesial. Saya hampir memutuskan untuk menuju puncak Sarif saja dengan kondisi kaki yang bergetar.

Namun, terlintas dipikiran, “Lalu apa arti perjuangan? Kenapa harus setengah-setengah?”
Akhirnya saya memutuskan untuk ke Kenteng Songo. Perjalanan memang tidak mudah, tapi menyengkan. Walau sempat bertemu dengan mbak-mbak yang kakinya dibalut kassa karena terkilir atau patah tulang. Memang, butuh teknik climbing yang baik. Beruntung dulu kami pernah belajar.

Singkat cerita (lagi)
Kami sampai di puncak pukul 11.00 WIB, ya empat jam perjalanan, begitu lama tapi memuaskan. Sesampainya di Puncak, saya mengeluarkan kertas dan spidol untuk menulis beberapa kata ucapan terima kasih terutama untuk Mama yang sudah mengijinkan, ini kala pertama saya diberi ijin naik gunung, haha. Ohya, diatas selain foto-foto, saya tidur di Puncak Kenteng Songo. Panas begitu menyengat dengan pakaian serba hitam menambah mudah perjalanan sinar matahari menuju tubuh ini.

Singkat cerita (lagi dan lagi)
Kami turun pukul 13.00 WIB dan sampai lagi di POS II pukul 15.30 WIB, ya cukup lama. Tapi saya nikmati. Setibanya di POS II, kami disuguhi makanan lengkap nasi sayur dan lauk oleh Koki handal kami, saudari Lely. Setelah kenyang makan, kami baru shalat Ashar dan Jama’ Dhuhur. Kembali lagi di POS II kami istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan pulang pukul 17.00 WIB.

And finally, kita sampai Basecamp bada Isya. Karena kaki rasanya tidak bersahabat, terutama mata yang sudah sayup-sayup. Kami pun memutuskan untuk menginap di basecamp dulu hingga esok baru pulang. Hmm, sekian dulu ceritanya J

Sabtu, 28 Juni 2014

Banjir Hadiah dan Keseruan di Acara Roadshow Qwords.com

Kamis, 12 Juni 2014 pukul 18.30 WIB hingga 22.00 WIB di Riverside Kampung Kuliner Pringwulung, Yogyakarta. Qwords.com mengadakan sebuah acara yang memadukan diskusi interaktif dan berbagai games seru. Tidak ketinggalan, free dinner dan banyaknya doorprise yang menambah keseruan acara saat itu. Acara yang mengundang segenap anggota komunitas Tangan Di Atas (TDA) dan Blogger Jogja ini memilih tema tentang Kepenulisan dan Web Desain.
Diawali dengan sambutan Master of Ceremony (MC) yang mempersilahkan peserta untuk menikmati hidangan terlebih dahulu, agar dalam berjalannya acara para peserta bisa fokus mengikuti. Selain itu, MC membawa kabar bahwa Qwords.com akan membuka cabang baru di Yogyakarta sekitar bulan depan.
Setelah selesai menikmati hidangan, sesi pertama diisi oleh seorang penulis best seller yaitu mbak Mini (@miniGeka) yang akan membuat para peserta kecanduan menulis. Singkat cerita, mbak @miniGeka menjelaskan tentang perjalanan menulisnya dan berbagai tips menulis. Ia biasa menulis tulisan-tulisan fiksi yaitu cerita rekaan. Dalam menulis, ada beberapa keyword untuk menulis sebuah novel, yaitu: siapa tokoh, apa goal/tujuannya, siapa yg menghalangi mencapai tujuannya itu, bagaimana dia mengalami kegagalan, adegan dramatis, dan ending yang mengena. Selain itu, karakter dalam sebuah novel harus unik dan rasional.

Mbak @miniGeka saat membawakan materi (sumber: twitter @Blogger_Jomblo)

Mbak @miniGeka dalam perjalanannya tentu tidak selalu berjalan mulus. Banyak juga halangan dan rintangan yang Ia hadapi untuk menjadi penulis. Mengikuti alur sebuah naskah/buku mulai dari editor naskah, penerbit, distributor, toko hingga pembaca bukan lah hal yang mudah. Beliau juga pernah mengalami kendala dalam waktu penerbitan yang memang tidak singkat. Berbagai step by step ia lalui. Oleh karena itu, mbak @miniGeka memberi tips, yaitu jadilah orang yang sering membaca, jalan-jalan, mencatat, melihat, mendengarkan agar ide dalam pikiran selalu mengalir dan cerita yang kita tuliskan memiliki “ruh”. 

Mas @gukseta saat membawakan materi web desain (sumber: twitter @fathurreza26)
Kemudian sesi kedua, ada mas Seta Pausa M (@gukseta), seorang web master yang memiliki bisnis web desain (Divren Web). Secara sekilas mas @gukseta menjelaskan beberapa keunggulan Web Desain dibandingkan SEO. Diskusi menjadi panas ketika adanya pertanyaan dan berdebatan. Jadi, menurut mas @gukseta alasan SEO tidak lebih unggul dari Web Desain karena SEO isinya hanya teks semua namun desain bisa berbacam-macam mulai dari video, gambar, teks dan berbagai hal yang menarik lainnya. Kemudian, SEO yang mahal akan terkalahkan juga dengan social media yang menawarkan fasilitas gratis untuk bisa beriklan dimana pun dan kapanpun. Kemudian mas @gukseta menjelaskan berbagai tips agar website kita lebih menarik peminat atau pembeli jika website kita menawarkan jasa maupun barang dagangan. Diskusi dengan mas @gukseta kali ini benar-benar panas dan membuka wawasan kita tentang dunia website.
Setelah kedua sesi terlewati, saatnya pengumuman-pengumuman. Ada berbagai pengumuman pemenang mulai dari pemenang lomba Selfie yang berhadiah Tongkat Narsis (Tongsis), lomba live twit ke twitter @Qwordsdotcom dengan hastag #QwordsRoadshow yang berhadiah flashdisk (FYI saya alhamdulillah dapat ini, hehe) dan ada pengundian hadiah Handphone Android beserta Tab. Seru kan acara dan hadiahnya? Dan perlu kalian ketahui, acara yang sangat seru ini juga dalam rangka merayakan #QwordsAnniversary 

So, HAPPY BIRTHDAY QWORDS by Anggia Zainur :)


Rabu, 04 Juni 2014

Urgensi Headlamp dan Kompas dalam Manajemen Perjalanan

Headlamp (pinjaman) dan Kompas (milik pribadi)
Dari judul postingan ini saja sudah cukup mengerikan ya? 
Bayangan kalian pasti tentang ilmu yang berat-berat, haha.
Maaf apabila tidak seperti yang dibayangkan. Postingan ini hanya akan menggambarkan tentang pentingnya headlamp atau lampu senter bagaimana pun bentuknya dan juga kompas (bagaimana bentuknya juga) yang keduanya akan harus selalu ada dalam dekapan kalian saat berpergian melalui sebuah kisah.

Jadi, alkisah, pada jaman dahulu kala
Ada seorang gadis cantik jelita, sebut saja pemilik blog ini (jangan muntah, plis)
Ah, sudah lah, bingung ceritanya...

Jadi langsung kembali ke topik kita tentang headlamp, sesuai pengalaman saya dan teman seperjalanan. Pentingnya headlamp atau senter berbagai bentuk dan merk apapun akan sangat terasa saat gelap tiba. Karena apa? ya karena kalau masih terang tanpa ini pun kita masih bisa melihat.

Eh, maksud saya, dalam perjalanan apapun pasti tidak ingin melewati perjalanan tanpa ada kegiatan malam hari seperti camp, api unggun, istirahat di alam bebas dan semacamnya. Jadi tentu lah jangan lupa membawa benda yang satu ini.

Dan yang perlu diingat juga, jangan karena mentang-mentang di jalan ada lampu seperti di Gunung Api Purba Nglanggeran itu, tapi ada banyak jalan yang benar-benar tidak terkena cahaya lampu. Waspadalah!

Dan yang sangat perlu diingat, jangan biasakan diri kita bergantung pada orang lain. Berharap orang lain ada yang membawa senter sih ngga masalah, tapi yang jadi problem ketika orang lain itu bertepuk sebelah tangan. Gimana coba rasanya? Sedih kan. Sedih kalau ternyata dia sudah men-senter-i seseorang yang lain, dan lebih sedih lagi kalau kalian sama-sama berharap dan mengandalkan satu sama lain, alhasil tidak ada yang membawa senter.
Sebenarnya tidak apa tidak bawa senter, kalau saja di mata kalian sudah ada sistem penangkap sinyal infrared #apasih

Kembali ke alkisah, kini kisah tentang pentingnya kompas dalam suatu perjalanan.
Tidak peduli besar atau kecilnya perjalanan tersebut, tetaplah kompas perlu dibawa, kenapa?
Jangan sampai sok-sokan tahu arah, tapi ternyata sholat jadi menghadap timur (berlawanan kiblat)
Jangan sampai lupa jalan pulang, nanti nasibnya sama kayak Butiran Debu.

"....aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi,
aku tenggelam dalam lautan luka dalam.
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang,
aku tanpamu, butiran debu."

Ya kalau tersesat kurang dari 24 jam, lha kalau udah lebih dari dua-tiga hari bahkan seminggu?
Selain kehabisan logistik, bisa-bisa kalian ditemukan Tim SAR tinggal tulang belulang.

So, don't miss your lamp and compass ya guys.
Be smart and be happy :)

Minggu, 25 Mei 2014

Mix and Mie

Mix and Mie
Tidak afdhol rasanya ketika naik gunung tanpa ditemani yang satu ini. Ya, mie instan.
Makanan paling simpel dibawa kemana pun dan dimakan kapan pun.

Aku yang selalu merindukan campuran mie dari berbagai rasa dan berbagai merk dijadikan satu sajian yang dimasak di atas kompor lapangan dengan nesting seadanya.
Ah, aku merasa lebih jago dari master cheft dunia sekalipun :)

Rabu, 14 November 2012

Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Happy new year :) 

Aku ceritakan perjalananku malam 1 Suro, Rabu 14 November 2012. 
Niat awal mau merayakan awal tahun ini disalah satu puncak terdingin di Indonesia, yap! Lawu mountain bareng temen-temen Kopmapala UNY. Namun apa daya, satu yang ngga berani aku patahkan yaitu  statment tentang gunung Lawu yang menyimpan banyak misteri sehingga perempuan yang sedang berhalangan ngga boleh ikut mendaki. Emm, yasudah lah, next time mungkin bisa :)

Mengingat malam 1 Suro ki jadi inget 1 Suro 4 tahun silam. Kenangan bersama temen-temen Iksapala SMA N 1 Kebumen angkatan S. Pertama kalinya tidur di atas matras di bawah ponco sendiri di tengah hutan pinus. Eh ngga sendiri e, ada temenku tapi jarakku dengan mereka ada 5 meteran gitu. Malam pertama tidur di bivoack/bivak begitu sebutan ponco (jas hujan) yang dibuat tenda untuk kapasitas satu orang, malam itu seru banget banyak suara pesawat terbang (read: nyamuk) super sekali. Baru inget kalau 1 Suro itu tempat pestanya para mahluk halus, ngga jauh beda dengan mahluk yang kasar mereka mungkin ikut merayakannya. Seingetku, malam itu ada lilin di dekat bivak-ku, bingung sih itu kenapa mati nyala mulu. Ternyata kata seorang senior yang bisa melihat 'begituan' ada beberapa anak kecil mainan di sekitar situ, dih kenapa aku ngga ikutan main *eh
dan masih banyak lagi cerita 'begituan' di malam itu, haha. Tapi yang paling mengesankan ki bukan mahluk haluse, tapi mahluk kasarnya *lho mahluk ini kepanggil karena pas maghribnya kami (saya dan teman-teman seerjuangan) diberi tugas buat 'makan ayam' mulai dari menangkap hingga memakannya dengan minim air dan minim alat kami nekat. Nah, ini dia yang bikin kami 'mengundang' mahluk kasar tersebut, kami membuang tulang-tulang ayam tersebut kurang jauh dari bivak kami. Alhasil mahluk tersebut (read: anjing hutan) mulai mengendus-endus bivak temenku dan mulai mengendus kaki temenku itu yang bau ayam bakar kali :D
dan apa yang terjadi setelah itu? Rahasia.

Udah ah, lanjut kecerita perjalananku mudik semalem...
Bermula disore hari, sepulang kuliah pukul 17.30 WIB melihat motor dan helmku dibasahi hujan itu tapi aku tak menghiraukan itu, tekatku sudah bulat, pokoknya mudik :D 
Sampai di kost, packing dulu beberapa menit sembari menunggu waktu maghrib usai. Packing selesai, ngga lupa nitipin si hammy ke tetangga kamar. Sekitar pukul 18.15 WIB tancap gas!

Awal perjalanan biasa aja, lancar aja, walau sebelumnya rada merinding karena mengingat malam ini adalah malem satu suro, pikiran negatifku saat itu takutnya ada sesuatu yang tak diundang nebeng motorku ini -___-
Haha tapi itu pikiran negatif yang rada ngga logis, karena aku percaya jika kita tak menganggu mahluk tersebut maka mereka pun tak akan mengganggu kita. Jadi, biasa ajaa :)

Di tengah perjalanan, menantang banget, baru sampai daerah Kulonprogo, ujan datengnya keroyokan.
Pantes aja malem itu lebih gelap dari biasanya, lampu kendaraan ditambah ujan ngga keliatan bro. Kacamataku juga penuh hembusan napas dan air ujan, tambah ngga keliatan, jadi aku lepas aja. Huaha bener-bener gelap tapi asik. Bener-bener menantang. Kaos kaki, sarung tangan basah semua, yaudah aku lepas aja.
Kulonprogo-Kebumen itu masih sekitar 2 jam, krikrik banget hujannya ngga berhenti-henti.
Sekalinya udah berhenti aku mampir POM bensin sekalian isi bensin dan copot mantel, eh abis itu ujan deres lagi. krik
udah ah, emang takdirku pake mantel terus kok, terima aja.
Ngga ngeliat jam ngga ngeliat apa-apa, lha jalan juga samar-samar kabeh e. Bener-bener satu pikiranku, "Kapan tekane kiye lah."
Akhirnya Purworejo terlewati, artinya 1 jam lagi nyampe Kebumen, bahagia banget ki rasanya. Tapi yo ngga sampe-sampe, piye ik. Hal yang kurang asik ketika ujan deres itu aku ngga berani nyalip truk (berani aja sih, hehe) tapi serius, ngga berani beneran nih karena jalan aja cuma bisa liat belakang truk dan ngga bisa liat apa-apa lagi. emm

Hujan mulai sedikit mereda, udah mulai bisa ngeliat jalan di daerah Kutoarjo. Disepanjang perjalanan ini aku memperhatikan semua orang. Mereka berpasang-pasangan, dua orang dua orang. Eh aku yo berpasangan, pasanganku ya motorku iki. Pasangan paling setia yang udah sekitar 7th mengabdi bersamaku, oh Mr. K love you full dah

Nanti dulu, sebelum melanjutkan cerita aku mau curhat
aku tuh bingung sebenernya apa uniknya dari cerita perjalananku tadi? Huaa lupa yang unik, yaudah sih ngga jadi cerita ya. Daripada tambah geje, udah ya.
Alhasil perjalanan hari ini cukup lama karena diterjang hujan dan lain sebangsanya, hingga akhirnya pukul 21.30 WIB saya sampai di Kebumen Beriman. It's enough!

Ohayou ~

Senin, 24 September 2012

Api Unggun untuk Nglanggeran

Arti Puncak dan Persahabatan

Rapatkan barisan, Kawan!

Temen-temen Kopmapala UNY paling OKE!

Aku tengah :D

Hangatnya Persahabatan :)

We're camping loveeeerrr~
Ketika hangatnya api unggun tak terlalu bisa menghangatkan, disitu lah arti seorang sahabat. Sahabat akan menghangatkan kisah hari ini dengan senyuman terindah mereka. - Anggi loving you as good as you know (ngomong opo to caaah!)

Selasa, 11 September 2012

Short Story of Stand Stone

Stand Stone atau bahasa Indonesianya adalah watu ngadeg. Berada di daerah wilayah kabupate Kebumen tapi saya lupa nama desa dan lokasi lebih jelasnya itu apa hehe maaf ya...

semi sunrise

anak orang bahagia

saya, kaki, sandal, rumput dan jurang

me belum mandi

tempat makan paling romantis

how much I love nature

anak ilang

pemberian materi

of side

pengen terjun
Watu Ngadeg ini biasanya asik buat tracking tapi ngetrack mulai dari sekolahanku dulu (SMAN 1 Kebumen) sampai puncak watu ngadeg kurang lebih 2 jam. Asik kan? Begini lah kondisi Watu Ngadeg saat ini, apabila ada kenarsisan di dalamnya mohon maaf. Itu udah bawaan alam *eh

Kamis, 06 September 2012

Dampak Kuliah Makro Ekonomi: Nyasar di Taman Lampion

Assalamu'alaikum :)
Mau cerita nih, jadi ceritanya gini...
Pada suatu hari yang tadinya cerah tapi mendadak mendung ngga tau kenapa. Sepulang dari kuliah makro ekonomi pada hari Kamis, 6 September 2012 pukul 15.00 WIB. Kami berempat melakukan suatu ekspedisi. Tanpa arah dan tujuan yang jelas kami mulai perjalanan. Kami berjalan menuju ufuk barat, belum barat-barat banget akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang tidak asing lagi bagi orang Jogja. Namun, cukup asing bagi kami, jujur aja ya, ini pertama kalinya loh!
Ikha, Siska, Lia, Anggi

Siska, Ikha, Lia, Anggi

Siska, Lia, Ikha, Anggi

Me...
wassalamu'alaikum warahmatullah :D

Senin, 27 Agustus 2012

Merbabu, Teman, dan Saya

Sarapan hangat dipagi yang dingin

Team Kopmapala

Semangat Pagi

Narsis bareng kakak

Narsis bareng bu de

Bayang Merbabu

diatas awan

beautiful sunset

nice silhoute

Kamis, 05 April 2012

Memories of Dieng


Gambar: blog.travelpod.com

Kurang lebih 2 tahun silam lamanya, saya dan beberapa teman (Ayu, Anche, Iqbal, Yoyo, dan Teguh) mengikuti Jambore Nasional Pencinta Alam yang dilaksanakan di Dieng. Masalah tanggal saya sedikit lupa karena kebetulan netbook tempat menyimpan segala macam memori  seperti dokumentasi foto, dll sudah lenyap. Cukup lama acara tersebut berakhir, akan tetapi kenangannya masih terukir dalam di sini, iya, dalam hati ini.
Waktu itu, udara Dieng bisa disebut kurang bersahabat. Disaat kami harus bermalam di hutan yang sudah disediakan, saat itu kami mendapat kapling sedikit di bawah. Well, jika terjadi hujan kami akan terkena air mengalir dari atas. Malam harinya Dieng mulai menunjukan “ketidakbersahabatannya”. Bukan, bukan tidak bersahabat. Namun, Dieng mengingatkan kami agar selalu siap disegala kondisi. Kemudian hujan turun lebat, tenda (dome) yang kami dirikan ternyata bocor. Akhirnya kami harus tidur disambi sedikit “berenang”. Alhasil saya tidur menggigil luar biasa dikarenakan sleeping bag yang saya gunakan tak cukup melawan dinginnya suhu Dieng. Luar biasa, malam yang luar biasa.
Pagi harinya ternyata berkebalikan dengan malam. Udara bersih Dieng sangat memanjakan sistem pernafasan dalam tubuh, ditambah berhemat waktu karena tidak harus mandi :)
Udara Dieng sangat bersahabat, saya senang ketika menghembuskan nafas dan muncul gas-gas itu walaupun hari sudah menjelang siang.
Singkat cerita, anggap saya sudah bercerita selama 2 hari, nah di sini puncak acaranya. Sedih, senang, bahagia, dan kecewa ada di sini. Hari ini hari ke 3 kami berkemah, dihari ini kami mengikuti Lomba Lintas Alam Dieng. Tiba dipuncak acara, kami salah mengambil start, kami mendapat giliran pertama untuk berlari melintasi alam Dieng. Hujan lebat mengikuti langkah kami, kami yang hanya berbalut kaos oblong peserta Jambore ini tentu tidak mampu membentengi hawa dingin dataran tinggi Dieng. Bukit demi bukit, gunung demi gunung kami mencoba berlari demi mendapat juara lintas alam yang kurang lebih berjarak 7km. Namun,
                “Deg...”
Langlahku melemah, kaki ini terperosok salah satu lubang di bukit itu. Seseorang menolong dan dengan keadaan yang sudah lemah ini mencoba bangun, hingga akhirnya...
                “Ay, Che, aku nyerah, ngga kuat lagi,” ujarku dengan nafas yang sudah sangat sesak.
                “Kenapa nyerah? Ayolah nggi, katanya kita mau juara.” Balas Ayu
                “Maaf Ay, aku bener-bener ngga kuat.” Egoismeku keluar, tanpa saya sadari kalau saat itu saya telah mengecewakan teman-teman saya.
                “Ayolah Nggi, bergerak pelan-pelan, ngga menang nggapapa, yang penting sampai.” Jawab Ayu dengan nada bicara sedikit menurun.
                “Iyaa”
Kami pun melanjutkan hingga ke pos terakhir, walau sempat tersesat beberapa menit. Kami tau kami akan kalah, namun tetap meneruskan perjalanan berharap ada keberuntungan.
***

Dari peristiwa tersebut, saya benar-benar menyesal. Kenapa saya menjadi pribadi yang lemah saat itu. Saya berterimakasih banyak kepada sahabat saya, Ayu Retno Ningsih dan Anggun Ratna Asih yang terus meng-support saya, walau kamu tau kalau aku menyecewakan. Maafkan Anggi teman, Anggi amat menyesal. Kemudian setelah kejadian ini, saya merasakan pelajaran yang amat berharga dari arti persahabatan, arti tanggung jawab, dan arti perjuangan. Terimakasih, Sobat.

Minggu, 09 Mei 2010

PANORAMA PRANJI

a secreet of Pranji


sunrice in Pranji

Pranji in Love

  a magic of Pranji

sebuah pegunungan yang tak begitu tinggi, namun pemandangan tak kalah dengan pegunungan yang lain. terletak di desa Pengaringan, Pejagoan, Kebumen, Jawa Tengah. 
pagi itu, tepatnya pukul 05.00 WIB bersama teman-teman dengan di temani camdigku ini. ku ambil beberapa foto keindahan alam ini supaya di syukuri dan dijadikan sebuah kenangan. 
sesungguhnya masih banyak keindahan alam di Kebumen tercinta ini, salah satunya yang tak terlupakan, Pranji.

Rabu, 04 November 2009

kisah aku, tanpa kalian...


Pada saat itu, ketika aku tak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Ketika itu semuanya berubah. Harapanku ikut mengalir bersama air mataku. Berhari-hari terus ku linangkan air mata ini, dan tak kunjung berhenti. Entah mengapa, rasanya begitu sulit ketika aku benar-benar tak bisa ikut merasakan petualangan bersama teman-teman itu.
Ketika itu, aku hanya dapat menitipkan jiwakku tuk pergi bersama kalian. Tanpa ragaku yang mulai melemah ini, namun jiwa ini tetaplah bersama kalian. Dan mencoba tetap tegar diterpa hempasan angin itu.
Selepas kalian pergi bersama jiwaku disana. Hati ini mulai resah. Ntah apa yang membuatnya begitu. Namun inilah kenyataan. Ternyatajiwaku tak sekuat yang kalian bayangkan. Jiwaku begitu lemah, terus menangis selepas kalian pergi.
Aku ingin lepas, ku ingin bebas, ku ingin saat-saat bersama kalian. Ku ingin berpetualang bersama kalian. Aku ingin menikamti masa-masaku bersama kalian. Menetes kembali air mataku ketika ku ingat hal ini. Hanya satu pikirku. “kalian pulang dengan selamat” membawa jiwaku kembali kedalam ragaku yang mulai rapuh.
Tiga hari lamanya aku benar-benar merasakan hampanya hidupku tanpa kalian. Setiap menitnya yang ku ingin hanya kabar dari kalian. Setiap detiknya yang ku ingin hanya senyuman dari kalian. Namun sulit, aku benar-benar tak bisa melihat kalian. Setiap malam aku hanya dapat memeluk bayang-bayang diri kalian. Tanpa merasakan dekapan hangat peluk kalian. Canda tawa yang tak dapatku lihat. Sampai datangnya kalian kembali kesisiku.
Kabar, kabar, dan kabar. Hanya itu yang aku inginkan dari kalian. Aku ingin bersama kalian saat-saat itu. Tapi mengapa begini? Ku hanya dapat menangis dan merenungi keadaanku saat ini.

Jumat, 29 Mei 2009

pengen ke Lawu ^_^


Gunung Lawu


Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi. :)

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.


Pendakian

Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.

Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.

Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.

Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.

Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.

Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris(karena seperti di iris).

Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu(bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya gag nguatin untuk pemula.

Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.

Misteri gunung Lawu

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Keraton Yogyakarta.

Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.

Legenda gunung Lawu

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.

Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).

Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Obyek wisata

Obyek wisata di sekitar gunung Lawu antara lain: