Menceritakan semua tentang cita, cinta dan petualangan hidup.

Tampilkan postingan dengan label my diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my diary. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Mei 2017

BAGAIMANA MENYELESAIKAN SKRIPSI DENGAN BAIK

Baca judul ini langsung merinding gitu ya bawaannya. Menyelesaikan “skripsi” dengan “baik’. Boro-boro baik, bisa selesai aja bersyukur ya, hehe. Begitulah sedikit jeritan hati dari para mahasiswa tingkat akhir hingga akut. By the way, pada jaman dahulu, saya bukan mahasiswa rajin yang menyelesaikan segalanya dengan baik dan tepat waktu. Hampir semua dosen di jurusan mengenal saya, tapi bagian kurang enaknya, yup, bolosan. Walau pun dalam mind-map saya tidak ada keinginan untuk membolos satu mata kuliah apapun. Namun, memang godaan di luar sana sangat banyak, guys. Finally, saya membuat matriks untuk menyusun strategi di setiap semester. 30% kesempatan absen harus termanfaatkan dengan baik, pikirku. Sehingga saya susun matriks tersebut dengan susunan: mata kuliah dan berapa jumlah jam yang ada. Jika saya berangkat, maka akan saya centang, jika saya ijin maka saya silang. Sehingga saya paham betul tingkat kehadiran saya dan bagaimana saya bisa memanage pembolosan ini. Hingga hampir setiap konsultasi rencana studi, bapak Mustofa, M.Sc., beliau guru pembimbing akademik saya bertanya, “Anggi semester depan mau bolosan lagi?”. “Tidak bapak, saya bukan membolos, saya hanya ijin untuk agenda tertentu”.

Well... Padahal kita ketahui bersama memang prosentase kehadiran menentukan Indeks Prestasi Kumulatif, sehingga predikat Cumlaude sangat mustahil saya dapatkan dengan bertindak seperti ini. Tapi, sekali lagi ini pilihan saya. Saya bukan orang yang terlalu memikirkan hasil, tapi proses. Ini sudah cukup relevan dengan teori aksi dan reaksi, hasil tidak akan mengkhianati proses. Walau jelas IPK dihitung dari rumus kehadiran juga, hehe. Mengikuti kuliah umum di kampus tetangga selalu jauh menarik, berdiskusi dengan para pakar dan praktisi jauh lebih menggoda, dan beberapa agenda dengan Dinas Koperasi dan UKM, Dewan Perwakilan Rakyat DIY, serta kantor pajak sering mewarnai masa perkuliahan saya. Tidak dipungkiri kenapa saya lebih memilih itu kan? Hehe. Dear, seluruh dosen saya, maafkan mantan mahasiswamu yang nakal ini, nggih.

Ok, back to the topic. Menyelesaikan skripsi. Well, saya mahasiswa angkatan 2011, rekan-rekan saya beberapa sudah lulus tepat waktu, Agustus tahun 2015. Sedangkan saya masih terlalu asik berkecimpung di kampus, 2015 masih bahagia mendapat kesempatan study ke negeri para TKI – Hong Kong, mengikuti Humanitarian Affair yang diadakan oleh University Scholar Leadership Symposium. Skripsi? Belum kepikiran sama sekali. Padahal kewajiban kuliah kelas sudah saya selesaikan awal semester 6 tahun 2014, karena saya termasuk rajin mengikuti semester pendek, jadi sering ikut kelas senior hingga kehabisan SKS, di semester 7 tahun 2015 sudah tidak kuliah lagi, hanya jalan-jalan ke Bali yang kita sebut dengan Kuliah Kerja Longholiday (eh, Lapangan). Kemudian, tahun 2016, Februari akhir, usai sudah amanah di organisasi kampus. Tidak ada alasan lagi untuk menghindari satu bendel yang kita sebut, “SKRIPSI”. Walau sudah di sambi main, naik gunung, piknik dan tralala trilili lainnya.

Kemudian satu pesan yang sangat mengena hingga saat ini, pesan Line dari pak Rektor, Bapak Rochmat Wahab, “Anggia, commited dengan hobby dan keahlian perlu terus dijaga, tapi yang jauh lebih penting adalah skripsinya untuk tunjukkan kepada orang tua.” #jlebbb #pakebanget seakan langit runtuh dan daun berguguran.

Mencoba membulatkan tekat bahwa ini tidak main-main. Finally, dosen pembimbing saya mengirim pesan via whatsapp, “Anggi, sudah selesai ya di Kopma? Jadi kapan proposal bisa diajukan?”. Mengusap keringat sambil menjawab, “Segera, Pak”. Beliau pak Aula Ahmad Hanafi Saiful Fikri, M.Sc. dosen pembimbing yang baik awalnya hingga lama kelamaan badmood juga dengan saya. Beberapa hari kemudian saya serahkan proposal, dan... “Ya, besok seminar. Urus kelengkapannya segera”, begitu yang pak Aula sampaikan. “Pak, tapi... ini belum direvisi?”, “Sudah tidak apa, besok juga direvisi dosen penguji”. Singkat cerita benar, saat seminar saya benar-benar dibantai. Pertanyaan demi pertanyaan, coretan demi coretan. Nekat, asli nekat banget. Tapi alhamdulillah terlampaui juga. Beliau lah pak Supriyanto, M.M., dosen yang terkenal perfeksionis soal skripsi dan tugas kuliah lainnya. Kebetulan sekali skripsi saya tentang analisis keuangan perusahaan, dan sungguh tepat sekali beliau merupakan master manajemen keuangan dari kampus tetangga - UGM. Saya yang dasarnya fokus pada koperasi dan kewirausahaan ini, mencoba skripsi tentang keuangan, benar-benar dari nol dan dihadapkan langsung dengan masternya. So perfect. Tapi saya optimis bahwa ini mudah dan bisa sangat cepat dalam pengerjaannya daripada saya harus meneliti koperasi.

Ok, singkat cerita, yang tadinya dibantai langsung bisa selesai dalam waktu 3 bulan lebih berapa hari. Ini karena disambi main, revisi 1 hari, mainnya sebulan. Astaghfirullah... sempat juga cidera kaki hingga tidak bisa jalan dengan normal beberapa waktu, kecelakaan tunggal di jalan kaliurang KM 5, sungguh, memalukan. Mampir kopma dulu, melihat kaki bocor, baru ke RS Sarjito, nambal dulu. Selang berapa hari belum sembuh bocor alus dikaki, luka masih basah, sudah ditambah cidera engsel kaki lagi karena lompat-lompat kursi kampus, ini jauh memalukan. Akhirnya ke klinik terapi cidera di kampus. Selang beberapa waktu, Bapak pembimbing yang baik hingga badmood ya karena ini, beliau chat lagi, “Bagaimana revisinya?”. Saya jawab, “Segera Pak, saya masih mengerjakan di Bareskrim Depok”. Harus disambi wawancara kasus penggelapan dan penipuan yang dialami para pengusaha persewaan kamera di Jogja saat itu karena ada sindikat penipu yang merupakan tahanan lama yang udah mondar mandir penjara, jadi udah pengalaman banget lah soal pemalsuan identitas. Wis, complicated banget lah, haha. Seru. Namun.... akhirnya selesai juga, saya ujian bulan Juni pertengahan dan benar-benar ngebut revisi hingga terdaftar yudisium bulan Juli juga, karena saya mengejar wisuda Agustus 2016.

Banyak yang dikorbankan, termasuk tiket ke Malaysia yang hangus karena waktunya tidak terkejar saat revisi skripsi. Maaf ya teh Devie, jadi harus berangkat sendirian ke negeri jiran.
Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah saya dalam berjuang menyelesaikan skripsi. Baik? Jelas tidak. Saya mahasiswa agak menyimpang memang, tapi selalu berusaha lurus dan membuat makna.
Waktu adalah Sesuatu yang Sangat Berharga dan Tidak Bisa Berulang, Begitu pun Pengalaman.

Teman-teman yang sedang menyusun skripsi, coba bulatkan lagi tekat kalian. Alasan kenapa kalian harus banget menyelesaikan itu semua. Kadang memang, “AH yang penting lulus tepat pada waktunya”. Big, No. Itu kalimat andalan saya dulu memang, tapi... itu akan menunda waktu kalian untuk welcome to the real world. Yang jauhhh jauhh lebih membutuhkan waktu dan tenaga kalian. Ingat, keluarga di rumah menanti. Dan ingat, sehari menunda skripsi sama dengan sehari menunda pertemuan kalian dengan jodoh #eh #kokbisa


Ok, back to the point. Skripsi yang baik adalah skripsi yang dikerjakan ya guys, malas itu bukan pilihan! :)

Senin, 15 Mei 2017

Pendakian Gunung Slamet: Slamet mean Safe, Safety First

Waktu itu, bulan Maret 2016. Salah satu tempat pelarian dari revisi skripsi. Sudah daftar jauh-jauh hari memang untuk mengikuti Eat, Sleep, and Hike 7 (ESH7) yang diadakan oleh Cozmeed Indonesia yang berlangsung pada 25 – 27 Maret 2016. Entah angin apa yang membuat saya mendaftar acara tersebut, sendiri. Pendakian gunung Slamet 3428 Mdpl via Baturaden, Purwokerto.

Singkat cerita, saya membuka email, dan mengecek list nama peserta. Fine. Tidak ada teman satu pun yang berangkat dari Jogja. Oke tidak masalah. Saya pesan tiket kereta sendiri waktu itu, dan booking rumah Indah Rahayu di Purwokerto untuk transit.

Cerita dimulai 23 Maret 2016 malam hari, H-1 sebelum keberangkatan. Mendadak ada info sangat urgent dibutuhkan darah O untuk anak penderita Leukimia di Sarjito, entah tidak kepikiran apapun langsung menuju Sarjito untuk donor. Kurang lebih pukul 23.00 WIB, saya selesai donor. Kemudian lanjut istirahat karena besok kereta pagi menuju Purwokerto sudah berjalan. Singkat cerita, 24 Maret 2016, entah badan rasanya enak banget buat tidur. Untung saja tidak bablas ke Cilacap ya. Masih dengan hawa ngantuk dan agak sempoyongan, masih efek donor dan kurang tidur semalam. Kemudian Indah menjemput di Stasiun dan kami memutuskan untuk dopping daging rendang favorit di rumah makan padang. Entah kenapa masih juga mengantuk, akhirnya numpang tidur dulu sebelum Technical Meeting pendakian nanti sore di Cartenz Purwokerto. Sebenarnya persiapan masih sangat amat kurang, mendadak banget, asli. Masih sibuk beli celana lagi karena kurang, beli gas, dan beli-beli lainnya. Singkat cerita, sore hari saya berangkat TM, ternyata TM itu langsung menuju basecamp pendakian Gunung Slamet via Baturaden. Asli, belum siap. Badan rasanya masih kekurangan darah. Tapi semangat, bismillah.

Dari Cartenz Store Purwokerto menuju basecamp kami naik mobil, karena saya terlambat dan tertinggal bus rombongan. Alhamdulillah, mba dan masnya sabar menanti, jadi kita tetap berangkat bersama walau terlambat. Alhamdulillah, yang tadinya berangkat sendiri langsung jadi banyak teman dari Jakarta, Surakarta, Depok, Semarang, Surabaya, dll. Asli, tidak terasa kalau dari Jogja berangkat sendiri.

Pendakian ini ada lebih dari 50 peserta dengan 8 perempuan dan sisanya adalah pria. Memang merupakan pendakian dengan jalur yang tidak biasa. Biasanya kalau ke gunung Slamet kita melalui pos Bambangan, Purbalingga. Oke, singkat cerita lagi, materi demi materi pendakian sudah kami serap. Banyak hal yang saya dapat disini, bukan hanya teman dan kesenangan, tapi materi pembekalan juga di alam bebas. Ya mirip waktu masih di organisasi pecinta alam dulu. Tapi ada uniknya karena ada materi tentang alam dan sosial media yang dibawakan oleh mas Jarwo (ini mas-mas yang lumayan sering saya repotin, sampai nama saya disebut juga kan di blognya, maaf ya mas).

Setelah serangkaian acara pembukaan dimulai waktunya istirahat, kami tidur di pendopo. Esok harinya, 25 Maret 2016, setelah sarapan dan keperluan lainnya kami mulai perjalanan pukul 9.00 WIB. Pemanasan dan lain-lain dulu sebelum jalan jauh. Kemudian naik mobil (jangan dibayangkan, hanya untuk profesional driver, sampai merem-merem naiknya) menuju gerbang pendakian (yang tidak ada wujud gerbangnya sama sekali). Oke, we are ready to start the journey. Hello, Anggi. Lupa ya. Kondisi fisikmu yang sebenarnya bagaimana?

Then, I’ll tell you all something... belum ada satu jam perjalanan, fine. Saya terkena mountain sickness (bisa tanya mbah google ms itu apa). Saya muntah, keringat dingin dan segala macamnya tidak jelas. Warna muka? Jangan tanya, asli pucat sudah. Nah, ini dia masa dimana saya mulai membuat repot mas Jarwo (instagramnya: @xspheriksx), beliau menawarkan untuk membawakan tas carrier saya, jadi beliau membawa dua tas carrier. Asli baik banget mas-mas anggota tim SAR sekaligus fotografer profesional di perusahaan ternama di Jakarta yang satu ini #promote sebagai ucapan maaf, hehe. Padahal dalamnya cukup lengkap beserta tenda dan teman-temannya. Kebayang ya beratnya berapa. Sungguh, rasanya seperti pecundang sih waktu itu, tapi mau bagaimana lagi. Menyadari kelemahan kadang harus. Singkat cerita, mendaki tanpa beban adalah sesuatu yang tidak begitu sulit, hehe. Tapi lihat wajah mas Jarwo malah jadi pucat, alhasil ada mas Tambor yang akhirnya menawarkan untuk bertukar Daypack. Karena beliau tidak membawa tenda jadi daypacknya jauh lebih ringan daripada tas carrier yang saya bawa. Oke, kita lanjut perjalanan dengan bertukar muatan.


Source: Instagram @journeysia saat melewati jalur Baturaden

Singkat cerita, kurang lebih pukul 15.00 wib, melewati POS II, hujan deras. Usut punya usut, mau cuaca cerah atau mendung, di POS ini akan tetap hujan deras. Mulai banyak korban hypotermia pada sesi ini. “Mas, jangan diem aja dong, please!”, itu yang saya teriakan terus, bukan karena ngga suka didiemin, kalau itu udah biasa kok #malahcurhat. Namun, ketika kondisi suhu di lapangan itu tidak bersahabat dan kita diam, kemungkinan terkena hypo sangat tinggi dan resiko kematian juga tinggi. Jadi, pecicilan lah kamu supaya badan tetap terjaga. Saya hanya bisa panik sembari menikmati dingin hujan yang menusuk tulang. Sungguh, jas hujannya tidak begitu ngefek, tetap basah kuyup dengan sepatu yang basah juga. Ditambah dengan banyaknya pacet (red: lintah kecil) yang membuat diri ini semakin grogi. Namun, ada tips supaya tidak terserah pacet. Ini tips langsung dari saya sebaga satu-satunya peserta yang tidak kena pacet. Ternyata menggunakan geitter saja tidak cukup, karena pacet kecil dan bisa menjangkau sampai area terjauh sekalipun. Saya menggunakan trash bag untuk melindungi kaki dari air dan pacet juga tidak bisa masuk.

Hari sudah mulai gelap dan hujan tak kunjung reda. Beruntungnya kami sudah menjamak sholat Ashar tadi dengan Dhuhur sebelum hujan. Dititik ini, agak berlebihan memang, rasanya hampir tidak kuat lagi. Hampir mati. Berjam-jam menggunakan pakaian basah dan hujan tak kunjung berhenti dan kita dituntut untuk jalan terus. “Mas, ngga bisa berhenti dan berteduh disini kah? Sebentar, aku ngga kuat lagi,” itu yang aku ucapkan waktu itu ke mas Nasrul. Pecundang ya aku? Hmm. “Ngga bisa, kita ngga ada tenda, dan kalau berhenti nanti hypo, sebentar lagi kok,” begitu jawabnya. Oke, tetap berjalan dengan nafas kembang kempis. Singkat cerita kami menemukan tempat berteduh sejenak di waktu maghrib, untuk makan mengisi tenaga, POS 3 kurang lebih masih 3 jam lagi. Saya terpisah dengan mas Tambor yang membawa tas carrier saya. Perlengkapan kami tertukar. Akhirnya diberi pinjaman kaos mas Nasrul karena pakaian yang saya gunakan dari tadi sudah sangat basah. Istirahat kurang lebih 30 menit dan kami melanjutkan perjalanan lagi hingga POS 3.

Pukul 21.00 wib, akhirnya di POS 3 tidak hujan, waktunya istirahat. Saya lupa kalau perlengkapan kami tertukar, mas Tambor tidak ada kabarnya sama sekali. Saya meminjam baju, jaket, kaos kaki milik mas dan mba yang ada. Baiknya mereka semua, tapi saya merasa merepotkan. Harus jadi catatan ya, walau berkelompok, yang namanya di alam bebas, harusnya tidak bergantung pada siapapun. Tenda pun akhirnya nebeng, satu tenda kapasitas 2 orang untuk berempat, luar biasa.

Pagi harinya, belum ada kabar sama sekali dari mas Tambor, perlengkapanku semua di sana. Aku ngga mungkin ngga pakai jilbab, stoknya habis, ini yang saya pakai pun cuma buff dengan hoodie jaket supaya tetap menutup aurat. Baju, celana, dll juga ga bisa merepotkan orang lain, mereka juga butuh. Perjalanan hingga puncak dan kembali masih 2 hari lagi. Finally, keputusan yang sangat berat. Akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk turun. Supaya tidak ada korban selanjutnya yang saya repotkan. Saya sadar, fisik dan perlengkapan juga kurang mendukung. Akhirnya saya turun kembali dengan ditemani 1 porter, duh, lupa namanya siapa. Maaf.

Singkat cerita ternyata hujan kemarin cukup keren, kami balik melalui jalur yang sama namun tidak bisa, karena banyak pohon besar yang tumbang. Beruntungnya saya turun dengan mas Porter yang suka bikin jalur, jadi kami mblasak-mblasak di jalur lain. Kemudian, apa yang terjadi setelah turun? Ternyata kami menemukan mas Tambor beserta rombongan lainnya sedang berhenti dan akan turun. Ya Allah, beruntungnya saya memutuskan untuk turun. Jika tidak dan menanti sesuatu yang tidak pasti di atas sana, bisa merepotkan lebih banyak lagi orang. Sudah lah, singkat cerita lagi kami turun bersama rombongan lainnya yang turun juga. Berhubung jalur ini cukup mistis kami harus sampai bawah sebelum gelap, beruntungnya kami bisa lebih ngebut. Hingga maghrib sudah sampai gerbang pendakian dan menanti mobil jemputan. Singkat cerita kami kembali ke rumah mas porter, duh siapa ya. Kami istirahat, bersih diri dan menghirup udara segar dengan kaki ngilu. Disertai oleh-oleh pacet yang masih sempat menyedot darah beberapa orang di rumah.
Source: Facebook. Foto Puncak Slamet

Dari kisah ini, bisa ambil hikmah dari perjalanan saya di Slamet kan ya? Kisah kegagalan yang memiliki makna hidup.
Yup, safety is number one.
Persiapan fisik dan mental.
Perlengkapan juga must ready.
Jangan bergantung pada orang lain.

Salam Lestari!

Minggu, 21 Juni 2015

Memetik Pelajaran dari Merapi

Weekend kali ini sudah saya prediksikan lebih luang dari biasanya, sehingga perlu dimanfaatkan untuk melakukan perjalanan yang telah lama diinginkan. Saya beserta teman-teman saya dari Kopma, dari temannya teman saya, dan juga ada murid-murid saya sewaktu melakukan PPL di SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Kami janjian dan berjumpa di basecamp Merapi via New Selo.

Kronologinya, hari itu, Sabtu 19 Oktober 2014 seperti biasa saya beraktivitas seperti biasa. Pukul 07.00 WIB di Kopma UNY ada agenda Short Course Kewirausahaan, ada pengisi acara dan materi yang asik untuk disimak. Kemudian, sekitar pukul 11.00 WIB saya berbincang dengan salah satu pembicara, yaitu mas Rafi pemilik Seven Heaven Tour and Travel yang ternyata tunangannya sahabat saya waktu SMA, wah, dunia begitu sempit. Setelah kita berbincang, saya menawarkan kerja sama untuk bersama membangun usaha Bimbingan Belajar yang sedang saya dan tim kembangkan, alhamdulillah respon dari mas Rafi baik. Tak terasa perbincangan berlalu dan menunjukkan waktu shalat Dhuhur telah berlalu dan acara Short Course ini akan segera berakhir. Setelah shalat dhuhur, saya menunggu Andi (ketua Short Course) selesai berbenah dan evaluasi acara, karena dia merupakan salah satu orang yang akan ikut dalam perjalanan ini. Setelah evaluasi, kami berbergegas, saya lupa saya belum packing. Awalnya janjian pukul 15.00 WIB sudah meluncur basecamp, alhasil kami baru bisa merapat sekitar pukul 17.30 WIB, kemudian kami bergegas berangkat dan memutuskan untuk shalat Maghrib di jalan. Dalam rombongan pertama, ada 8 orang yang berangkat yaitu saya, Andi, Sisi, mas Agung, dua anak murid PPL (Dicki dan Fendi), Umar dan satu anak sosiologi yang saya lupa namanya. Beberapa teman saya yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu lagi menyusul kemudian.


Singkat cerita, kalau tidak salah sih, masalahnya kisah ini sudah terlalu lama untuk diceritakan, hehe. Sudah lah, anggap kami tiba di basecamp new Selo pukul 21.00 WIB. Kondisi basecamp padat dan ramai, beruntung kami masih mendapat ruang untuk sekadar berselonjor dan menaruh barang sejenak saat ditinggal shalat. Setelah kami menaruh barang di basecamp, sembari menanti rombongan yang lain, kami berangkat shalat Isya. Tak disangka-sangka, bahwa halaman hampir semua basecamp yang ada sudah padat merayap kendaraan parkir. Saya mulai pusing. Namun, kami lanjutkan untuk mencari air wudhu. Ternyata di basecamp Merapi tak semudah Merbabu dalam persoalan air, disini sangat langka. Kami menanti cukup lama untuk mendapatkan air seadanya untuk berwudhu. Setelah itu, kami shalat. Pasca shalat, hasrat ingin ke kamar mandi cukup besar, tapi apalah daya, air sangat sulit ditemukan. Kami menunggu. Hingga waktu yang cukup lama.


Setelah urusan perairan selesai, kami tak lupa mengisi perut. Ternyata di dekat basecamp kami ada warung kecil yang menyediakan gorengan, makanan dan minuman. Kita santap dahulu. Setelah memenuhi ruang di perut dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 00.30 WIB alias sudah ganti hari yaitu Minggu 20 Oktober 2014 kami melakukan perjalanan naik. Kami sudah dengan tim lengkap kurang lebih 20 orang dari berbagai kalangan. Kami melakukan doa bersama dan mulai berangkat satu persatu.


Singkat cerita, tim kami terpecah hingga tiga bagian. Saat itu, saya harus menemani anak murid saya yang memang masih newbie dalam pendakian gunung. Saat itu, kondisi mereka belum cukup kuat. Namun, karena saya yang membawa kedua murid saya ini, saya harus bertanggung jawab dan tetap menjaganya sampai akhir. Ini anak orang, kalau kenapa-kenapa saya yang bersalah. Apalagi mereka sudah ijin kepada kedua orang tua mereka, tak seperti saya. Akhirnya, walau kami jalan pelan-pelan dan banyak berhenti, sekitar pukul 3.30 WIB, sampailah kami di watu gajah, beberapa meter sebelum pasar bubrah. Karena kondisi anak-anak tidak memungkinkan untuk lanjut, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dulu di sini, di balik bebatuan besar. Ada satu kesalahan yang saya lakukan, yaitu hanya membawa satu tenda yang rencananya memang hanya untuk peserta perempuan, yaitu saya dan Sisi. Namun, karena kondisi anak murid saya yang terlihat belum cukup kuat untuk tidur diluar, akhirnya tenda ini digunakan mereka berdua, ya semoga dapat membantu. Akhirnya, saya, Sisi, Mas Agung, Umar dan anak sosiologi tidur tanpa tenda dan mengenakan sleeping bag kami masing-masing. Udara tak cukup bersahabat, sleeping bag bukan double polar ini tak cukup menghangatkan badan saya, saya pun tak bisa tidur. Hanya bisa glundang-glundung. Hingga dua jam berlalu tanpa bisa tidur, kemudian saya memutuskan untuk masak yang hangat-hangat saja dan shalat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.


Sudahlah, singkat cerita sekitar pukul 6.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke puncak Merapi, karena jika setelah pukul 12.00 WIB konon kondisi gas di puncak akan tidak bersahabat. Puncak tampak begitu terlihat dari pasar bubrah, tetapi setelah dilalui butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai sana. Itu karena saya salah jalur dan harus lompat ke jalur yang benar dan diridhoi oleh-Nya.
Track menuju puncak yang berbatu dan pasir ini cukup menantang. Sesekali ada teriakan, “awas batu”. Sesekali kami bergeser dan mengamankan diri. Pada akhirnya setelah hampir 2 jam perjalanan kami sampai juga di puncak Merapi 29.68 Mdpl. Kami disuguhkan pemandangan yang sangat eksotis di puncak ini. Namun sayang, ramai sekali di atas sini, kami tak bisa banyak bergerak, mau kemana-kemana penuh. Ya sudah, setelah cukup menikmati kekayaan Sang Pencipta, kami mohon undur diri dan kembali turun. Tak sesulit naik, turun dari puncak kami cukup perosotan, tak sampai 1 jam kami sudah sampai pasar bubrah lagi.


Cerita yang cukup simpel, dhuhur kami sudah sampai tempat kami mendirikan tenda.
Namun, sebenarnya tak begitu simpel cerita kami ini. Ketika malam ada teman kami yang menyusul, dia ternyata tak begitu beruntung. Percaya atau tidak dia diikuti oleh sesosok yang menyerupai pendaki, namun menghilang beberapa saat setelah sosok itu diajaknya berjalan bersama. Dan masih ada sosok-sosok yang lain.


Hikmah yang bisa kita petik: jaga diri, jaga hati dan terutama jaga alam yang indah ini.


Salam lestari!

Jumat, 11 Juli 2014

Sebuah Perjalanan: Merbabu Adventure

Sebuah Perjalanan :)

Rabu, 02 Juli 2014

Memaknai Setiap Langkah Merbabu

Point View Back of Merbabu
Sabtu 21 Juni 2014 ini begitu cerah, saya awali hari dengan jogging bersama mas Agung dan mas Budi. Biasanya saya hanya sanggup setengah putaran, kali ini bersama mereka dua putaran plus jalan santai satu putaran di Embung Tambak Boyo (Condong Catur, Sleman) saya libas. Tempat ini sangat cocok untuk jogging karena selain track yang panjang, tempat ini juga menyediakan pemandangan yang begitu indahnya. Setelah jogging berlangsung, kami memanjat dinding di sekitar pinggiran Embung yang membatasi wilayah warga dengan wilayah wisata embung ini sendiri. Dari atas, kami dimanjakan lagi dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata. Setelah itu, kami menutup acara pagi ini dengan sarapan di Warung Soto di daerah Klebengan. Hemm, hari yang begitu menyegarkan.

Setelah jogging, saya langsung kembali melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Ya, berangkat ke Kopma UNY tercinta dan melakukan beberapa aktivitas seperti biasanya. Lalu, apa yang berbeda dihari ini? Ya, banyak yang berbeda, terutama setelah dari Kopma, saya mulai ‘packing’ menyiapkan seluruh pembekalan untuk perjalanan hari ini. Setelah dari Kopma saya mampir mini market untuk berbelanja kebutuhan perjalanan. Dengan bermodalkan tas carrier pinjaman beserta matras dan sleeping bag pinjaman juga saya mulai packing. And finally, packing done pukul 16.00 WIB dan saya menanti adek angkatan Ikatan Siswa Pecinta Alam (Iksapala), Lely, agar kami bisa berangkat bersama. Belum ada kabar dari anak itu. Kemudian saya memutuskan untuk menunggunya di Toko Planet Adventure supaya ada teman tunggu, hehe

Tak kunjung muncul, ternyata tiba kabar bahwa dia akan tiba setelah Isya. Kemudian, setelah saya menjemputnya di Pasar Gamping, kami menuju jalan kaliurang menjemput dua laki-laki yang keduanya juga merupakan adek angkatan saya. Baru sadar, mereka semua merupakan angkatan T dan saya sendiri adalah angkatan S. Dalam Iksapala, nama angkatan berurutan berdasar Abjad. Setelah menjemput mereka dan shalat di kontrakan mereka, kami pun bergerak walau hujan membersamai kami. Sekitar pukul 20.00 WIB kami berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang dan pukul 22.00 WIB basecamp Merbabu via Wekas menyambut hangat tubuh kami ini. Perjalanan memang tidak berjalan begitu mulus, motorku yang dua tahun lalu pernah melewati jalanan ini dari gerbang Wekas hingga basecamp membawa seorang cewek kuat tanpa harus menurunkan penumpang, kali ini benar-benar sudah tidak kuat, dengan terpaksa Lely harus berjalan kaki.

Setibanya di basecamp kami meletakkan sejenak carrier-carrier yang penuh dengan perbekalan kami. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami memesan makan yang disediakan di basecamp. Dengan iuran Rp 7.000,- cukup untuk nasi telor sayur dan membuat kami kenyang. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 00.05 WIB dan berganti hari. Ya, saat itu hari berganti Minggu, 22 Juni 2014. Kemudian, kami bergegas agar kita segera bisa istirahat di camping ground atau POS II. FYI jarak basecamp sampai puncak berkisar 5 km. Jadi jelas kami harus berhenti sebelum melanjutkan ke puncak. Singkat cerita, kami sampai di POS II pukul 03.30 WIB, cukup lama memang karena tubuh yang kondisinya sudah cukup lelah dengan aktivitas hari itu dan memang kami adalah pendaki hore. Rencana ingin menyusul adik-adik kami yang sedang melaksanakan Pendidikan Lanjut (Dikjut) angkatan X pun pupus karena faktanya mereka sudah beranjak ke puncak pukul 03.00 WIB. Jelas kami tidak bisa menyusul mereka, setelah mendirikan tenda, sekitar pukul 04.00 WIB kami memutuskan untuk tidur dan melanjutkannya nanti.

Pukul 05.30 WIB kami bangun dan kami sadar kalau kami telat sholat subuh, hehe. Udara merbabu mendekap kami begitu erat hingga susah bangun. Sleeping bag pun rasanya enggan lepas dari tubuh kami. Beruntungnya POS II begitu bersahabat, sumber air yang melimpah membuat kami tidak kebingunan untuk wudhu. Dan pagi ini rasanya wudhu dengan air kulkas, beku

Setelah berwudhu kami, bergegas menyalakan kompor. Beruntung ada seksi konsumsi (baca: Lely) yang langsung menawarkan makanan dan minuman hangat untuk menghangatkan tubuh kami sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak. Lely juga yang bersedia jaga tenda, sedangkan saya, Haris, Candra dan Halim melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Jadi, pukul 07.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke Puncak, masih sekitar 3 – 4 jam perjalanan lagi. Perjalanan kali ini membawa bekal secukupnya. Tas carrier yang besar itu harus ditinggal karena medannya kali ini cukup berat. Membawa air mineral sekitar 2 botol 1,5 liter untuk 4 orang kami rasa cukup, beserta roti secukupnya.

Diperjalanan memang saya akui saya yang paling lambat, saya menikmati setiap perjalanan dengan sesekali menghadap belakang dan menarik nafas. Pemandangan dibelakang sangat cantik, terlihat beberapa jajaran pegunungan yang memanggil meminta didaki. Dalam perjalanan, akhirnya kami bertemu dengan rombongan Iksapala. Kondisinya kami baru naik tapi mereka sudah turun. Tak apalah, yang penting bertemu.

Singkat cerita...
Ternyata dilematika itu muncul, ketika tiba dipersimpangan antara Puncak Sarif dan Kenteng Songo. Posisinya, Puncak Sarif tampak begitu dekat, paling sekitar 15 menit dan Kenteng Songo masih jauh berliku, sekitar 45 menit bahkan satu jam dengan medan yang spesial. Saya hampir memutuskan untuk menuju puncak Sarif saja dengan kondisi kaki yang bergetar.

Namun, terlintas dipikiran, “Lalu apa arti perjuangan? Kenapa harus setengah-setengah?”
Akhirnya saya memutuskan untuk ke Kenteng Songo. Perjalanan memang tidak mudah, tapi menyengkan. Walau sempat bertemu dengan mbak-mbak yang kakinya dibalut kassa karena terkilir atau patah tulang. Memang, butuh teknik climbing yang baik. Beruntung dulu kami pernah belajar.

Singkat cerita (lagi)
Kami sampai di puncak pukul 11.00 WIB, ya empat jam perjalanan, begitu lama tapi memuaskan. Sesampainya di Puncak, saya mengeluarkan kertas dan spidol untuk menulis beberapa kata ucapan terima kasih terutama untuk Mama yang sudah mengijinkan, ini kala pertama saya diberi ijin naik gunung, haha. Ohya, diatas selain foto-foto, saya tidur di Puncak Kenteng Songo. Panas begitu menyengat dengan pakaian serba hitam menambah mudah perjalanan sinar matahari menuju tubuh ini.

Singkat cerita (lagi dan lagi)
Kami turun pukul 13.00 WIB dan sampai lagi di POS II pukul 15.30 WIB, ya cukup lama. Tapi saya nikmati. Setibanya di POS II, kami disuguhi makanan lengkap nasi sayur dan lauk oleh Koki handal kami, saudari Lely. Setelah kenyang makan, kami baru shalat Ashar dan Jama’ Dhuhur. Kembali lagi di POS II kami istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan pulang pukul 17.00 WIB.

And finally, kita sampai Basecamp bada Isya. Karena kaki rasanya tidak bersahabat, terutama mata yang sudah sayup-sayup. Kami pun memutuskan untuk menginap di basecamp dulu hingga esok baru pulang. Hmm, sekian dulu ceritanya J

Sabtu, 28 Juni 2014

Banjir Hadiah dan Keseruan di Acara Roadshow Qwords.com

Kamis, 12 Juni 2014 pukul 18.30 WIB hingga 22.00 WIB di Riverside Kampung Kuliner Pringwulung, Yogyakarta. Qwords.com mengadakan sebuah acara yang memadukan diskusi interaktif dan berbagai games seru. Tidak ketinggalan, free dinner dan banyaknya doorprise yang menambah keseruan acara saat itu. Acara yang mengundang segenap anggota komunitas Tangan Di Atas (TDA) dan Blogger Jogja ini memilih tema tentang Kepenulisan dan Web Desain.
Diawali dengan sambutan Master of Ceremony (MC) yang mempersilahkan peserta untuk menikmati hidangan terlebih dahulu, agar dalam berjalannya acara para peserta bisa fokus mengikuti. Selain itu, MC membawa kabar bahwa Qwords.com akan membuka cabang baru di Yogyakarta sekitar bulan depan.
Setelah selesai menikmati hidangan, sesi pertama diisi oleh seorang penulis best seller yaitu mbak Mini (@miniGeka) yang akan membuat para peserta kecanduan menulis. Singkat cerita, mbak @miniGeka menjelaskan tentang perjalanan menulisnya dan berbagai tips menulis. Ia biasa menulis tulisan-tulisan fiksi yaitu cerita rekaan. Dalam menulis, ada beberapa keyword untuk menulis sebuah novel, yaitu: siapa tokoh, apa goal/tujuannya, siapa yg menghalangi mencapai tujuannya itu, bagaimana dia mengalami kegagalan, adegan dramatis, dan ending yang mengena. Selain itu, karakter dalam sebuah novel harus unik dan rasional.

Mbak @miniGeka saat membawakan materi (sumber: twitter @Blogger_Jomblo)

Mbak @miniGeka dalam perjalanannya tentu tidak selalu berjalan mulus. Banyak juga halangan dan rintangan yang Ia hadapi untuk menjadi penulis. Mengikuti alur sebuah naskah/buku mulai dari editor naskah, penerbit, distributor, toko hingga pembaca bukan lah hal yang mudah. Beliau juga pernah mengalami kendala dalam waktu penerbitan yang memang tidak singkat. Berbagai step by step ia lalui. Oleh karena itu, mbak @miniGeka memberi tips, yaitu jadilah orang yang sering membaca, jalan-jalan, mencatat, melihat, mendengarkan agar ide dalam pikiran selalu mengalir dan cerita yang kita tuliskan memiliki “ruh”. 

Mas @gukseta saat membawakan materi web desain (sumber: twitter @fathurreza26)
Kemudian sesi kedua, ada mas Seta Pausa M (@gukseta), seorang web master yang memiliki bisnis web desain (Divren Web). Secara sekilas mas @gukseta menjelaskan beberapa keunggulan Web Desain dibandingkan SEO. Diskusi menjadi panas ketika adanya pertanyaan dan berdebatan. Jadi, menurut mas @gukseta alasan SEO tidak lebih unggul dari Web Desain karena SEO isinya hanya teks semua namun desain bisa berbacam-macam mulai dari video, gambar, teks dan berbagai hal yang menarik lainnya. Kemudian, SEO yang mahal akan terkalahkan juga dengan social media yang menawarkan fasilitas gratis untuk bisa beriklan dimana pun dan kapanpun. Kemudian mas @gukseta menjelaskan berbagai tips agar website kita lebih menarik peminat atau pembeli jika website kita menawarkan jasa maupun barang dagangan. Diskusi dengan mas @gukseta kali ini benar-benar panas dan membuka wawasan kita tentang dunia website.
Setelah kedua sesi terlewati, saatnya pengumuman-pengumuman. Ada berbagai pengumuman pemenang mulai dari pemenang lomba Selfie yang berhadiah Tongkat Narsis (Tongsis), lomba live twit ke twitter @Qwordsdotcom dengan hastag #QwordsRoadshow yang berhadiah flashdisk (FYI saya alhamdulillah dapat ini, hehe) dan ada pengundian hadiah Handphone Android beserta Tab. Seru kan acara dan hadiahnya? Dan perlu kalian ketahui, acara yang sangat seru ini juga dalam rangka merayakan #QwordsAnniversary 

So, HAPPY BIRTHDAY QWORDS by Anggia Zainur :)


Rabu, 04 Juni 2014

Urgensi Headlamp dan Kompas dalam Manajemen Perjalanan

Headlamp (pinjaman) dan Kompas (milik pribadi)
Dari judul postingan ini saja sudah cukup mengerikan ya? 
Bayangan kalian pasti tentang ilmu yang berat-berat, haha.
Maaf apabila tidak seperti yang dibayangkan. Postingan ini hanya akan menggambarkan tentang pentingnya headlamp atau lampu senter bagaimana pun bentuknya dan juga kompas (bagaimana bentuknya juga) yang keduanya akan harus selalu ada dalam dekapan kalian saat berpergian melalui sebuah kisah.

Jadi, alkisah, pada jaman dahulu kala
Ada seorang gadis cantik jelita, sebut saja pemilik blog ini (jangan muntah, plis)
Ah, sudah lah, bingung ceritanya...

Jadi langsung kembali ke topik kita tentang headlamp, sesuai pengalaman saya dan teman seperjalanan. Pentingnya headlamp atau senter berbagai bentuk dan merk apapun akan sangat terasa saat gelap tiba. Karena apa? ya karena kalau masih terang tanpa ini pun kita masih bisa melihat.

Eh, maksud saya, dalam perjalanan apapun pasti tidak ingin melewati perjalanan tanpa ada kegiatan malam hari seperti camp, api unggun, istirahat di alam bebas dan semacamnya. Jadi tentu lah jangan lupa membawa benda yang satu ini.

Dan yang perlu diingat juga, jangan karena mentang-mentang di jalan ada lampu seperti di Gunung Api Purba Nglanggeran itu, tapi ada banyak jalan yang benar-benar tidak terkena cahaya lampu. Waspadalah!

Dan yang sangat perlu diingat, jangan biasakan diri kita bergantung pada orang lain. Berharap orang lain ada yang membawa senter sih ngga masalah, tapi yang jadi problem ketika orang lain itu bertepuk sebelah tangan. Gimana coba rasanya? Sedih kan. Sedih kalau ternyata dia sudah men-senter-i seseorang yang lain, dan lebih sedih lagi kalau kalian sama-sama berharap dan mengandalkan satu sama lain, alhasil tidak ada yang membawa senter.
Sebenarnya tidak apa tidak bawa senter, kalau saja di mata kalian sudah ada sistem penangkap sinyal infrared #apasih

Kembali ke alkisah, kini kisah tentang pentingnya kompas dalam suatu perjalanan.
Tidak peduli besar atau kecilnya perjalanan tersebut, tetaplah kompas perlu dibawa, kenapa?
Jangan sampai sok-sokan tahu arah, tapi ternyata sholat jadi menghadap timur (berlawanan kiblat)
Jangan sampai lupa jalan pulang, nanti nasibnya sama kayak Butiran Debu.

"....aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi,
aku tenggelam dalam lautan luka dalam.
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang,
aku tanpamu, butiran debu."

Ya kalau tersesat kurang dari 24 jam, lha kalau udah lebih dari dua-tiga hari bahkan seminggu?
Selain kehabisan logistik, bisa-bisa kalian ditemukan Tim SAR tinggal tulang belulang.

So, don't miss your lamp and compass ya guys.
Be smart and be happy :)

Minggu, 25 Mei 2014

Mix and Mie

Mix and Mie
Tidak afdhol rasanya ketika naik gunung tanpa ditemani yang satu ini. Ya, mie instan.
Makanan paling simpel dibawa kemana pun dan dimakan kapan pun.

Aku yang selalu merindukan campuran mie dari berbagai rasa dan berbagai merk dijadikan satu sajian yang dimasak di atas kompor lapangan dengan nesting seadanya.
Ah, aku merasa lebih jago dari master cheft dunia sekalipun :)

Sabtu, 28 Desember 2013

SAYA (BUKAN) AKTIVIS, HANYA BERUSAHA AKTIF


Ya, judul yang paling tepat menurut saya. Saya memang bukan aktivis, saya hanya orang yang berusaha aktif dimana pun. Tapi teman-teman selalu bilang, “Anggi sibuk, Anggi mana ada waktu buat main.” Ngga, ngga seburuk itu kok hidup orang yang agak aktif seperti saya. Saya menganggap semua aktivitas ini adalah pengganti main. Saya ingat perkataan pak Arsyad (Pengawas Kopindo) saat acara Dikmenkop se-DIY yang saya dan teman-teman adakan, beliau mengatakan, “Di Kopma itu mengefisienkan waktu bermain.” Ya benar, bermain jadi lebih efisien ketika kita isi dengan hal-hal positif apalagi berhubungan dengan banyak mahluk eh, orang.
Kenapa bilang berusaha aktif? Ya karena saya tidak bisa diam. Sejak sekolah dasar saya aktif diperlombaan, terutama Pramuka. SMP, hampir semua eskul saya ikuti, pokoknya saya tidak mau pulang lebih awal. Sejak SMP saya terbiasa pulang sore, sembari menunggu Mama pulang dari kerjanya. Saya ikut Pramuka, PMR, BTA, komputer hingga lukis. Menginjak SMA pun tak jauh beda, saya ikut 3 organisasi, Pramuka, Iksapala (Ikatan Siswa Pecinta Alam) dan PKS (Patroli Keamanan Sekolah), ketiganya berhasil membuat saya selalu pulang sore bahkan sabtu-minggu bermalah di sekolah maupun berkemah. Tapi semua itu lambat laun menjadi hobi. Saya terlalu bosan dengan kehidupan sekolah yang hanya belajar-pulang-belajar-pulang, menderita. Berbeda ketika punya banyak teman dan banyak amanah, rasanya bahagia dan perputaran ide diotak lebih cepat.
sumber: old.leutikabooks.com
Namun, menjelang kuliah saya harap bisa menjadi pribadi yang lebih fokus, karena tidak hanya organisasi yang diurus, termasuk pekerjaan, dll. Saya mulai jatuh hati pada satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Koperasi Mahasiswa UNY. Diawal kami sepertinya memiliki chemistry, kewirausahaan. Ya, saya sangat suka berwirausaha. Mungkin faktor keturunan. Tapi bukan juga sih, mungkin faktor pembiasaan, dari SMP juga sudah menjajal berwirausaha, mulai dari rental Play Station milikku sendiri hingga jaga counter dengan alih-alih semua laba menjadi milikku saat itu hehe. Saat itu belum terpikirkan tentang beban, biaya, dan semacamnya.
Oleh karena itu, dari awal saya aktif di Kopma dan di Himpunan Mahasiswa Jurusan juga (HMPE) dan juga dibeberapa UKM olahraga, tapi hanya sebatas menyalurkan hobi. Hati saya sudah terpaut satu UKM itu, Kopma. Sampai pada waktu saya patah hati, karena setalah saya menjadi audit internal Kopma UNY, saya masih semester 1. Kemudian Kopma membuka recruitment untuk Asisten Bidang 2012, dan saya ditolak dengan alasan belum cukup umur. Ngga tau kenapa rasanya sakit waktu itu, hingga akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di UKM Fakultas bidang penelitian, Kristal (Komunitas Riset dan Penalaran), bidang yang diamanahkan kepada saya masih sejalan, yaitu Entrepreneur Study and Development (ESD) dan saya mulai melupakan kejadian sakit hati itu. Dan akhirnya saya mulai menikmati dunia saya ini. Hingga akhirnya saya juga mendaftar menjadi manajer di CV Rnb Management. Semakin melupakan rasa sakit itu :)
Kemudian satu tahun berjalan, dan saya terpaut lagi, padahal sudah sempat tidak aktif di Kopma selama berbulan-bulan setelah itu. Ketika itu ada oprek Junior Asisten, dan saya coba daftar dan akhirnya keterima. Kemudian Februari 2013 ada oprek Asisten dan saya keterima lagi, bagian Pengembangan Sumber Daya Anggota (PSDA) tepatnya Asisten Pendidikan Anggota.
Memang, ini bidang yang saya pilih tapi bukan yang saya minati hehe. Tapi, yang namanya Anggi sebisa mungkin ngga akan meninggalkan amanah kok. Ada alasan kenapa saya memilih bidang ini walau tidak saya minati. Semua akan baik-baik saja. Buktinya sampai sekarang masih beres kan? Karena dimana pun saya, saya tetap punya target yang menyesuaikan, biar ngga nganggur geje, karena Anggi paling ngga suka nganggur :)
Saya banting stir dari dunia usaha ke dunia pendidikan, susah banget.  Tapi saya harus menyadari bahwa background kuliah saya adalah kependidikan walau di Fakultas Ekonomi. Jadi mau ngga mau ya harus fasih di dunia kependidikan, mungkin itu juga jadi salah satu alasan saya banting stir. Toh selama ini juga saya turut serta dalam dunia pendidikan dengan mengajar privat anak-anak SD sampai SMA. Jadi masih wajar sih hehe.
Selain kedua dunia itu,eh maksudnya usaha dan pendidikan. Saya juga bergerak dibidang media dan jaringan, ditahun yang sama saya juga diamanahi sebagai koordinator akhwat Media dan Jaringan UKMF Al Fatih. Namun sayangnya disini saya benar-benar merasa kurang maksmimal. Mungkin karena memang saya tak bisa mendua. Proker demi proker terlaksana memang, tapi seadanya, belum ada yang “waw” menurut saya. Jelas ini kesalahan saya yang setengah-setengah dalam mengkoordinir semua staf, padahal saya akui saya memiliki staf yang super luar biasa. Mereka sangat ahli dibidangnya, tapi sekali lagi saya kurang maksimal. Semoga Allah memaafkan segala kekhilafan saya ini.
Berkaca kasus tersebut saya memutuskan untuk fokus kedepan dan tidak mendua. Menjadi aktif memang sulit apalagi aktivis. Tapi semua itu pilihan. Kalau pun harus memiliki lebih dari satu amanah, harus lebih lihai lagi dalam mengaturnya. Sungguh tidak ada manusia yang sempurna dan tak pernah lepas dari kesalahan.

SAYA (MASIH) MAHASISWA


Rasanya hanya ingin sharing pengalaman akhir-akhir ini, dan mungkin mengulas beberapa waktu lalu.
gambar: fikrimet05.files.wordpress.com
Akhirnya November 2013, saya mendaftarkan diri menjadi salah satu agen/finance consultant di perusahaan asuransi ‘raksasa’ ini, PT Prudential Life Assurance. Setelah beberapa hari yang lalu saya melaksanakan rangkaian pelatihan dan tes, kini saatnya saya ujian akhir untuk sertifikasi AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia). Sebelum saya memulai ujian, ternyata masih banyak waktu tersisa untuk menunggu, saya berkenalan dengan seorang bapak, seorang ibu dan seorang mas-mas yang umurnya mungkin jauh diatas saya. Ya, saya paling muda saat itu. Sembari menunggu kami pun berbincang-bincang. Ternyata perbincangannya tak jauh berbeda dengan saya yang anak kuliahan. Mereka yang sudah berumur pun ketika menghadapi ujian akan was-was walau tetap cuek dan malas belajar hehe. Ditengah perbincangan kami, bapak tersebut bertanya pada saya, “kamu masih kuliah? Kok mendaftar di sini?” dengan mudah saya menjawab, “ya, nambah pengalaman pak.” Batin saya berkata, “nambah penghasilan juga.”
Tak berhenti disini, bapak tersebut melanjutkan pembicaraannya, “lha iya ngapain masih kuliah duit tinggal minta ortu kan?”, saya jawab, “tidak pak, saya ingin usaha sendiri.” Kemudian bapaknya bercerita, “Dulu jaman saya kuliah tahun 90an enak, apa-apa tinggal minta orang tua, ngga sampai kepikiran cari pekerjaan segala macam, kalau kekurangan duit tinggal minta orang tua. Mungkin beda ya sama mahasiswa jaman sekarang. Ya bagus lah.”, saya hanya tersenyum menanggapi hal tersebut :)
Akhirnya tidak sampai satu hari, hasil ujian diumumkan dan alhamdulillah saya lolos :)
Sekarang tinggal bagaimana saya belajar mencari peluang dan menjadi professional finance consultant yang sesungguhnya. Semoga Allah selalu memudahkan.
Menyoal pekerjaan, sebelum ini saya pun sudah bekerja bersama teman-teman di UGM (saya anak UNY sendiri), saat itu saya mendaftar di CV Rnb Management milik mas Aliet (sekarang beliau telah bekerja di kementerian keuangan, kalau ngga salah hehe) dan temannya, mas Dino, yang masih melanjutkan kuliahnya di Magister Ekonomi Pembangunan UGM. Saat itu saya mendapat amanah sebagai manajer marketing dan administrasi, dibantu teman saya satu tim ada Shofi manajer Rnb Publishing House dan yang lainnya manajer Rnb Web beserta Rnb Organizer.
Di sini banyak pelajaran yang saya dapat. Tentang kedisiplinan, tentang memberikan yang terbaik untuk mitra bisnis. Ohya ini terjadi ketika saya duduk dibangku semester 2, atau sekitar tahun 2012 awal. Saat bekerja eh, belajar di Rnb ini saya juga masih mengajar lewat salah satu bimbel dan konsultasi di Jogja, katakanlah Indonesia Collage, eh iklan :D
                Bekerja, bekerja dan bekerja. Mungkin hal itu yang pertama kali kalau otak saya bisa dibaca. Namun tidak hanya itu kok, saya pun belajar, kuliah. Walau tragis memang di semester 2 dan seterusnya saya sulit meraih predikat cumlaude seperti semester pertama. Namun, kata dosen saya, “ngga apa-apa kamu ngga cumlaude, besok yang bakal ditanya itu pengalamanmu, bukan IPK mu.”
Ah bahagianya, itu kalimat paling mujarab buat menenangkan saya :)
Intinya saya (masih) mahasiswa dan akan mengutamakan tugas sebagai mahasiswa sebelum tugas-tugas lainnya. Mohon doanya ya teman-teman, semoga kita semua bisa jadi pribadi yang beruntung, sukses dan dijauhkan dari kekufuran. Aamiin.

Jumat, 16 Agustus 2013

MEMORI 14 AGUSTUS


Memang tak asing lagi ketika 14 Agustus diwarnai dengan berbagai perlombaan dan perkemahan. Mungkin telah tercatat dibuku besar sejarah salah satu gerakan di Indonesia yang mereka sebut, Pramuka. Saat itu, pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA (sumber: id.wikipedia.org)
Itulah sejarah di Indonesia yang kemudian disambung dengan sejarah diri saya sendiri. Saya mewarnai tanggal 14 Agustus 2013 dengan mengingat memori beberapa tahun silam ketika saya masih berada di bangku sekolah (sekarang di bangku kuliah sih, hehe). Kurang lebih 11 (sebelas) tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) tepatnya di kelas 4 (empat). Saya mulai menyukai hal baru. Mulai dari tali temali, peluit, P3K hingga permainan-permainan. Seingat saya hal tersebut muncul ketika mulai akan diadakannya “Pesta Siaga” se-Kecamatan Kutowinangun, Kebumen. Sebagai anak pindahan waktu itu (sebelumnya saya bersekolah di Serang, Banten), saya selalu menjadi anak yang ditunjuk kesana kemari untuk ikut lomba. Padahal sejujurnya, saya kurang paham dengan apa yang saya ikuti saat itu. Tapi saya masih polos, jadi terima lah dan hadapi lah.
Ada sedikit cerita yang saya ingat, awalnya saya ditunjuk oleh bapak dan ibu guru Pembina menjadi seorang wakil Barung saya waktu itu, dan dengan polosnya saya pun mau. Beberapa minggu latihan hingga mendekati hari H. Akhirnya ketua Barung pun tidak bisa mengikuti rangkaian acara dan dengan polosnya juga saya menerima saja kenyataan ini bahwa pada hari H harus mengkoordinir teman-teman (yang saya pun masih bingung bagaimana caranya). Akhir cerita Pesta Siaga ini tak cukup membuat bahagia, karena belum bisa membawa piala kebanggaan untuk sekolah tercinta *eaaa *sudahlah
Namun, berbeda cerita ketika saya telah naik tingkat dari Siaga ke Penggalang. Masih di SD juga, namun sudah berbeda tingkat. Saat itu saya mulai lebih fokus dengan ini semua, Pramuka. Setiap hari Jumat kami berlatih dengan senangnya, serius seneng kok. Hingga akhirnya perkemahan tingkat Kecamatan dan akhirnya Regu kami menang dan lanjut ke Kabupaten. Saat itu jabatan saya tak kunjung naik, tetap menjadi wakil regu. Tapi saya bahagia. Persiapan dan persiapan lagi untuk Jambore tingkat Kabupaten. Finally kita belum bisa lanjut ke tingkat Provinsi tapi seingat saya tetap membawa pulang piala bergilir untuk almamater tercinta. Ah entah lah, sejujurnya saya tidak terlalu peduli dengan kejuaraan. Toh dipikiran saya saat itu hanya berkemah dan bersenang-senang, cukup ^_^
Itu cerita di SD, lain halnya dengan Sekolah Menengan Pertama (SMP). Tapi tetep lanjut penggalang yang sesungguhnya! (bocoran: waktu SD, saya harus menuakan umur di Kartu Tanda Anggota (KTA) Pramuka demi ikut lomba di Kabupaten). Di SMP saya telah memiliki KTA dengan umur yang sesungguhnya, haha.
Bukan itu sih yang penting diceritain. Yap, waktu SMP mungkin saya sudah jarang mengikuti perlombaan. Namun di sini lebih ditekankan pada ke-dewan-annya. Saya masih ingat jelas ketika saya masih jadi Andik. Saya masih sering disuruh push-up dan saya juga masih mengalami Kakak Dewan yang menamp*r saya. Waktu itu semua masih sah, demi kedisiplinan dan ketegasan. Eh, giliran saya jadi dewan, hal tersebut sudah dilarang. Saat itu muncul peraturan baru dikarenakan kasus kekerasan fisik dalam senioritas di IP*N. Dalam batin saya bilang, AH SIAL! *eh *astaghfirulloh
Becanda kok ^_^
                Tiba di SMA saya tetap meneruskan, ini juga masuk dalam salah satu ekskul wajib di sekolah saya waktu itu. Mau diwajibkan atau tidak toh saya suka, jadi masuk saja. Walau pun ekskul yang satu ini terkesan “GANAS” but just stay cool. Mulai dari Penegak Bantara hingga Laksana. Mungkin awalnya kesel dengan Kakak Dewan ketika mereka memarahi dan menyuruh kita. Saya yang lagi-lagi tak naik jabatan, menjadi wakil regu (lagi dan lagi) sering “kena getah” juga. Namun, rasa kesel itu hilang ketika saya meneruskan menjadi Dewan Ambalan. Saya menyadari betapa hal tersebut sangat berarti. Kediplinan sangat dilatih, begitu pula ketegasan. Apalagi tugas saya saat itu sebagai Abdi Masyarakat (awalnya Bimbingan dan Pengembangan) adalah membina mental dan fisik adik. Walau sesekali ngerjain Adik yang sekiranya memang mentalnya rendah. Asik kan? ;)
Saya Saat Menjadi Dewan Ambalan

Masih banyak kenangan dan pelajaran dibalik itu semua. 
Betapa indahnya semua saya rasakan saat ini.
Terimakasih, Pramuka.