Menceritakan semua tentang cita, cinta dan petualangan hidup.

Kamis, 05 April 2012

Puisi Terakhir, Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah, 
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza, 
Tetapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu 
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi 

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang 
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra 
Tapi aku ingin mati disisi mu manisku 


Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya 
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu 
Mari sini sayangngku 
Kalian yang pernah mesra Yang pernah baik dan simpati padaku 
Tegaklah ke langit luas Atau awan yang menang 

Kita tak pernah menanamkan apa-apa 
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa 

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahir 
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda 
Dan yang tersial adalah berumur tua 

Berbahagialah mereka yang mati muda 
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada 
Berbahagialah dalam ketiadaanmu 

(catatan seorang demonstran)

Senin, 12 Desember 2011

Malaysia? Musuh kita? sama sekali BUKAN!

just copy-paste, tapi banyak manfaatnya gan
ambil positifnya :)

"Refleksi" Terima Kasih Malaysia
(Copy dr: BhMordan, Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Timur)

Terima kasih Malaysia telah mengajari kami menghargai budaya bangsa kami sendiri (batik, reog ponorogo, rasa sayange) apabila tanpa pengakuan kalian Negara kami tidak akan pernah menghargai budaya sendiri karena pemudanya disibukkan dengan kebanggan budaya luar.


... Terima kasih Malaysia telah menyediakan ribuan lapangan pekerjaan (TKI) disaat kami tidak bisa menyediakan lapangan kerja yang layak bagi saudara-saudara kami (perlakukan mreka dengan lebih layak yah)


Terima kasih Malaysia telah memberikan tontonan yang mendidik bagi anak-anak kami (upin-ipin) disaat TV kami sibuk memberikan tontonan yang tidak layak. (Sinetron tak jelas)


Terima kasih Malaysia karena telah memberi kami pelajaran arti sebuah sejengkal tanah Negara kesatuan (daerah perbatasan, sipadan ligitan) Mungkin tanpa kalian pemerintah kami tidak akan pernah memperhatikan nasib-nasib daerah perbatasan dan saudara kami di perbatasan.


Terima Kasih Malysia telah memberikan kami pelajaran arti sebuah kegagalan, arti tidak meremehkan lawan, menerima kekalahan dengan sportif, mengakui kemenangan lawan dengan jantan, arti sebenarnya sebuah pertandingan (AFF & seagames)walaupun harus dibayar mahal dengan korban nyawa (turut berbela sungkawa).


Kita terlalu bangga dengan anggapan bahwa Malaysia dulunya belajar dari Indonesia, Tapi jaman sudah berubah Pak Guru yang Cuma tamatan SPG/Sekolah Pendidikan Guru (Indonesia) memiliki murid (Malaysia) 30 puluh tahun yang lalu, sekarang Pak guru masih menjadi Seorang Guru yang mulia tetap dengan pendidikan SPGnya dan sang murid telah meraih gelar Doctornya. Kita seharusnya banyak belajar dari Malaysia



"Tambahan dariku: Terima kasih Malaysia, karena saat semuanya hanya peduli dengan kepentingan masing-masing. Rasa nasionalis kami kembali tinggi saat Indonesia diusik oleh Malaysia

Selasa, 18 Oktober 2011

say hello lagi :D


Sedikit curhat atau share sama blog walking deh, lama ngga ngeblog lagi. Maap yaaa :D

Maklum, namanya juga anak kos, hemat laah buat ke warnet mahal, dan handphonenya ngga naik pangkat, ngga bisa buat ngeblog deh :’(

Lanjut gan....

Hal yang masih terngiang dalam otakku, masalah tentang penilaian temen­temen terhadapku. Dulu, ketika aku duduk di bangku kelas XII (sebelas) atau sebut saja kelas 2 (dua) SMA, waktu itu ada pelajaran BK (Bimbingan Konserling), tau lah BK itu ngapain aja. Nah, ini dia! Saat pelajaran BK ini aku dan temen­temen disuruh membuat semacam penilaian terhadap teman­teman di kelas. Penilaian tersebut berisi kelebihan dan kekurangan. Saya sebagai salah satu peserta yang mengikuti penilaian tersebut sebenarnya heran dengan apa yang dituliskan oleh teman­teman dalam kertas yang bertuliskan namaku. Jika dibulatkan hasilnya sebagai berikut;

Kelemahan:
1)      65% pendiam
2)      5% ngantukan (mungkin melihat wajah gua temen­temen langsung bisa menilai begini)
3)      20% panikan (nyadar deh...*kemudian hening*)
4)      10% pelupa (tapi ngga mungkin aku melupakanmu :* #eaaa )

Kelebihan:
1)      50% pendiam
2)      5% ngga pelit (kok sedikit banget ya...)
3)      15% rajin (secara yah gua duduk di depan guru terus ­_­)
4)      5% berwibawa (saya kira ini efek ekskul pram***, hehe)
5)      10% dewasa (entah pandangan mereka macam apakah, gua juga kagak ngerti ­_­)
6)      5%nya lagi apa yah? RAHASIA :p

KESIMPULANNYA! #jengjengjengjeeeng

Berasa ada yang rancu ngga sih? Jelas tertera diantara baris kelemahan dan kelebihan yang teman­teman nilai dari diri saya. Satu kata, pendiam. Selain heran karena kenapa saya disebut pendiam, heran juga itu sebenernya temen­temen bisa mengklasifikasi atau tidak sih, sebenernya pendiam itu kelemahan atau kelebihan to, pengen tanya ke guru bahasa Indonesia deh ­­”
Namanya pendapat ngga ada yang salah ko :)
Mungkin menurut sudut pandang teman sekelas saya memang begitu, it’s okay :)
Walau saya merasa itu bukan saya, karena saya selalu berusaha untuk tidak menjadi pendiam, tapi pada tau ngga sih apa yang saya rasakan? Susah, ya, sulit...
Tapi banyak sisi lain yang temen­temen ngga tau da ngga bakal tau, because no body know me :)
Di sisi lain itu, aku terkenal periang, cerewet, ngga bisa diem, dan lain sebagainya (pengaruh lokasi dan teman­teman juga sih) itu lah aku di sudut lain; IKSAPALA. 
Lantas, yang benar aku tuh cerewet atau pendiem? Cari tau aja sendiri :D

Memang hanya Tuhan yang tau,


Sedih, senang, bimbang, maupun riang...
Aku yang termenung di depan layar komputer, membuka jejaring sosial dengan status:
“alhamdulillah masih bisa tersenyum”
tapi siapa yang tau kalau ternyata disaat itu juga dan di depan layar itu pula mataku berkaca­kaca? Tentu bukan kamu, dia, atau mereka yang sedang berada di satu situs yang sama.
Terus siapa? Dan kenapa mereka tak mengetahuinya? kenapa tak ada yang merasakannya?
Ah iya, aku lupa ini dunia maya
Dunia tanpa tau apa yang aku rasa

Kemudian aku pergi ke dunia nyata,
“katanya” dunia yang jauh berbeda dengan dunia maya

Ah, ternyata sama saja
lebih­lebih menyakitkan dari dunia maya
mereka yang jelaas­jelas di depan mataku
mereka yang jelas­jelas ada di sampingku
dan mereka yang memelukku erat pun tak bisa merasakan apa yang aku rasa
apakah karena Tuhan meletakan hati ini terlalu dalam?
Sepertinya begitu...

Aku kembali ke dunia mayaku, karena disini aku merasa lebih baik
Walau berbicara sendiri di dinding
Walau tertawa sendiri
Walau menangis sendiri
Walau harus berbohong mengatakan bahwa aku baik­baik saja, namun setidaknya itu sebuah do’a supaya kelak lekas membaik^^

Namun aku masih belum mengerti, kenapa di ciptakan dunia yang begitu berbeda?
Hanya Tuhan yang tau :)

Jumat, 30 September 2011

Karena Ijin Allah


Ya Allah
Bila ditanya siapa yang paling hamba sayang?
Jawabnya adalah, Engkau
Bila ditanya siapa yang paling hamba rindu?
 Jawabnya adalah, Engkau

Namun ya Allah
Ijinkanlah setetes rasa sayang hamba ini
Hamba berikan kepadanya
Ijinkanlah sebutir rasa rindu hamba ini
Hamba berikan kepadanya

Ya Allah
Hamba mencintainya karena­Mu

Yogyakarta, 30 September 2011
Anggia Zainur Rahmah