iseng mengisi hari libur, laper, bingung deh mau makan apaan.
hemm, sebenernya waktu itu pengen buat masakan Jepang, tapi berhubung bahan baku susah, mahal pula. pikir dua kali deh. and anytime, aku sempet buka-buka tuh, googling makanan gitu. Eh, nemu deh resep praktis buat pizza
gini ceritanya...
*Buat adonan
aku iseng-iseng bikin adonan pizza dengan mencampur-campur bahan seadanya di rumah. Hanya memakai sedikit bahan seperti tepung, air, garam, gula, minyak, dan rempah-rempah yang ada kemaren cuma pakai merica (lho??). terus, bahan-bahan tersebut dicampur bersama-sama, harusnya sih diremas dan ditangani secara benar. tapi berhubung aku nggak tau gimana caranya, ya begini lah. aku buat apa isengnya ^^
*Saus
dalam membuat saus, sebenarnya bisa pake saus bologness. tapi nggak ada di rumah, mahal pula. aku pakai deh itu saus *sensor* extra pedas, haha
*topping
Pilih topping yang sesuai selera dan kebutuhan. For example: beef, sosis, seafood, atau sayur-sayuran seperti paprika. Tapi, berhubung susah ya cari bahan-bahan begituan, aku beli deh sosis *sensor* yang harganya Rp 1000,-
HAHA, ga kebayang kan gimana rasanya? walau pakai bahan-bahan gila dan super duper apa adanya, di jamin irit deh. Tapi, menurtku enak-enak aja kok. Kan buatnya pake cinta, wakakak
selamat mencoba (jangan kayak resep yang aku buat yaa^^)
Sesaat ketika gadis yang kini telah tumbuh dewasa ini mulai jauh dari rasa bersyukur akibat broken home. Ia mulai mencoba mengingat kembali masa dua belas tahun silam, saat gadis yang dulunya kecil ini mulai belajar mengenal ramadhan dan puasa. Namanya, Aya, seperti halnya anak-anak umur lima tahunan wajar saja kalau puasa rasanya masih ganjil.
“Namanya juga anak-anak”, ujar Ibu yang membelaku saat dimarahi Bapak.
Malam harinya, tibalah waktunya Aya untuk mengenal tarawih, dan Mama mengajak Aya menuju Masjid dekat rumahnya yang waktu itu masih berada di komplek perumahan GL. Dengan menggunakan mukenah baru yang Papa belikan, menambah semangatnya untuk pergi ke Masjid sembari pamer ke teman-teman. Setelah itu pintu rumah dikunci, karena Papa tak pulang.
Setiba di Masjid, Aya menaruh sandal kecilnya di sembarang tempat. Bertumpuk dengan sandal-sandal besar yang lain. Aya pun khawatir dengan keadaan sandal kecilnya itu. Setelah adzan sholat Isya dikumandangkan, dan Aya pun mulai mengikuti setiap gerak gerik yang iman dan orang-orang itu lakukan. Sembari sesekali Ia lihat kebelakang, melihat tumpukan sandal-sandal itu. Akhirnya tarawih pun dimulai, Aya masih aktif mengikuti gerak-gerik iman dan orang sekitarnya. Walaupun sesekali menengok kebelakang karena khawatir dan cemas dengan nasib sandal kecilnya itu. Rokaat, demi rokaat terus berlanjut. Tiba-tiba, Aya melihat seorang anak kecil sebayanya memakai sandal yang mirip sekali dengan miliknya, Aya curiga! Aya merengek, Aya mengadu pada Mama yang sedang sholat. Namun tak direspon, lalu Aya pun menangis tapi tangisannya juga tak direspon. Setelah salam Mama baru merespon, betapa kesalnya dia.
“kenapa nak? Jangan menangis, malu sama yang lain”, respon Mama setelah mendengarku menangis.
“lagian mama daritadi nggak dengerin! Kenapa sih mama diem aja?”, jawabnya dengan emosi sambil menangis tersedu-sedu.
“iya nak, kalau lagi sholat itu harus khusu, jangan menoleh kanan kiri, pusat pikiran mama juga lagi menghadap Alloh, apalagi ini sholat tarawih yang hanya ada pada bulan ramadhan, jadi kesempatannya sangat langka sayang”, jawab Mama sambil tersenyum.
“oh, tapi kan bisa sebentar mah, bantuin Aya ngambil kembali sandalnya Aya itu”, sambungnya dengan kata-kata polos.
“tetap tidak boleh, biarlah dia ambil sandal kamu mungkin belum rezekinya ya sayang, kamu harus berlatih sabar dan sholat yang khusu, biar Alloh tambah sayang sama Aya, okey?” ujar Mama memberi nasihat.
“emmm, okelah mah”, jawabnya menyetujui.
***
Pagi harinya kala mentari belum terbit, mata kecil itu sudah terbuka penuh semangat untuk merasakan yang namanya ‘sahur’. Saat itu di meja makan terdengar beberapa patah kata dari Aya dan Mamanya
“mah, kapan Papa pulang? Aya pengen sahur bareng Papa!”, tanya Aya serentak makan nasi seadanya.
“iya nak, besok bapak pasti pulang kalau kamu bisa puasa genap satu hari”, jawab Mama sembari memberinya semangat.
“benar mah? Oke Aya bakal puasa satu hari penuh!”
Selalu dan selalu penuh puasaku demi bertemu Papa yang selalu Mama janjikan. Tapi hari demi hari belum juga datang, hingga suatu hari…….
“mah, Papa udah ngga sayang lagi ya sama Aya? Kenapa Papa ngga pernah pulang? Padahal Aya liat tiap kali kita mau berangkat tarawih, Papanya Mia juga selalu ikut buka bersama keluarganya. Aya iri, mah!”, ucapnya dengan muka muram.
“hush, Aya nggak boleh bilang gitu, Papa pasti sayang sama Aya, tapi Papa sekarang harus kerja buat beli baju lebaran. Besok Papa pasti pulang kok, tunggu kamu puasa genap satu bulan. Yang sabar ya nak!”, ucap Mama menutup-nutupi ketidak hadiran Papa.
Tiap kali Aya lapar, dia tahan demi bertemu Papa. Terkadang berharap lupa kalau hari ini aku puasa, karena kata Mama hal itu dimaafkan oleh Allah jika benar-benar lupa, sayangnya ia selalu ingat. Merengek, menangis, dan menjerit kelaparan saat hampir buka puasa, tapi tetap saja tak mau jika puasanya berhenti.
***
Sampai tiba malam hari raya, dan ternyata puasanya benar genap satu bulan. Aya menepati perjanjian dengan Mamanya, kini waktunya menanti harapan yang selalu Ia impikan yaitu hari raya bersama keluarga, Papa dan Mama.
Dia tunggu terus menunggu, dan waktu sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Suara gemuruh takbir hari kemenangan sudah dikumandangkan. Namun Papa belum kunjung datang, dan gadis kecil itu mulai cemas. Sudah hampir jatuh air matanya,
Tiba-tiba…
Tok, tok, tok…
“assalamu’laikum”, terdengar suara laki-laki dari luar rumah.
“pasti itu Papa! Aya yang bukain pintu ya, Mah!” teriakan Aya dengan semangat sembari menghapus air mata yang terlanjur mengalir dipipi karena telah lama menanti Papa pulang.
Ketika tangan kecilnya mencoba membuka pintu sembari berdo’a berharap bahwa yang ada dibalik pintu itu benar Papa. Setelah ku bukakan pintu itu….
Alhamdulillah, Papa benar pulang, dan Mama tak berbohong. Aya senang puasanya tak berakhir sia-sia. Papa dan Mama pun bangga padanya. Hingga akhirnya hari raya benar-benar bersama keluarga yang sangat jarang Ia temui.
“Alhamdulillh ya Allah, engkau memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, engkau memberikan Aya hadiah terbaik di hari yang fitri ini. subhanallah”, ucapku dalam hati sambil memeluk Papa dan Mama.
Mengingat hal itu, Ia amat bersyukur dan selalu menanti ramadhan tiba. Walau keharmonisan sudah tak pernah kunjung dikehidupannya, namun ramadhan mengubahnya. Hari terindah dan paling spesial yang Ia miliki, hari berkumpul keluarga yang sangat sangat teramat jarang Ia temui, adalah ramadhan. Terimakasih ya Allah :)
Lagu yang ingin ku nyanyikan
Terkenang semua kenangan
Yang t’lah ku alami
Ingin ku buka lembar baru
Untuk meneruskan hidupku
Tak mau lagi kesedihan
S’limuti diriku
Semua orang ingin bahagia
Menjalani hidup di dunia ini
Ingin ku bukakan jawaban
Misteri kesenangan sejati
Hari ini ku dendangkan
Lagu yang ingin ku nyanyikan
Terkenang semua kenangan
Yang t’lah ku alami
Menari dan terus bernyanyi
Mengikuti irama sang mentari
Tertawa dan s’lalu ceria
Berikanku arti hidup ini
Menari dan terus bernyanyi
Mengikuti irama sang mentari
Tertawa dan s’lalu ceria
Berikanku arti hidup ini
Menari dan terus bernyanyi
Mengikuti irama sang mentari
Tertawa dan s’lalu ceria
Berikanku arti hidup ini
Alhamdulillah ortu ngasih nama aku dengan unsur “Rahmah” yang berarti kasih sayang. Mereka pasti berharap kalau aku akan menjadi anak yang penuh kasih sayang, anak yang baik dan menyayangi sesama (amiiiinn ^^). Kemudian “Zainur” yang dalam bahasa Arab “Zain” artinya bunga, dan “Nur” berarti cahaya jadi Zainur yaitu bunga cahaya dalam tafsiran saya mereka berharap kalau saya bisa menjadi seorang anak yang memberikan keindahan dan mencerahkan kehidupan bangsa dan ikut serta membangun masyarakat (dalam UUD ada nih, hehe^^).
Kemudian nama depan/nama pangglan saya sendiri pada awalnya bukan Anggia, aneh emang, waktu mama dan lilik cerita tentang rencana nama saya ini, saya benar2 terkejut terbahak dan tertawa hahaha :P kalian tau? Sebenarnya dari artinya bagus sih, “Siti” yaitu tanah. Tapi terlalu banyak nama Siti, lilikku juga ada yang namanya Siti, tetanggaku banyak yang namanya Siti, haduh mamaku pun kasian kalo aku dinamai Siti, hohoho. Bersyukur karena aku diberi nama Anggia, yang ntah artinya apa, tapi bagiku artinya pedoman dan keberuntungan (amiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnn^^).
Kesimpulannya orang tua dan orang sekelilingku berharap dikelak nanti (mulai sekarang), aku bisa menjadi anak yang sholihah, anak yang berbakti pada ortu, anak yang penyayang, bisa menjadi pedoman bagi adik2ku, bisa menegur adikku, menasihati adikku, dan bisa menjadi tulang punggung keluarga karena aku anak pertama^^
“Ya Alloh ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil” begitulah lantunan do’a seorang anak yang memohon kepada Tuhannya agar diampuni dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya dan berharap Alloh akan menyayangi orangtuanya sebagai mana orangtuanya menyayangi dia sejak kecil….
Dan aku, seorang anak yang hanya bisa berdoa, pasrah kepada Alloh, dan berharap semua doaku terkabul, amin ya Robbal’alaim
Lama tak jumpa, lama tak update, dan lama tak isi isi ini blog, tak pernah curhat lagi, huhuhuuu:(
Maklum lah yaa, nggak punya modem di rumah, nggak ada duit buat ke warnet, sibuk sama les juga sayaaaanggs T_T
Tengs yang udah mau komen, yang udah mau mampir2 sejenak minum kopi (hihihi^^)
Blog ini untuk umum kok, komen apa aja boleh asal tidak berbau negatif^^
Mau copy paste juga boleh, tapi jangan disalah gunakan yaa
Oh iyaa, bentar lagi romadhan, berbanyak ibadah dan mendekatkan diri pada Alloh ya teman2, tapi juga jangan Cuma waktu bulan Romadhan doank yaa. Semua bulan adalah bulan yang suci penuh rahmat yang di berikan oleh Alloh SWT buat kita SEMUA yang BERSAUDARA :D :D :D
Cukup itu aja deh pesan aku, ini aku juga Cuma mampir bentar pas ngenet, hihihiii