Selasa, 09 Maret 2010
anggiazainurtugas sekolah
Jumat, 29 Januari 2010
anggiazainurpikiranku
hanya pikiran anak-anak
tragis !
denger berita lewat tv. aku cuman bisa geleng kepala ma ngelus dada.. heran gue
lu kira jadi presiden ntu gampang apa? huh!! bisanya demo ! demo ! dan demo !
bakar tu semua foto pak SBY !
apa gunanya sih mbakar2 kayak gitu?? lu kira kertas tu gag mbayar apa?? mbakar kertas sama aja dengan mbakar hutan! shit*
mbakar hutan sama aja bikin kiamat di bumi ini..
apa2an?? penting apa demo? didengerin juga nggak ! panas2 kayak gito! capek ! mending lakuin hal yang lebih penting.. mikir !!
bukannya gue mihak sama suatu pihak.. tapi gue cuman heran sama warga Indonesia ini. bisanya DEMO ! dan MENJELEK-JELEKAN pihak yang tidak disukainya .. ngaca dong ! apa prilaku kalian udah bener? baru boleh komentar! tapi yang sehat! bukan pake demo!!
punya malu gag seh??
di liput sama negara lain ! di sana kita di ejek.. dicaci maki.. apa2an?? bangga kayak gitu?!
kalo gue jadi pak SBY, gue bakal bilang
"silahkan kalian menggantikan posisi saya!"
biar lu rasain gimana susahnya jadi presiden.. biar lu pada msuk RSJ dan dirawat intensif si situ.. biar gag demo lagi.. *damn!
boro2 jadi presiden..
jadi kepala keluarga aja susah!
apa lagi presiden yang ngurusin sekian juta kepala keluarga ! kebayang gak?? mikir !
nb: ini hanya pikiran anak2, apabila ada yang terkait jangan di masukan ke hati. aku cuman pengen negara ini aman dan damai. tanpa ada pertumpahan darah.. tanpa ada kobaran api yang membakar bumi ini..
apalagi sampe buat onarr dan nyampe2 demo gara2 gue.. silahkan!
denger berita lewat tv. aku cuman bisa geleng kepala ma ngelus dada.. heran gue
lu kira jadi presiden ntu gampang apa? huh!! bisanya demo ! demo ! dan demo !
bakar tu semua foto pak SBY !
apa gunanya sih mbakar2 kayak gitu?? lu kira kertas tu gag mbayar apa?? mbakar kertas sama aja dengan mbakar hutan! shit*
mbakar hutan sama aja bikin kiamat di bumi ini..
apa2an?? penting apa demo? didengerin juga nggak ! panas2 kayak gito! capek ! mending lakuin hal yang lebih penting.. mikir !!
bukannya gue mihak sama suatu pihak.. tapi gue cuman heran sama warga Indonesia ini. bisanya DEMO ! dan MENJELEK-JELEKAN pihak yang tidak disukainya .. ngaca dong ! apa prilaku kalian udah bener? baru boleh komentar! tapi yang sehat! bukan pake demo!!
punya malu gag seh??
di liput sama negara lain ! di sana kita di ejek.. dicaci maki.. apa2an?? bangga kayak gitu?!
kalo gue jadi pak SBY, gue bakal bilang
"silahkan kalian menggantikan posisi saya!"
biar lu rasain gimana susahnya jadi presiden.. biar lu pada msuk RSJ dan dirawat intensif si situ.. biar gag demo lagi.. *damn!
boro2 jadi presiden..
jadi kepala keluarga aja susah!
apa lagi presiden yang ngurusin sekian juta kepala keluarga ! kebayang gak?? mikir !
nb: ini hanya pikiran anak2, apabila ada yang terkait jangan di masukan ke hati. aku cuman pengen negara ini aman dan damai. tanpa ada pertumpahan darah.. tanpa ada kobaran api yang membakar bumi ini..
apalagi sampe buat onarr dan nyampe2 demo gara2 gue.. silahkan!
Minggu, 24 Januari 2010
anggiazainurSoe Hok Gie
masih tentang SHG
Apa hubungan antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru?
Dan apa yang berkaitan antara keduanya?
Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya?
Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut
Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m.
Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut :
Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut :
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya :
“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :
Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.
Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.
Soe Hok Gie telah menjadi salah satu Dewa yang memuncaki Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa
Sabtu, 23 Januari 2010
anggiazainurSoe Hok Gie
sedikit mengenal SHG
Soe Hok-gie: Kisah Lelaki dari Kebon JerukJakarta , KCM Timur Angin/dok Miles production Saatnya bangsa ini untuk diingatkan, bahwa negeri ini pernah memiliki SoeHok-gie. Aktivis muda yang memilih diasingkan, ketimbang menjadi manusiamunafik. Ia memang pantas diidolakan karena kegigihannya dalam bersikap danmenuntun dirinya untuk jujur pada nilai-nilai yang diyakininya. Inilahsaatnya, generasi muda dikenalkan pada sosoknya agar mau belajar padanya.Bukan kepada mereka yang melacurkan dirinya pada kekuasaan, jabatan dankemewahan. Di tangan sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana, usaha itu dicobadirintis. Lewat film berbeaya Rp. 7 miliar itu, kedua sinaes muda inimenghadirkan kepada masyarakat Tanah Air, sebuah interpretasinya terhadapsosok Gie. Kalaupun banyak hal tak sesuai dengan apa yang dibayangkanorang-orang, terutama yang pernah dekat dengannya, toh kata Mira, itukarena film ini merupakan sebuah interpretasi Riri terhadap Gie. Bukan filmdokumenter ataupun film biografi! Cukup repot menggali informasi seputar kehidupan Gie. Apalagi yangmenyangkut kehidupan pribadinya. Riri bahkan harus pergi ke luar negeriuntuk menemui perempuan yang pernah dekat dengan Gie. Meski kisahnya bisadidapat, tak sedikit nara sumber yang keberatan untuk disebutkan namanyadalam film Riri tersebut. Banyak tokoh fiktif yang dihadirkan. Kata Mira, itu menjadi referensi darisejumlah tokoh yang pernah dekat dengan Gie, termasuk tokoh Ira (SitaNursanti, mantan tri vokal RSD) dan Sinta (Wulan Guritno), juga Jaka (DoniAlamsyah). Kalau pun ada tokoh nyata dalam film ini, mereka tak lain adalah keduaorang tua Gie, Soe Li Pet (Robby Tumewu) dan ibunya Nio (Tuti Kirana) danabangnya Soe Hok-djin yang mengganti namanya menjadi Arief Budiman (GinoKorompis). Sementara, sahabat-sahabatnya yang muncul hanyalah HermanLantang (Lukman Sardi) dan Aristides Katoppo (Surya Saputra). Informasi yang didapat tentang Soe Hok-gie cukuplah menambah bahan. Meskipada akhirnya, Riri juga melakukan pijakan skenarionya pada desertasidoktoral pria kebangsaan Australia , John Maxwell, Soe Hok-gie, PergulatanIntelektual Muda Melawan Tirani. Timur Angin/dok Miles production Dari sini lah, ia kemudian menyuguhkan film berdurasi 2 jam, 27 menit itu.Pidato Presiden RI Pertama Soekarno, mengawali rangkaian film Gie. Suarayang menggelegar seakan menandai periode waktu film itu berlangsung. Ya,inilah masa ketika bangsa ini memasuki babak kehidupan politik yangbergelora. Soe Hok-Gie remaja, yang diperankan Jonathan Mulia, menjadi saksi akan halitu. Tokoh-tokoh besar dunia, semacam Gandhi, Kennedy dan Soekarno, menjadisosok yang diidolakannya. Meski kenyataan ia akhirnya memilih menentangSoekarno. Namun dari Soekarno lah, ia belajar melawan tirani dan ketidakadilan. Gieremaja memperlihatkan gelagat itu. Ia menjadi "pembangkang" ketika masihduduk di SMP. Sang guru tak segan-segan dikritiknya. Lantaran sikapnyaitulah, nilai ulangan ilmu buminya dikurangi sang guru. Ia dipanggil kepalasekolah agar meminta maaf pada sang guru. Tapi Gie menolaknya. Dalam Catatan Harian Soe Hok-gie, ia menuliskan kekesalannya itu. "4 Maret1957. Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan ilmu bumiku8 tapi dikurangi 3 jadi tinggal 5..." Tak terima dengan perlakuan itu, bersama karibnya Han (Christian Audy), iamalah berniat menghajar sang guru. Selepas mengajar, mereka membuntutinya,hingga akhirnya luluh juga hati Gie, ketika Pak Guru bercengkrama dengansang anak dan menggendongnya ke sebuah gubuk. Inilah sifat luhur seorang Gie, ia cepat tersentuh rasa kemanusiannyaketika melihat sebuah ketidakberdayaan. Gie bahkan rela bersitegang denganorangtuanya demi menyelamatkan Han dari tantenya, yang suka memukulinya.Oleh Gie, Han dianjurkan untuk menginap di rumahnya. Tapi, ibu Giemelarangnya. Sejurus kemudian, Tante Han bersama dua orang hansip datang menjemputnya.Di hadapan Gie, Han diseret dan dipukuli. Ia pun berontak dan berusahamenyelamatkan Han. Tapi gagal. Cerita lain terjadi pada sebuah siang. Ketika Gie memasuki bangkukuliah--Gie, kali ini diperankan Nicholas Saputra. Ia melihat seorang priatampak begitu kelaparan. Ia bukan pengemis, tapi karena tak punya uanguntuk bisa dibelanjakan, si pria memungut mangga dari sampah untukdimakannya. Gie dibuat kaget. Ia hampiri dan memberinya uang. "...Inilah salah satu gejala yang mulai tampak di ibu kota. Dan keberikanRp2,50 dari uangku... Ya, dua kilometer dari pemakan kulit, "paduka" kitamungkin lagi ketawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik.Dan kalau melihat gejala pemakan kulit itu, alangkah bangga hatiku. "Kita,generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau.Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptortua, seperti Iskak, Djodi, Dahjar dan Ibnu Sutowo. Kita lah yang dijadikangenerasi yang akan memakmurkan Indonesia." catatan Soe Hok-gie inilah yangsalah satunya dijadikan pengantar cerita lewat suara Nicholas Saputra. Menyajikan film Soe Hok-gie tentu saja merupakan sebuah kerja besar yangtak bisa dianggap enteng. Usaha para sineas ini patutlah diacungi jempol.Setidaknya, karya mereka bukanlah film ecek-ecek yang kini banyakbermunculan di layar sinema kita. Iri Supit, sang penata artistik, mampu menghadirkan suasana Jakarta ditahun 60-an. Ini jelas bukan pekerjaan gampang. Sejumlah pernak-pernik yangdihadirkan sudah tentu harus mewakili zamannya. Lihatlah sepeda danmobil-mobil zaman baheula berseliweran di layar Gie dan mampu menghidupkansuasana kala itu. Mengenai Jakarta yang kini sudah banyak berubah, para pekerja film iniakhirnya sepakat menjadikan kota Semarang sebagai lokasi syuting. Di sana lah setidaknya, suasana tempo doeloe masih terasa begitu tampak.Beruntung, suasa Jalan Kebon Jeruk IX, Jakarta Barat, tempat Gie bermukimbersama orangtuanya dulu, berhasil ditemukan di sana, tepatnya di JalanLayur. Mirip suasana Kebon Jeruk tahun 50-an, Jalan Layur dipenuhi tukangbecak, pedagang dan sebuah masjid. Timur Angin/dok Miles production Menyaksikan Soe Hok-gie, berarti menyaksikan sebuah keteguhan dalammelakoni prinsip-prinsip yang diyakininya benar. Ia sempat menjadikanSoekarno sebagai idolanya, namun ia jugalah yang turut menggulingkankeperkasaan Soekarno sebagai penguasa Orde Lama. Gie, adalah seorang yang selalu dipenuhi kegelisahan. Suara-suarakegelisahan itu lah yang dicurahkannya lewat tulisan-tulisan yang cukuptajam. Semua dibabat habis, baik militer, rekan-rekan aktivis kampus yangtelah lupa pada perjuangan awalnya, hingga kampusnya sendiri. "Inilah akhirbagi Gie, ketika ia mengkritik kampusnya sendiri. Dia seperti tak punyarumah lagi," kata Riri. Kehidupan pribadi Gie, menjadi bagian yang menarik. Sosok Ira dan Sinta,setidaknya mewakili perempuan-perempuan yang dekat dengan Gie, semasahidupnya. Meski Sinta telah membuatnya bergelora, namun sepertinya cintamatinya hanya untuk Ira, sahabat dekatnya. Adegan yang menghadirkan pelacur bernama Sinta (Happy Salma), menjadibagian yang menggelikan. Namun, ini menjadi penting dalam menghadirkankarakter Gie. Ia digerayangi, tapi Gie justru tak tergiur dan pergi.Alih-alih, ia justru sempat ngambek pada rekannya Denny (Indra Birowo)yang telah menjebaknya. Takdir telah ditentukan padanya. Gie mati muda di pangkuan sahabatnyaHerman Lantang, ketika ia mendaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa.Sebuah akhir yang tragis. Namun, Riri sengaja tak memunculkan adegan itusebagai penghujung cerita. Ia justru menghadirkan senyum dan kebahagianRiri bersama sahabatnya Han, saat bermain di pantai. Ya, sebuah tempat yang dicita-citakan Han semasa hidupnya. Dan, hal itujustru terkabul ketika ia mengakhiri hidupnya. Ia dieksekusi tentara disebuah pantai di Bali, karena menjadi anggota aktivis Partai PKI. Menghadirkan Gie kembali dalam benak masyarakat saat ini, memang terasaperlu. Terlebih, ketika negeri ini telah kehilangan panutan dancecurut-cecurut asyik menggerayangi aset-aset negara. Sosok-sosok Gie lahyang bisa menjadi jawabanya. "Kita, generasi kita, ditugaskan untukmemberantas generasi tua yang mengacau..."Kamis, 03 Desember 2009
anggiazainurpenting
Tips menyelamatkan alam
nemu dari sumber,,,,
ada 12 tips penting buat menyelamatkan alam kita ini temand ! x)
1.Pisahkan sampah organik dan sampah anorganik.
ada 12 tips penting buat menyelamatkan alam kita ini temand ! x)
1.Pisahkan sampah organik dan sampah anorganik.
Biasakanlah memilah-milah sampah anorganik dan organik di mana saja untuk memudahkan pengelolaan sampah tersebut. :D
2. Kurangi penggunaan bahan anorganik.
Biasakanlah bawa kantong belanja sendiri, kurangi beli barang dalam satuan kecil contohnya sachet sampo, detergen, dan lain-lain.
3. Dukunglah petani lokal
Dengan membeli buah-buahan, sayur-sayuran, daging, dan susu dari petani lokal yang dekat dari rumah kita, maka kita menghemat bahan bakar dari truk yang membawa produk pertanian itu samapai ke rumah kita.
4. Hemat dalam penggunaan kertas.
Biasakanlah menggunakan kertas di kedua sisi.
5. Hemat dalam penggunaan air dan BBM.
Bahan bakar minyak suatu saat akan habis dari bumi ini dan sejauh ini pengembangan sumber energi alternatif masih dalam taraf percobaan.
6. Hemat dalam penggunaan listrik.
Biasakanlah meminimalkan penggunaan listrik dari jam 5 sore sampai 10 malam, karena itu waktu beban penggunaan listrik. Sebagian besar energi listrik di Indonesia diperoleh dari BBM, jadi hemat listrik = hemat BBM
7. Jadilah pelopor lingkungan.
Dunia sedang terancam oleh pemanasan global dan perubahan iklim yang sangat cepat. Untuk mencegahnya, kita tidak perlu menunggu orang lain untuk bergerak, tapi kita bisa mulai dari diri kita.
8. Bergabunglah dengan organisasi lingkungan.
Bargabunglah dalam organisasi lingkungan pasti menyenangkan. Anda bisa menyelamatkan dunia.
9. Jangan memelihara, memburu, atau mengonsumsi hewan langka.
Punahnya satu spesies akan memiliki pengaruh berantai yang akhirnya dapat memutuskan siklus kehidupan dan memberikan dampak serius pada keseluruhan ekosistem. :v
10. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi di selokan dan sungai.
Biasakanlah hidup teratur. Buang sampah di sembarang tempat pada akhirnya akan mengalir ke selokan, selanjutnya ke sungai dan berakhir di laut. Laut bukan tempat buang sampah. Anda sudah mengetahui dampaknya bukan?
11. Jangan memilih kendaraan yang boros dan tidak ramah lingkungan.
Biasakanlah bersepeda atau berjalan kaki jika jarak ke tempat tujuan kurang dari 1 Kilometer.
12. Masing-masing dari kita memelihara setidaknya satu pohon.
Kita bernapas menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, sebaliknya pohon dalam fotosintesis menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Biar impas minimal kita tanam dan rawat satu pohon. :D
Langganan:
Postingan (Atom)


